
Sementara itu di rumah Alma gadis kecil berparas cantik itu baru pulang sekolah ia di antar dan di jemput oleh Bi Ana sang asisten.
"Non, ganti bajumu. Sebentar lagi kita akan makan siang. Mumpung nyonya sedang sibuk kita bisa tenang sayang." Ujar Bi Ana dengan dengan haru.
"Ya, Bi.."Ucap bocah perempuan itu sambil menaruh semua peralatan sekolahnya.
Bi Ana keluar, kemudian tidak lama ia telah kembali sambil membawa makan siang untuk Nona Mudanya.
Bocah kecil itu makan sambil melirik pintu kamar, ia merasa sangat takut jika saja Amira datang dan memergoki Bi Ana yang mengantar nasi, ia pasti akan marah dan berlaku kasar lagi
padanya.
Ia heran mengapa sang Papa menikah dengan nenek sihir itu. Jika saja papanya tidak menikah dengan perempuan itu, tentu saja keadaan tidak akan seperti ini. Ini rumahnya, semua adalah punya papa. Tetapi mengapa ia harus merasa seperti asing pada rumahnya sendiri. Seperti dalam sebuah tahanan. Batin Alma dalam hati.
"Cepat makannya sayang, semua akan baik-baik saja." Bi ana mengingatkan Alma yang sedang melamun ketika menyuap nasi ke dalma mulutnya.
"Alma ingat papa," ucap bocah itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seharusnya keadaan seperti saat ini bocah perempuan banyak orang yang memperhatikan nya, ada tempat untuk ia berkeluh kesah tentang kesedihan. Ada keluarga yang memberi semangat dan ada keluarga yang memberi dukungan. Tetapi sayang keluarga dari dua orang tuanya sama-sama telah telah tiada.
Ibu dari sang mama telah lama meninggal, ketika ia masih berumur 9 Tahun. Ayah dari sang mama telah menikah lagi yang tidak diketahui kabarnya dari sekarang. Dan kelurga dari sang papa juga semua telah tiada. Teguh hanya mempunyai satu orang adik perempuan yang juga telah meninggal ketika masih berumur 4 tahun. Sementara Ibu dan ayah Teguh meninggal ketika Teguh baru saja masuk sekolah Menengah Atas.
Jadi tidak ada lagi keluarga yang tersisa, semua itu sangat di Ketahui oleh Bi Ana. Karen ia telah mengabdi pada keluarga itu telah puluhan lamanya.
"Sudah, makannya non. Setelah salat Zhuhur nanti. Kita ke taman belakang ya Non, lihat kelinci yang ada di kandang belakang. Dia telah tumbuh sehat. Bibi tiap hari telah memberi nya sayuran dan potongan wartel."
"Benar, Bi..baiklah." Jawab Amira dengan mata berbinar dan dengan cepat menghabiskan semua makanannya.
Bi Ana tersenyum. Ia berharap kesedihan nona mudanya itu akan segera berlalu. Ia akan menjauhkan Alma dari jangkauan nyonya besar, sedapat mungkin jika tidak perlu Alma harus tidak bertemu Amira.
Alma telah selesai mengerjakan pekerjaan rumah dan salat Zhuhur. Ia tampaknya sangat riang, melihat kelinci kesayangannya itu telah tumbuh besar.
Kelinci itu di temukan dalam keadaan sakit dan pada tungkai kaki mengeluarkan darah. Ia menemukan pada halaman samping teras rumah waktu itu Mendiang Teguh masih hidup dan ikut mencarikan kandang dan merawat kelinci kecil yang malang.
Sekarang kelinci itu telah tumbuh sehat dan gemuk. Alma sungguh merasa senang. Jika papanya masih hidup ia tentu akan gembira melihat kelinci itu.
"Poky makan yang banyak ya, biar badanmu cepat besar. Dan aku ingin melihatmu punya anak yang banyak.!"
Alma mengelus punggung dan kepala kelinci yang ia beri nama Poky. Ia menjulurkan tangan ke dalam kandang sambil membawa sisa-sisa sayuran dari Bi Ana.
Dari jauh, Bi Ana tetap melihat nona aktivitas nona kecilnya itu. Telah lama rasanya nona kecilnya bermain. Ia akan menyuruh untuk masuk ke dalam kamar sebelum Amira datang.
"Non, sepertinya hari telah sore, sebaiknya non muda pergi mandi dan kembali ke kamar." Bi Ana memberi isyarat agar Alma segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak sama sekali tidak menginginkan nona mudanya bertemu dengan Amira.
Sementara itu di kantor Brhamajaya Group, Amira berjalan sedikit kesulitan. Area sensitif nya terasa ngilu. Tentu saja area itu akan sangat bengkak dan memerah. Hamdan menghujam dari samping, kiri dan bawah. Habis sudah janda itu obok-obok pria tampan yang berada di depan laptop.
"Yang, lagi ngapain.?" Suara Amira sangat mengejutkan Hamdan yang fokus dengan layar monitor di depan nya.
Ia segera menggeser kursor yang ada di depan kiri komputer.
"Ehh..kau sudah bangun. Tidurmu sangat nyenyak yang, jadi aku malas untuk membangunkan mu. Aku suntuk dan mencari game jika ada laptop ini. Ternyata gamenya tidak menarik." Hamdan dengan cepat menutup semua File dan menghapus histori pencarian di laptop itu.
Hamdan kemudian mendekati Amira dan kembali memeluknya lembut.
Janda itu kembali terbuai oleh sikap lembut Hamdan.
"Aku sangat capek yang, dan area sensitif terasa agak ngilu." ucapnya sambil meringis manja.
"Makanya jangan selalu menggodaku, kau kaan merasa sangat tidak tahan." ucap Hamdan sambil mengedipkan mata sebelah matanya pada perempuan itu.
"Tapi..aku sangat selalu ketagihan dan bergairah melihat mu yang." Amira merapatkan tubuhnya dan mulai membelai dada bidang Hamdan yang terbalut kemeja.
"Kau jangan memulainya lagi Amira. Di bawah sana telah tampak mengeras."
Pria itu menatap lekat manik mata kecoklatan kaya yang baru beberapa ditinggal mati suaminya.
"Ya, sebaiknya kita pulang Hamdan, aku sangat merasa lelah." Ucapnya dengan manja.
Sore turun seakan dengan sangat cepat. Hampir semua karyawan kantor telah meminta ijin untuk pulang. Hanya tersisa penjaga kantor dan Satpam.
Suasana sepi membuat Amira tidak lagi merasa canggung dengan jalan sedikit pincang dan rambut yang. masih kelihatan basah.
Hanya Saptam yang melihat tidak terlalu jauh. Dan tersenyum dengan seringai mengejek.
"Ya, bu Amira, jika mau hot-hotan begitu mending hotel saja bu, tidak mengotori tempat kerja menjadi mesum karena ulah ibu." desis Pak Saptam dengan gemas.
Pak Saptam yang bernama Jamal telah sangat lama bekerja pada Perusahaan Teguh di saat Teguh baru merintis usahanya Laki-laki setengah abad itu telah bekerja di sana.
Hampir saja ia mendapat pemecatan dikala nyonya muda itu masuk pada kehidupan Teguh. Tetapi karena mengenal jasa yang ada selama ini. Teguh tetap mempertahankan Jamal walaupun dengan adu mulut pada istrinya itu.
Mobil berwana pekat hitam itu melewati pintu gerbang. Jamal kemudian membuka gerbang dengan menutupnya kembali. Ia membungkuk hormat, walau dalam hatinya bertolak belakang.
Semoga saja, tuan tenang di dalam sana. Semoga non Alma juga tidak ada masalah di rumah. Saptam setengah baya yang telah terlihat kerutan di kulit nya itu hanya dapat berdoa dalam hati.