
Rey yang sedari tadi hanya mampu melihat dari kejauhan apa ang baru saja live di depan matanya. Mereka berdua bukan seperti ponakan dan paman, tetapi seperti sepasang kekasih yang terlihat sangat mesra.
Ah, aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap mengambil mu Alma walau mungkin itu sangat sulit.
"Hmmm..mm.." Rey mendekati Alma dan juga Alex yang sedang membelainya.
"Oh Rey, kau sudah lama datang?" Alma terlihat sangat terkejut.
"Belum begitu lama, bagaimana dengan kondisi tuan Alex?"
Rey bertanya sambil menatap muka Alma juga yang juga menatapnya. Alma dengan cepat memalingkan mukanya dari tatapan Rey dan kembali fokus pada Alex.
"Alhamdulilah Rey, aku sangat senang saat ini. Uncle telah sedikit mengalami kemajuan. Ia telah sedikit bisa memanggil namaku."
Alma dengan bersemangat menceritakan tentang kemajuan pria yang berada pada kursi roda itu yang juga menatapnya.
"Oh, aku juga merasa sangat senang jika demikian Alma. Beberapa hari lagi kita akan membawa Alex untuk Fisioterapi. Mungkin dengan demikian sel syaraf Tuan Alex pada area kaki merangsang untuk mengalami kemajuan dan pemulihan."
Rey menjelaskan maksud dan tujuannya. Ia juga sangat berharap agar Alex dapat segera sembuh. Ia juga sangat berharap nantinya jika lelaki itu telah pulih seperti sedia kala. Ia akan meminta dan melamar Alma menjadi istrinya.
Ia tersenyum sendiri seakan idenya itu terasa sangat konyol. Bagaimana mungkin ia akan melamar gadis itu. Belum tentu juga Alma akan suka dan mau padanya.
"Aku tidak bisa mengucapakan bagaimana terima kasih padamu Rey, Semoga kebaikan mu adalah tabungan amal ibadah. Eh,,tetapi dari tadi ku lihat kau tersenyum sendiri?"
Alma bertanya pada pria itu yang terlihat sangat senang, adakah sesuatu yang membuatnya begitu bahagia, ataukah di kantor tadi ia melihat dan menemui pacarnya, pikir Alma sambil tetap menatap Rey.
"Ah,,tidak ada apa-apa nona manis!" nanti juga kau akan tahu sendiri, sudahlah hari telah terlihat sangat petang. Alangkah baiknya jika Tuan Alex kuta bawa ke dalam rumah."
"Kau benar Rey, ya Kita harus membawa Uncle ke dalam rumah."
Sebelum mendorong kursi roda di dorong masuk, Alma terlebih dahulu mengecek baju panjang dan juga sweaternya yang di pakai Alex tidak ada nyamuk dan juga serangga yang menempel di baju itu.
"Ayo, sekarang sudah aman hari sudah beranjak sore, ayo kita akan kembali ke rumah Uncle."
Alma berkata sambil menurunkan pengait roda pada kursi roda Alex agar kursi roda itu dapat kembali berjalan. Kemudian tangan gadis itu kembali mendorong kursi roda itu menuju kediaman mereka.
Dengan cepat tangan Rey mengambil alih posisi Alma.
"Biar aku saja."
Alma hanya bisa mengalah, ia membiarkan tangan Rey yang mendorong kursi roda itu hingga sampai pada teras rumah.
Ketika mereka telah sampai di depan teras rumah. Para pelayan dan asisten mendekati mereka.
"Nano muda apa yang bisa kami bantu?" Seorang asisten kali-laki yang bernama leon agak sedikit membungkuk pada Alma dan menunggu juka ada perintah dari Nona muda nya itu."
"Ah, leo jangan terlalu formal begitu, aku minta tolong, bawa Tuan Alex ke kamarnya. aku nanti juga akan segera menyusul sana."
"Baik nona muda." pria ke berbadan besar dan kekar itu membawa Alex menuju kamarnya.
Sekarang tinggal Alma dan juga Rey yang berada pada teras rumah itu.
"Rey, ayo duduk apakah kau tidak merasa sangat lelah, berdiri sedari tadi. Aku akan mengambil cemilan dan juga minuman untuk mu."
Alam mempersilahkan pria tampan yang masih mengenakan stelan kantornya itu untuk duduk.
Benar saja sekarang Alma kembali ke dalam rumah, ia tidak menyuruh para asisten yang ada untuk mengantarkan minuman untuk mereka. Bagi gadis itu, jika ia bisa mengerjakan sendiri mengapa mesti sedikit -sedikit minta bantuan orang lain walupun orang lain itu para asisten yang di gaji oleh Alma.
Bunga- bunga kamboja dan borgenvile terlihat sedang indah bermekaran di tembok samping halaman dan tidak jauh dari sana terdapat ayunan kayu. Ayunan itu terlihat agak sedikit tua, walau masih sangat kokoh dan kuat karena terbuat dari bahan baku kayu jati.
Rey seperti anak kecil mencoba duduk dan melonjorkan kedua kakinya. Ia sangat rilek sekarang.
Alma datang dengan membawa minuman dan juga cemilan yang ada di tangannya.
"Rey, apakah aku tidak salah, kau seperti seorang anak kecil yang sedang berayun saat ini.!"
Alma menutup mulutnya untuk menahan rasa tawa dan juga rasa geli mengelitik perutnya. Bagaimana tidak Rey bertambah bernyanyi kan lagi anak-anak tempo dulu dengan sambil tertawa dan dan mengayunkan sedikit lebih kencang.
"Alma ayolah, duduk di sini sebentar saja..!"
Rey melambaikan tangannya, mengajak Alma untuk ikut dalam duduk dan berayun di sana.
"Baiklah.."
Tidak lama Alma juga duduk di sebelah Rey. Pria itu sedikit mengurangi laju ayunan jati itu.
"Mengapa kau menertawakan ku nona cantik?" Senyum Ray juga masih mengembang di bibir tipis pria itu.
"Ya, bagaimana aku tidak merasa geli jika kau terlihat seperti bocah laki-laki yang sedang menikmati ayunan." kekeh Alma lagi.
"Enak saja.." Rey kemudian mengelitik perut ramping gadis itu. Membuat Alma mengelinjang kegelian.
"Iya Rey, mungkin masa kecil mu tidak bahagia ya, jika demikian di dalam gudang masih ada mobilan balap yang masih begitu bagus. Ayo jika kau mau mencobanya..!"
"Alma..cukup.." Rey juga tidak bisa menahan tawanya.
Lama mereka tertawa akhirnya terdiam. Mereka kemudian saling pandang. Namun tetap saja senyum mengembang di kedua bibir mereka.
Dari jauh para asisten hanya melihat Rey dan Alma yang terlihat sangat serasi. Mereka juga sangat berharap jika mudanya itu akan berjodoh dengan lelaki yang tampan dan juga baik hati yang sekarang bersamanya.
"Ayo, minumlah dulu. Ku rasa perutmu dan tenggorokan pasti sangat terada kering saat ini.!"
Alma menyodorkan minuman hangat pada Rey.
"Ini nikmat sekali Alma."
Alma membuat wedang jahe yang biasa dibuat oleh Bi Ana. Asisten itu selalu memberikan padanya jika Alma terlihat lelah dan juga masuk angin.
"Jika kau suka, aku dengan hati akan membuatkannya untukmu."
Alma mengambil cangkir yang telah kosong pada tangan Rey dan kembali menepatkan pada meja kecil yang tidak jauh dari ayunan mereka.
"Aku ingin jika kau membuatnya setiap hari untuk ku." Jelas Rey dengan seriusnya.
"Ya, kau tenang saja. Jika kau mau..aku akan tiap hari bersedia untuk membuat wedang jahe ini untukmu. Datang saja ke sini, wedang jahe ini gratis untuk mu, tampa di pungut biaya." Kelakar gadis itu kembali.
Alma kembali terkekeh.
"Tapi sekarang aku berubah pikiran Alma. Maukah kau membuat wedang Jahe itu seumur hidup mu untuk ku?"
****
Wah, teman kayaknya di Rey tidak bisa menahan rasa hati dan sukanya pada gadis itu..yuk tetap disini dan tunggu episode selanjutnya..tekan love dan like yang banyak ya sayang..😘😘