
Baku tembak terdengar di halaman depan, segerombolan orang bertopeng dan berbaju hitam memasuki halaman depan rumah. Sementara tetangga yang ada di kiri dan samping rumah bewarna Maron itu, tidak bisa berbuat banyak mereka tidak bisa untuk menolong karena mereka yang lagi berdiri di gerbang rumah Alma mengunakan senjata api otomatis.
Baku tembak terjadi, asisten Hamdan yang ditugaskan berdiri dan menjaga pintu gerbang harus mendapatkan kekalahan. Damar sang Asisten bertubuh kekar juga harus ambruk bersimbah darah.
Bi Ana dengan cepat menarik Alma dan membawanya pergi, sementara itu orang-orang bertopeng telah mulai masuk kedalam rumah.
Bi Ana dengan secepat kilat menarik tangan Alma yang tadi tengah berada di dalam kamarnya.
"Non, ayo kita pergi. Keadaan sangat tidak baik saat ini.!" Dengan bibir yang gemetar, asisten separuh baya itu menarik tangan Alma.
"Memang kita mau kemana Bi?"
"Cepatlah sayang, kita tidak punya waktu banyak. Nanti Bibi akan menjelaskan ayo!" Bi Ana semakin cepat menarik tangan nona mudanya itu.
Mereka berdua telah sampai pada arah dapur, tetapi perempuan berhati iblis itu mencegatnya di sana.
"Mau kemana, kau Bibi Tua membawa anak gadis kesayanganku." seringai jahat keluar dari bibir perempuan itu.
"Aku mohon nona jangan sakiti Alma lagi, biarkan kami pergi," ucap asisten itu dengan wajah memelas dan memohon.
"Pergilah Bibi Tua dan anak gadisku cantik..haha..aku akan memberi alamat pasti untuk kalian. Pergilah ke neraka..bersama dengan tuan baru pemilik rumah ini, aku telah mengirim nya juga ke alamat yang sama!"
"Ayo kita pergi sayang," Bi Ana berbisik pada Alma yang juga sangat takut dan gemetar.
"Hmm..hmm kemana? aku akan mengantar kalian dulu ke neraka. Penjaga bawa mereka berdua." Amira berteriak pada orang-orang bertopeng yang telah mulai masuk. Amira berusaha menahan langkah sang Asisten separuh baya itu. Namun sayang, walaupun tenaga Asisten separuh baya itu telah berkurang, ia mendorong tubuh Amira dengan sangat kuat hingga jatuh tersungkur dan dengan sigab asisten tua itu membawa Alma dengan cepat.
"Cepat kejar mereka!" Amira menyuruh orang bertopeng itu agar mengejar Alma dan Bi Ana.
Orang-orang itu kemudian mengejar Bi Ana, sementara itu Amira mulai memegang perutnya uang terasa sakit, darah mulai mengalir dari dari daerah paha hingga betis perempuan hamil itu.
Orang-orang bertopeng mengejar Bi Ana, entah bagaimana atau mungkin saja pertolongan Tuhan lewat tangan sang Asisten. Pintu pembatas antara ruang dapur dan ruangan tengah dengan cepat tertutup.
lewat tembok rahasia yang berada dibelakang kicthcen Set Bi Ana membawa Alma untuk masuk.
Sebelum masuk pada tembok rahasia, Bi Ana sengaja membuka pintu dapur, seakan-akan Bi Alma dan Bi Ana berlari kearah taman belakang.
"Diamlah sayang, jangan berisik. Minta doa pada Tuhan agar kita selamat," Bi Ana berbisik pada Nona kecilnya itu.
Alma terlihat sangat gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Ia mengangguk dan memeluk sang Asisten separuh baya itu.
Sementara itu di luar sana Orang-orang bertopeng telah sampai pada area dapur, mereka melihat pintu yang telah terbuka dengan lebar dan jejak sendal jepit Alam dan Bi Ana yang pergi meninggalkan daerah tamba belakang.
"Bisa kacau kalau begini, kita tidak mendapatkan apa-apa, geledah semua tempat. Ambil semua barang yang berharga. Perempuan sialan itu malah pingsan di ruangan tengah. Ayo sebelum polisi mendatangi tempat ini, kita telah pergi!"
"Baik, bos."
Sementara Alma meringis kesakitan, orang-orang bertopeng itu terlihat tidak peduli, mereka mengeledah semua tempat untuk mendapatkan barang berharga yang mereka jumpai.
Sejumlah perhiasan, uang tunai dan barang-barang mahal telah dimasukan kedalam sebuah kantong besar.
Mereka tidak peduli dengan darah yang banyak mengalir pada perempuan yang berhati Iblis itu. Mereka seakan tidak peduli. Ketika mereka telah siap mengondol barang yang telah penuh dalam sebuah karung. Terdengar sirene mobil polisi yang meraung-raung di halaman depan.
"Komplotan Geng Srigala Hitam, kami menunggu anda untuk menyerahkan diri!" Suara kapten polisi yang memakai pengeras suara sampai ke dalam rumah besar bewarna Maron itu.
"Bagaimana bos, kita telah terkepung," ucap anak buah geng Srigala Hitam.
"Kau diamlah. Apa kau mau menyerah dan masuk penjara?"
"Tentu tidak Bos, jadi kita harus bagaimana?"
"Kita akan keluar melalui pintu belakang, cepat jangan membuat gerakan yang tercium oleh polisi yang berdada di depan!" Bos Geng Srigala Hitam.
Sementara di luar dari perkaranggan, masyarakat mulai berdatangan, mereka ingin melihat bagaimana polisi menangkap komplotan Preman sadis yang sedang Viral namanya disebut dalam setiap kejahatan.
"Jika anda menolak untuk menuruti perintah yang kami berikan, kami akan menerobos masuk dengan paksa dan menyeret kalian semua untuk keluar," suara kapten polisi kembali terdengar.
"Ayo kalian semua, kepung daerah ini. Usahakan jangan ada yang terluka. Aku merasa nona kecil dan sang Asisten berada di dalam sana." Polisi memberikan perintah pada bawahannya.
"Baik kapten."
Anggota polisi kemudian dengan perlahan bergerak masuk, daerah itu telah dikepung bagian belakang, depan kiri dan kanan bahkan ada anggota polisi yang telah sampai merayap pada lantai atas rumah.
Terdengar letusan senjata beberapa kali, agaknya terjadi baku hantam senjata antara pihak kepolisian dan anggota Geng Srigala Hitam.
Masyarakat yang telah padat menutup badan jalan, membuat lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang sedikit macet.
Suara letusan terus terdengar, membuat aroma tubuh dan adrenalin berpacu pada saat itu juga.
Sedang gencarnya baku tembak antara polisi dan juga anak buah Geng Srigala Hitam, rombongan kru dari Hamdan tiba di lokasi kejadian.
Pria tampan itu terlihat begitu cemas, yang diperankan. Pria itu tidak cemas pada Amira yang juga ada di dalam melainkan pada Alma dan juga Asisten separuh baya.