I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Perpindahan Jabatan Direktur.



Seminggu telah berlalu dimana pasangan yang telah halal itu begitu terlihat sangat romantis, Amira terlihat sangat manja. Apalagi sekarang, ia sedang dalam keadan hamil muntah dan morning skines. Dengan keadaan Amira yang tidak Fit, Hamdan melarangnya untuk pergi ke kantor. Tetapi ia berjanji setiap jam istirahat siang Hamdan akan pulang untuk makan siang bersama.


Ia sangat menjaga agar tetap kelihatan tulus dan menyanyangi Amira.


Saat ini ia telah berada di Kantor Brahmajaya Group. Aktivitas sibuk sangat mewarnai kegiatan pagi ini. Ia harus meneliti, dan melihat hasil pemasaran yang agak sedikit menurun. Aapalagi investor asing yang sering menanamkan investasi pada perusahaan itu mengambil kembali saham mereka.



Kruuuik


Kruuuik



Hamdan merasa perutnya sangat minta diisi, ia terlambat untuk sarapan hari ini karena ingin seceptnya pergi kantor, dan malam tadi ia harus juga mengurus amira yang terus muntah di tambah sikapnya yang begitu manja. Hamdan benar-benar harus kerepotan dibuatnya. Rasa ngantuk dan rasa lapar yang terus menyerang membuatnya sedikit tidak kosentrasai pada pekerjaan.



“Ramses tolong antar kopi dan sarapan pagi di runaganku sekarang!” Terlihat Hamndan meminta sarapan dan kopi panas untuk diantar ke ruangannya. Ia kembali membuka dokumen dan laporan pemasaran bulan ini.



Tok


Tok


“Masuk.”



Hamdan tetap dengan perkerjaan fokus semua berkas yanga ada.



“Permisi tuan, sarapan dan kopi panas saya taruh di mana?”



Hamdan melirik perempuan yang datang dengan membawa sarapan pagi itu.


Perempuan itu sunguh sangat cantik walau tampa polesan make up. Hanya bedak tabuk dan pewarna bibir seadanya. Tubuhnya tinngi semampai, kulit bewarana putih terang. Hidung yang kecil mancung, dan bibir yang sedikit tebal tetapi terkesan sangat sensual. Hamadan melirik perempuan itu daria atas sampai ke bawah.


Kakinya yang putih bersih, mamerkan betis yang sangat indah. Roh hitam yang dipakai walau sebatas lutut tetap mencetak pinggang yang seperti gitar spanyol. Hamdan seakana menelan salivanya sendiri. Dadanya bergemuruh dengan sangat cepat. Ia segera menepis hal itu, karena pekerjaan yang sedang menumpuk ia langsung mengalihkan pikiran kotornya.


“Hmm..Hmm, letakan di meja sudut ruangan.”


Perempuan itu lalu membukuk dengan hormat dan meletakakn sarapannya di sana.


“Permisi tuan,” Perempuan itu menunduk dan melangkah keluar ruangan.


“Tunggu dulu.” Hamdan memberi perintah pada perempuan itu dan menyuruhnya untuk duduk.


Perempuan itu lalu duduk dikursi yang berada di depan wakil Direktur itu. Ia menundukkan mukanya karean tidak mampu bersitatap dengan lelaki tampan yang berada di hadapannay saat ini.


“Siapa namamu. Apakah kau karyawan baru di sini?”


“ Nama saya Indah tuan, saya karyawan baru di sini baru dua bulan dan dalam masa treaning.”


“Oh, begitu. Bagian bidang mana ruangan mu?”


“Baiklah kalau begitu nanti sore jangan pulang dulu. Saya meminta bantuanmu untuk meneliti semua pemasaran yang dilakukan oleh Perusahaan ini terhadapan perusahaan Erka Gruop.”


“Baiklah Tuan.”


“Sekarang pergilah.”


Perempuan berparas cantik itu lalu keluar dengan kembali membungkuk hormat, ia berjln dan hilang di balik pintu. Walau perempuan itu telah pergi tetapi tetapi mata Hamdan sungguh tidak berkedip melihat tubuh ramping itu berjalan sampai menghilang di balik pintu.


Ia kemudian berjalan mengambil sarapan yang ada di sudut ruangan. Menyesap kopi yang mengepul panas dan sekaligus mengambil soto ayam yang juga tampak terasa mash hangat.


Tidak lama ia kembali ke rutinitasnya, ia melihat semua saham dan juga ivestasi serta perusahaan yang akan mengadakan kerjasama. Sungguh ia benar-benar harus sibuk saat ini. Bagaimana mungkin ketika jam istirahat tiba ia akan pulang, sementara istri manjanya itu pasti akan merepotkannya saat ini.


Tetapi Amira juga harus paham dengan kondisi kantor saat ini. Jika di biarkan berlarut-larut Perusahaan ini pasti akan mengalami kegunjangan dan bahkan biasa saja akan gulung tikar.


Ia kembali termenung sambil melihat semua pekerjaan yang menumpuk. Jika selalu saja berkutat dengn istri manjanya itu, rencananya pasti akan terlambat berjalan sesuai dengan rencana.


Jam isirahat telah tiba, Hamdan keluar dari lif khusus predisen direktur. Ketika telah sampai pada ruangan lantai bawah dan di Area parkiran ia melihat karyawan yang bernama Indah di jemput oleh seorang lelaki. Mendadak hati Hamdan bergemuruh dan merasa tidak senang. Rasa amarahnya hanya bisa ia keluarkan dengan membanting pintu dengan kasar. Ah, perempuan itu, tidak peduli gadis ataupun janda lambat laun juga akan aku miliki desisnya dalam hati. Ia memeukul stirnya dengan kasar.



Hamadan telah sampai di rumah mewahnya dengan Amira. Entah mengapa rasa malas telah mengerogoti hatinya untuk bertemu sang Istri saat ini. Apalagi melihat Amira yang terlihat pucat dan tidak bergairah membuat Hmandan engan untuk menyentuhnya. Tubuhnya hanya berbau minyak kayu putih dan aroma minyak terapi yang membuatnya sedikit merasa sangat mual.


“sayang, apa kau sudah pulang,” ucap amira ketika baru saja langkah hamdan baru sampai ke lantai atas rumah mereka.


“Ya, aku sudah pulang.” Jawab Hamdan datar.


“Apa kau sudah makan.?”


“Aku belum makan sayang tetapi kita tadi janjikan, akan makan siang sama-sama?”


“Ya, aku akan menyuapi makan dan setelah ini aku akan secepatnya ke kantor,”


“Mengapa harus cepat-cepat ke kantor, aku masih menikmati makan yang kau beri padaku yang.” Amira merengek manja


Hamdan mendengus nafasnya dengan kasar.


“Sayang, keadaan Perusahaan kita saat ini genting. Ivestor asing yang biasa menanam sahamnya pada kita sebagian dari mereka telah menerik sahamnya kembali.”


“Jadi segenting itukah?”


“Aku tidak berbohong dan mengatakan hal apa adanya, tetapi yang juga menjadi kendala saat ini. Setiap tindakan yang ku ambil serasa tidak enak hati. Karena kau tahu sendiri, aku siapa? aku orang baru di Perusahaan mu. Apalagi jabatan direktur masih beada di tanganmu yang, membuatku agak sulit menentukan kebijaksanaan perusahaan.”


Hamdan mulai melancarkan rencana liciknya, ekting yang ia perankan dengan menyuapi Amira denagan sayang membuat perempuan sedang hamil itu tidak bisa berpikir jernih.


“Besok aku akan ke kantor kalau begitu, aku akan mengumumkan pada seluruh staf dan pegwai jika jabatan direktur perusahaan kan berpindah padamu.


Deg


Deg


Hamdan begitu senang ia ingin bersorak dan melonjak kegirangan. Tampaknya pacingan nya telah mengenai sasaran empuk. Tetapi tunggu dulu, ia tidak boleh terlihat senang bisa-bisa Amira curiga padanya.


“Sayang sebenarnya aku berat mengatakan hal ini padamu. Tetapi mau tidak mau aku harus mengatakannya padamu. Ini juga demi kepentingan perusahaan, kau juga tidak mau jika kan yang Perusahaan kita mengalami kemunduran.”


“Tentu saja aku tidak mau.