I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Karakter Alma



"Uncle."


Suara Alma terdengar sangat keras dan nyaring. Membuat Alex memberhentikan aksinya, begitu juga dengan Nara memperbaiki rosleting blusnya yang terbuka.


Alex menatap Alma dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu tampak marah dan juga kesal.


"Sayang, kau belum tidur?" Sapa Alex memecah keheningan dan rasa tidak nyaman pada mereka bertiga.


"Aku sudah puas tidur Uncle, tapi tidurku sangat terganggu oleh suara tawa dan cekikan kalian berdua. Aku kira ini sudah larut, aku ingin Uncle segera mengantar Aunty ini pulang ke rumah!" Desis gadis belia itu dengan setenang mungkin.


Nara terlihat sangat marah, mereka berdua seakan sedikit lagi sampai pada permainan panasnya, tetapi tertunda karena Alma.


Bisa saja Alex marah, bisa saja membentak gadis yang telah dirawatnya itu sedari kecil. Tetapi entah kenapa sorot mata Alma yang begitu tajam dan suaranya yang terdengar sangat tegas membuat Alex terkesima. Ia menyadari kesalahannya dan mengajak Nara untuk pergi.


"Uncle pergi dulu kalau begitu," Ucapnya dengan lirih. Ia seperti seekor kerbau sekarang di cucuk hidungnya.


"Pergilah Uncle dan setelah sampai langsung pulang, ingat esok pagi-pagi sekali Uncle akan mengajariku kembali membawa mobil!"


"Baiklah sayang, Uncle pergi dulu!"


Alex dan Nara pergi meninggalkan rumah besar itu. Entah kenapa suara perintah yang tegas dan dan sorot mata yang seperti mengintimidasi Alex dari Alma membuatnya tidak berbuat banyak.


"Sayang, aku tidak menyangka ponakan mu begitu galak, dan kau sangat takut padanya!" Itu kata-kata yang keluar dari mulut Nara ketika mereka telah sampai pada dalam mobil.


"Iya tidak galak, hanya saja benar kita yang memang melakukan kesalahan.!"


"Mengapa mesti kita yang salah, bukankah kita sering melakukannya? ntar sampai di apartemen kita menyudahi yang tadi belum selesai ya!" Ucap Nara dengan nada sangat manja.


"Lain kali aja Nara, aku tidak bersemangat untuk saat ini." Ucap Alex dengan dingin.


"Tetapi besok pagi kau jadi kan untuk pergi bersamaku, membeli sepatu dan tas branded yang terbaru saat ini?" Ucap Nara mengingatkan.


"Kau dengarkan tadi Alma mengatakan apa? kami akan pergi bersama besok untuk mengajarinya menyetir. Kau pergilah aku akan menstanfer uang di ATM mu?" Ucap Alex datar.


"Kalau begitu baiklah." Ucap Nara dengan tersenyum. Ia tidak mempersalahkan Alex yang mendadak berubah dingin. Yang jelas ia akan mendapatkan pohon uang dari Alex tanpa harus sibuk bekerja banting tulang.


Alex langsung memutar mobil miliknya dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di rumah. Langit mulai tampak mendung dan angin berhembus sedikit kencang, pertanda hujan akan segera turun.


Pria itu teah sampai pada gerbang depan rumah, penjaga dengan tergopoh-gopoh membuka pintu pagar. Alex segera masuk ke dalam rumah. Benar saja hujan turun dengan sangat lebat, di sertai dengan petir yang menyambar.


Ia segera melangkahkan kaki pada lantai atas rumah, ia sangat mengetahui jika Alma sangat takut dengan gelap dan petir. Pasti gadis itu telah menyiapkan lampu untuk berjaga-jaga jika lampu akan mati, seperti biasa jika hujan lebat disertai petir.


Pernah suatu hari gadis kecil itu menangis di saat hujan lebat dan lampu PLN yang mati. Ia berada disudut ruangan kamar dan mengigil kedinginan. Alex datang membawa sinar handphone yang lumayan terang. Ia terjaga mendengar tangisan Alma dan lansung ke sana.


Benar saja, ia telah sampai pada lantai atas. Di mana lampu langsung padam. Gelap menyapa ruangan dengan cepat.


"Uncle," teriak Alma dengan histeris.


Sudah sangat lama Alma tidak lagi berteriak jika lampu mati, karena ia telah menjadi gadis yang sudah besar akan bisa menyiapkan lampu untuk serap setiap malam.


Pria yang masih mengenakan baju kaos dan celana kerjanya itu melangkah ke lantai atas rumah di iringi dengan lampu handphone yang menyala terang. Ia menghampiri kamar Alma dan membuka pintunya.


Benar saja, gadis cantik berambut panjang itu berada pada pojok ruangan dengan rambut yang acakan dan keringat yang membanjiri pelipis dan keningnya.


"Alex menghampirinya, Ini Uncle."


Alex memeluknya dengan erat. Ia membelai kepala Alma mengusap kening yang berkeringat dan menghapus dengan tissu, merapikan anak rambut yang berserak dan membawa rambut itu ke belakang telinga.


Entah mengapa, sudah beberapa kali Alma marah dan memergokinya dengan wanita lain. Alex sama sekali tidak bisa marah, membantah atau membentak gadis yang tumbuh besar itu. Sementara ia juga butuh pelampiasan hasratnya sebagai seorang laki-laki.


"Ayo tidurlah, Uncle di sini sampai lampu akan hidup." Ia memeluk Alma dengan erat, membawanya ke pembaringan yang sangat besar di dalam kamar itu.


Tidak ada penolakan dari gadis yang tadi begitu marah, mengertak sang Uncle dengan ketus. Sekarang ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ia mengeluarkan suara mencari sang Induk agar bisa menghangatkan dirinya dibawah sayap sang Induk. Alex beranjak pergi, namun terlihat sifat kanak-kanak nya sepertinya datang kembali. Suara petir yang mengelegar mengelegar seakan ingin mengoncangkan bumi pada malam itu.


Sontak saja ia memeluk kembali sang Uncle, tubuhnya kembali gemetar. Keringat dingin juga kembali mengalir keluar.


"Uncle jangan pergi, aku mohon tetap di sini. Aku takut. Hiks.. hiks.." Alma terdengar menangis.


Sebagai lelaki normal yang tadi tidak bisa menuntaskan hasratnya. Membuat Alex merutuki dalam hati. Entah mengapa junior di bawa sana bisa diajak kompromi. Tubuh Alma yang sangat padat itu menyentuhnya dengan sangat lekat dan lembut. Ah, sungguh malam membuatku sangat tersiksa desis Alex dengan rasa kesal.


Alex membalas pelukan itu dengan erat, dan membawa Alma kembali berbaring. Ia tidak mau menggunakan kesempatan ini untuk berbuat tidak senonoh pada gadis kesayangan itu.


"Tidurlah dengan nyenyak, Uncle menemani mu disini, hingga hujan reda dan lampu hidup."


Alma hanya mengangguk lemah. Fobianya pada kegelapan membuatnya hanya mengangguk pasrah. Sekarang gadis itu hanya diam tertidur pada lengan Alex. Seperti anak ayam yang sudah mendapatkan kehangatan dari sayap sang Induk.


Tidak lama terdengar dengkuran halus dari gadis cantik yang berada pada lengan lelaki tampan itu. Alex meliriknya sedikit dan ia memastikan jika Alma benar-benar tertidur. Ya benar saja ia sudah tertidur pulas.


Dengan hati-hati Alex menaruh kepala Alma pada bantal. Dan dengan perlahan ia pun berdiri dari pembaringan itu. Ia tidak mau hasratnya tidak dapat dikendalikan jika berada pada dekapan Alma.


Bersambung


Terimakasih Kay May ucapakan pada semua yang telah mendukung. Tetap dukung Kak May biar semangat Up setiap hari.