I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Malaikat tak Bersayap



"Ya aku baik-baik saja, " ucap Rey pada perawat yang telah menolongnya.


Mertigo yang dialaminya, terkadang memang sering datangj jika ia kurang beristirahat dan kurang tidur di waktu malam hari.


Rey dengan langkah cepat ia membayar administrasi dan mengambil kwitansi dan berkas atas nama Alex dan penebusan obat yang akan di ambil di apotek.


Alma telah terjaga dikala Rey telah sampai di sana.


""Kau sudah bangun,"


"Maaf aku ketiduran, bagaimana dengan keadaan Uncle.?"


"Operasinya berjalan lancar, kita hanya menunggu waktu dia akan sadar, sekarang kita memindahkan Tuan Alex ke dalam ruangan perawatan."


"Ayo bersiaplah."


"Baiklah."


Alma kemudian berdiri dari tempat duduknya, ia kemudian baru menyadari jika ia tadi tertidur dengan bantal kecil yang ada tidak jauh dari tempat duduknya.


Alma dan Rey kemudian pergi mengikuti perawat yang membawa Alex ke ruang rawat Inap. Ruangan rawat yang ditempati Alex begitu mewah dan juga sangat besar. Sepintas jika dilihat seperti kamar hotel bintang lima seandainya tidak ada alat medis yang ada di sana.


Rey membantu perawat yang memindahkan tubuh Alex ke tempat brangkas dimana pria itu masih terlihat tertidur dengan pulas.


Saat ini alat deteksi jantung tidak lagi terpasang menurut dokter detak jantung alat pernapasan pria itu telah kembali normal. Ia hanya butuh beberapa waktu saja untuk sadar kembali. Sekarang hanya selang infus yang masih tertancap di kulit pria itu.


Tetesan air infus mengalir tetap dengan lancar dari selang ke tubuh Alex. Alma dengan tetap setia menjaganya.


Hari telah menunjukan jam sembilan pagi. Namun agaknya pria yang menjadi pamannya gadis itu belum ada tanda-tanda untuk sadar dari komannya.


"Alma, aku harus pulang dulu saat ini. Aku akan mengirimkan beberapa asisten agar kau bisa pulang dan beristirahat. Baru nanti sore kau kembali menjenguk ke sini."


"Apa kau ingin pulang bersamaku?"


"Terimakasih Rey, biar aku du sini dulu!"


Alma melihat wajah Rey yang tersenyum padanya. Mantan dosennya itu begitu lembut dan sangat perhatian.


Ah, tetapi jangan berharap lebih Alma karena ia pernah mengatakan jika terjadi pada siapapun ia juga akan menolong orang tersebut.


Sejenak mata mereka beradu pandang. Alma akhirnya menunduk dengan sedikit kikuk.


"Jika demikian maka aku akan mengirimkan sarapan pagi untuk mu. Kau terlihat sangat lelah."


Pria itu kemudian berdiri dan membalikan tubuhnya dan melangkah menuju pintu ruangan Lamar VIP Alex.


Alma kemudian melihat Rey hingga punggung lelaki itu tidak lagi terlihat di balik pintu.


Alma lalu pergi membasuh muka dan menyikat giginya ke kamar mandi. Ia merasa sedikit lebih segar.


Benar kata Rey, ia terlihat sangat lelah. Karena hampir semalaman ia hampir tidak tidur dan terus menjaga Alex.


Di bawah kelopak matanya terlihat rona hitam pertanda ia kurang tidur.


Kemudian ia menepuk-nepuk pipinya dengan handuk lembut dan keluar dari kamar mandi.


Ia kembali duduk di sisi pembaringan. Ia menatap pria yang selalu menjadi pahlawanya itu.


Ia mengemgam jemari kekar milik pria itu dengan erat. Kemudian dengan rasa sangat haru ia mencium punggung jemari Alex dengan sangat lembut. Tetesan bening dari kedua kelopak matanya itu kembali menetes dan jatuh mengenai jemari Alex.


Genggaman jemari Alma pada tangannya dan tetesan yang hangat itu jatuh membuat Alex terbangun dari komanya. Tetapi entah mengapa ia tidak bisa mengerakan tubuhnya dan membuka matanya saat ini. Yang ia rasakan jemari Alma mendekap erat tangannya dan gadis itu menangis.


Semua terdengar sangat jelas, dan mengapa ia tidak sanggup untuk membuka matanya.


Tok


Tok


Suara pintu ruangan diketuk seseorang. Alma lalu melepaskan jemari tangannya pada Alex.


Gadis belia itu lalu pergi menuju pintu ruangan dan membukanya.


Terlihat asisten yang telah tua itu depan ruangan dan bersama satu orang pelayan lain yang ada di rumah.


"Bi Ana." Perempuan tua itu lalu mendekati Alma dan memeluknya dengan haru.


"Hua..hua.." Tangis Alma kembali pecah.


"Sudah Non, ayo kita ke dalam." Bi Ana membawa Alma ke dalam ruangan dimana Alex masih terbaring lemah.


"Bibi membawa baju gantimu dan Bi Yani juga membawakan yang non suka. Ayo makanlah,"


"Nanti saja Bi, aku belum merasa lapar."


"Bagaimana keadaan Tuan Alex?" Tanya Bi Ana dengan serius, perempuan itu melihat Tuannya yang masih belum juga bisa bangun dari tidurnya.


"Operasinya berjalan lancar, Tuan Rey yang mendonorkan darahnya untuk Uncle. Tetapi entah mengapa Uncel belum juga sadar sampai saat ini." Alma menunduk dengan muka yang sangat sedih.


"Bersabarlah dan tenanglah non, Tuhan sedang menguji kesabaran mu. Perbanyak berdoa. Semoga Tuan Alex dengan segera sadar dari komanya.


Alex dengan sangat jelas mendengar semua yang sedang bicarakan merasa sangat terkejut dalam hati.


Lelaki yang telah ia pukul dan di tuduh dengan tuduhan tidak baik serta dengan kekuasaan yang berada pada tangannya. Ia dengan mudah kemudian mengeluarkan Rey dari kampus di mana ia mengajar.


Sungguh lelaki berhati malaikat. Aku akan membalas semua kebaikan yang ia berikan padaku ketika aku sadar nanti. Ucap pria itu dalam hati.


Oh, Tuhan beri kesempatan untuk ku memperbaiki diri. Beri kesempatan untuk ku bertobat dan beri kesempatan padaku agar melihat Alma bahagia. Beri kesempatan untuk ku pulih Tuhan Alex berujar dalam hati dengan ras haru dan penyesalan yang dalam tampa terasa lelaki yang punya kekuasaan di mana-mana itu mengeluarkan air mata.


Air mata lelaki itu terus mengalir dan menetes, walau matanya terlihat masih terpejam seperti orang yang sedang tertidur.


Alma yang sedari tadi melihat lelaki itu mersa terkejut dan sedikit heran.


"Uncle mengapa mata mu berair dan basah? Apakah kau menangis? Ayo bangunalah Uncle!"


Alma mengambil tissu dan mengelapnya dengan lembut di pipi pria itu.


"Banyak orang yang akan pergi menangis seperti itu nona, karena ia takut meninggalkan orang -orang yang ia sayangi. Jalan menju alam sana akan terhalang jika nona tidak ikhlas." Ujar Bi Yani yang tadi terdiam.


Kata -kata asiaten itu sangat menyentuh perasaan dan pikiran gadia itu. Muka yang tadi sembab karena menangis sekarang bertambah lagi dengan turunnya air mata dengan kembali deras.


"Aku tidak pernah akan rela, ia pergi Bi Yani. Tidak akan pernah. Bibi jangan sembarang bicara. Uncle ku akan sembuh aku yakin itu." Alma menatap asisten itu dengan raut muka kesal dan bercampur haru."


Alex yang mendengar kemarahan Alma terdiam dalam posisinya yang tidak berdaya. Ia baru juga menyadari jika keponakan itu begitu takut kehilangan dirinya.