I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Kemana Alma dan Bi Ana?



"Aku akan menerobos kedalam rumah, Alma dan Bi Ana pasti sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja." Hamdan berusaha untuk masuk menerobos polisi yang berpatroli di garis depan. Tetapi dengan cepat polisi yang lagi berjaga menghalangi jalan pria penguasa itu.


"Maaf kan kami Tuan, anda di larang untuk masuk dan ini sangat berbahaya." seorang polisi menyeru pada Hamdan yang terlihat sangat gusar.


"Tetapi di dalam sana ada bocah kecil, dan sang asisten. Aku tidak mau sedikitpun ia terluka." Ujar pria itu lagi dengan nada gusar dan juga rasa takut yang mulai menyelimuti.


"Anda di mohon tenang Tuan, karena ini adalah tugas kami," ujar polisi itu meyakinkan Hamdan.


Pria itu hanya bisa kembali diam mematung, ia tidak mampu untuk bisa menerobos masuk ke dalam rumah. Entah mengapa perasaan cemas yang luar biasa menghantuinya saat ini, cemas yang di temukan pada bocah kecil itu, tidak dengan Amira sang istri.


Mengapa rasa cemas itu tidak ada lagi untuk Amira? karena dalang semua ini adalah istri bejatnya itu. Bahkan jika tadi sang supir tidak mengecek tentang kendaraan yang mereka bawa, mungkin saja sekarang mereka akan bernasib sama.


Rem mobil yang dikendarai Hamdan dalam kondisi blong, untuk saja Bi Ana mengingat kan agar dia berhati-hati. Jika hal itu bukan perintah Amira lantas dari siapa? Amira juga berniat untuk melenyapkan dirinya. Ia sekarang tidak akan peduli apapun yang terjadi dengan perempuan iblis itu.


Sementara itu di dalam rumah bewarna Maron polisi mulai menyusup masuk.


Di halaman belakang, dengan mengendap anggota geng Srigala Hitam berniat melarikan diri.


"Anda telah terkepung daerah ini telah di penuhi polisi, sebaiknya kalian semua menyerahkan diri." 3 orang anggota polisi dengan mengacungkan pistol ke arah anggota geng yang berniat kabur.


Tetapi tampaknya anggota Geng itu tidak peduli, ia menyelinap di balik bangunan tembok besar bangunan taman belakang. Dan di balik tembok itu ia mengarahkan senjata api pada polisi.


Letusan dan suara tembakan terdengar di arah taman. Arahan dan perintah dari polisi agaknya tidak di dengar oleh mereka. Mereka tetap menolak dan kembali membalas tembakan senjata oleh Anggota polisi yang berada di Taman.


Dua orang anggota polisi yang telah sampai pada atap bangunan dengan jelas melihat anggota Geng yang sedang melakukan serangan balasan.


Anggota polisi yang berada pada atap bangunan mengarahkan tembakan pada anggota geng yang sedang mengirimkan serangan balasan.


dorr


dorr


Tembakan mengenai sasaran, dua orang anggota geng terkena timah panas tepat pada bagian kaki sebelah kiri.


Anggota polisi yang berada di bawah dengan sigab meringkus anggota geng yang terkena tembakan.


"Ayo, kamu meringkus mereka yang tertembak. Aku akan menyusup ke dalam rumah!" Anggota polisi yang satu memberi perintah pada temanya dan mengajak teman yang lain untuk masuk kedalam rumah.


Anggota polisi dengan cepat bergerak masuk pada dalam rumah, satu persatu anggota geng itu telah dilumpuhkan. Setengah jam telah berlalu dengan usaha yang tidak sia-sia anggota polisi bisa di acungkan jempol, Pimpinan dari Geng Srigala Hitam yang lagi Viral kejahatannya saat ini tertangkap walau dengan kondisi yang kritis. Pimpinan itu berusaha melawan dan menceredai seorang Anggota polisi dengan luka tembak pada tangan sebelah kanan.


Ia merasa sangat tidak sabaran dengan sekuat tenaga, ia berhasil masuk pada halaman depan.


untung saja, polisi yang pada saat itu telah dapat melumpuhkan anggota Geng Srigala Hitam.


Hamdan menerobos masuk pada rumah besar yang telah terjadi pertempuran. Darah bercecer di mana-mana. Ia mendapati Penjaga dan asisten rumah banyak yang terluka.


Ramses yang juga ikut menerobos masuk, membantu asisten dan menelpon ambulans.


Hamdan dan menyusuri rumah dan berteriak memanggil Alma dan juga Bi Ana.


Saat antara perbatasan dapur dan ruangan tengah ia melihat Amira juga berlumuran darah. Perempuan itu pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Ramses kau urusi perempuan celaka ini, ia yang membuatkan kekacauan dan juga memerintah seseorang untuk memutuskan kabel rem mobil, sehingga remnya menjadi blong!"


"Baik, tuan."


"Alma, Bi Ana." Hamdan berteriak memanggil sang bocah dan juga Asisten separuh baya itu.


Tidak ada tanda-tanda, jika Alma dan juga asisten terlihat. Hamdan terlihat sangat cemas. Ia kemudian keluar dan melihat Damar yang sedang terluka.


"Katakan padaku, jika tidak terjadi apa-apa terhadap Alma dan juga Bi Ana!" Hamdan mencengkram bahu Damar keras. Asisten itu mengeluarkan suara mengerang dengan sangat keras. Tetapi ia tetap menjawab pertanyaan dari Tuan mereka.


"Bi Ana dan juga nona Alma ada di rumah pas kejadian Tuan, tetapi setelah itu saya tidak lagi mendengar suara dari me..reka." Suara Damar terlihat terbata menahan rasa sakit di dada dan juga mukanya yang lebam.


"Oh,,tidak jangan katakan ia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja."


"Pak polisi, kemana asisten dan juga keponakan saya?" Hamdan menghampiri polisi yang masih saja sibuk di lokasi kejadian itu.


"Tenanglah Tuan Hamdan, kami sedang menyelidiki dan melihat petunjuk tentang kemana nona kecil dan asisten." Kapten polisi itu kembali menenangkan Sang Penguasa yang terlihat sangat labil.


"lapor Kapten, di lokasi tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan juga asisten. Kami hanya menemukan jejak terahir langkah kaki yang tidak begitu jelas ke belakang taman, tetapi kemudian jejak langkah kembali menghilang." anggota polisi berpangkat prajurit itu melapor.


Hamdan kembali di buat binggung, ia kemudian melangkah kembali menyusuri rumah dan juga taman belakang dengan tak henti menyebut nama Alma.


"Alma, di mana kamu..Alma ini Uncle."


Kemana sebenarnya Bi Ana dan juga Alma berada, ataukah mereka benar di culik oleh geng bertopeng dan menyekap mereka. Itu yang ada pada pikiran Hamdan pada saat ini.