
Hujan yang disertai petir yang menyambar tadi malam. Sekarang tidak ada lagi, berganti dengan pagi yang sejuk dan dingin. Suara kodok dan jangkrik setelah hujan seakan seperti nyanyian di pagi hari. Tampak pohon dan ranting yang basah dan daun-daun yang berguguran di terpa angin kencang.
Alma mengeliatkan tubuhnya dan membuka sedikit demi sedikit penglihatan dan mengingat peristiwa kemarin yang membuatnya sedikit tersenyum. Ia melirik Sofa besar yang menghadap ke pintu kamar Alex tampak masih tertidur pulas.
Alma berdiri dan memandang sosok itu dengan sangat lama. Ia sosok pahlawan selama ini yang melindunginya, sosok kekar yang selalu ada di saat ia butuhkan.
Beberapa kali dan hampir saja ia kehilangan nyawa, namun sang Unclelah yang selalu hadir sebagai penyelamat. Kejadian tenggelam di kolam waktu ia berumur 13 tahun masih jelas dalam ingatannya. Di saat yang tepat Alex membawanya dari dasar kolam dan memompa air yang masuk ke begitu banyak dalam tubuhnya.
Jadi mengapa ia harus marah jika ada perempuan lain yang ada di dekatnya dan menjadi Fatner ranjang sang Uncle? Bukankah ia juga butuh teman kencan dan menyalurkan hasratnya ? jadi apa yang membuat ia kesal saat ini? Entah ia sendiri merasa tidak tahu.
Ia masih tetap berdiri di depan Alex yang tertidur, ia menatap wajah yang tetap masih awet di umur mendekati 40 Tahun. Rahanya yang kokoh, alis mata yang tebal hitam seperti ulat bulu. Bulu mata yang lentik, ah bagaimana ia punya bulu mata yang lentik seperti itu sedang ia yang perempuan saja tidak punya alis mata seperti itu. Alma ingin mengelusnya sebentar saja. Ah, tetapi tubuh itu menggeliat dan terbangun.
Alma seperti pencuri yang tertangkap basah,ah sangat memalukan sekali pikirnya.
"Alma kau sudah bangun. Dan mengapa kau berdiri di situ?" Alex bertanya dengan suaranya yang khas bangun tidur.
"Hmm..aku tadi ingin ke kamar mandi, tetapi terkejut mengapa Uncle tidur di sini?" Kilahnya.
"Tentu saja Uncle tidur di sini. Kenapa tadi malam seperti anak kecil, takut gemetar dan kembali berkeringat dingin. Apa Uncle tiap malam harus bobok kan dirimu?" Alex kembali ingin mengerjai ponakan cantiknya itu.
"Janji deh, Uncle ngak bakalan lupa bawa lampu serapnya." Ucap Alma menahan rasa malu. Mukanya merah semerah tomat. Malu tertangkap basah menatap lekat sang uncle pagi ini dan malu jika selalu merengek minta ditemani jika Fobia itu datang
"Ya sudah, pergilah cuci muka dan gosok gigi, nanti aja mandinya hari masih sangat dingin, Uncle menunggumu di bawah."
"Baiklah," Ucap Alma yang menyembunyikan rasa malu dengan berjalan ke arah kamar mandi.
Alex mengeliatkan tubuhnya, ia berdiri dari tempatnya tidur. Ia melangkah ke keluar kamar dan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Alma.
Sebenarnya dari tadi Alex telah bangun, tetapi ia pura-pura tidur kembali karena hari masih terlalu pagi dan dia juga masih terasa mengantuk tetapi pergerakan Alma di tempat tidur memang sangat ia rasakan. Ia memejamkan mata kembali dan ia merasakan Alma berdiri terlalu lama menatapnya. Ia juga merasa jengah di tatap dengan lama seperti itu hingga menyapa Alma yang tertangkap basah menatapnya.
Ada apa sebenarnya dengan ponakannya itu. Dengan perasaan geli dan juga lucu Alex memikirkan tingkah Alma sambil membersihkan diri dan juga berganti baju. Sekarang ia telah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
Sementara itu Alma masih berada pada kamarnya. Entah mengapa ia merasa geli dan juga bercampur malu yang masih tersisa padanya waktu ia menatap Alex dengan sangat lama sementara orang di tatap malah menatap juga hadeehhh.
Angin semilir masih terasa sangat begitu sejuk di pagi hari ketika Alex dan Alma memulai sarapannya.
"Sebelum belajar nyetir, kita jalan pagi dulu ya sayang keliling komplek." Alex membawa Alma untuk berlari kecil keliling kompleks.
"Baiklah Uncle, tetapi aku akan mengambil tissu dulu di kamar." jawab Alma dengan senyum.
"Ngak usah repot ke atas, Uncle sudah bawa perlengkapan termasuk air minum. Ayo ke buru panas dan siang!"
"Ayo," ujar Alma dengan riang.
Sementara itu Bi Ana yang ada di halaman depan tersenyum dan menyapa nona mudanya itu dengan senyum.
"Mau Marathon sebentar Bi, bersama Uncle. Bibi sudah sarapan?" tanya Alma pada asisten itu.
"Oohh..mau Marathon, nanti saja sarapannya non, bibi belum lapar."
"Kalau begitu Alma pergi dulu ya Bi." Alma tersenyum pada asisten itu dan mengikuti langkah Alex yang begitu panjang.
Mereka keluar dari pintu gerbang di iringi dengan sapaan penjaga dan asisten dengan menaruh rasa sopan dan hormat pada tuan mereka.
Dari kejauhan Bi Ana melihatnya dengan senyum. Wanita tua itu melangkah ke dalam rumah besar dan mulai melihat lihat semua pekerjaan yang dilakukan asisten lain. Bi Ana tidak lagi bekerja hanya bertugas melihat pekerjaan asisten lain dari kejauhan. Karena itu adalah perintah dari Alma dan juga Alex.
Alex dan Alma telah sampai di luar rumah, mereka telah berlari kecil. Ternyata pagi itu juga sangat ramai, kebanyakan adalah pasangan yang menikmati jalan pagi, para orang tua yang lanjut usia dibawa dengan kursi roda hanya untuk menghirup udara pagi yang segar.
Banyak mata yang tersenyum pada mereka, Ah pasangannya yang serasi walau yang perempuan masih terlihat sangat muda. Ocehan dan kata-kata mereka membuat Alex tersenyum dalam hati, tidak pada Alma ia tetap fokus berlari kecil.
Keringat telah membasahi punggung dan juga pelipis Alma, gadis belia itu agak sulit mengimbangi lari Alex yang terkesan cepat. Dan pada akhirnya ia jauh tertinggal di belakang. Alma menarik nafasnya yang tersengal kemudian mengikuti langkah lari Alex yang bertambah jauh. Karena ingin mengejar langkah Alex yang telah jauh Alma sedikit tidak hati-hati ia terjatuh karena terpeleset jalan yang sedikit licin. Pantatnya mengenai aspal dan kaki kirinya terasa keseleo.
"Uncle," panggilnya dengan sangat keras.
Alex yang tadi telah jauh, masih mendengar suaranya dan melihat kebelakang. Ia terkejut melihat Alma yang terduduk di lantai aspal dan meringis memegang kakinya yang sakit.
"Sayang, kau kenapa kamu terjatuh dan kakimu sakit?" Tanya Alex dengan cemas.
"Iya Uncle, larimu begitu cepat, aku tidak bisa mengimbanginya dan kurang hati-hati dan akhirnya terjatuh." Alma tampak meringis menahan rasa ngilu pada punggung dan juga kakinya.
"Kalau begitu sebaiknya kita pulang, ayo Uncle bantu berdiri." Alex mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alma.
Tetapi karen terjatuh mungkin saja ada urat dan otot yang menegang Alma kesulitan berdiri apalagi berjalan.
"Uncle aku tidak berjalan, terlalu sakit." ujar Alma sedikit meringis.
"Lain kali jika merathon bersama Uncle, siapkan energi. Jadi perempuan juga harus kuat sayang, jangan terlalu lemah!" ujar Alex yang masih memegang pergelangan tangan Alma.
"Baik Uncle."
"Kalau begitu kita pulang sekarang? Ayo naik ke punggung Uncle." Perintah pria tampan itu dengan cepat.
"Naik ke punggung Uncle?" Tanya Alma dengan ragu.
"Iya, mengapa tidak. Terus kamu pulang mau dengan jalan seperti siput begitu. Ayo cepatlah biar kita cepat sampai di rumah!"
Alma yang tadi ragu akhirnya naik ke punggung lelaki itu. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher sang Uncle. Siutan dan gelak tawa orang yang lalu lalang berkendara terlihat tersenyum melihat pasangan itu.
Bersambung