I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Menatap Masa Depan Dengan Lebih Baik



Semua orang punya masa lalu tidak sama ada yang kelam dan juga ada yang sangat bahagia. Semua orang punya salah dan dosa yang di mata manusia seakan tidak terampuni. Tetapi di mata Tuhan bagaimanapun besarnya dosa bagaikan banyaknya buih dalam lautan. Dosa itu akan sirna jika di pupuk selalu dengan doa dan menyadari semua kesalahan yang ada.


Lebih terhormat mantan narapidana yang bertaubat dari pada mantan kyai yang yang masuk penjara karena pelecehan anak di bawah umur.


Begitu juga dengan Alex. Masa lalu yang kelam, ia didik dengan keras oleh kehidupan di waktu kecil dan hingga dewasa ia mengenyam rasa hidup yang mewah. Tampa ada yang membatasi dan menegurnya. Tetapi saat ini dengan usia yang mencapai 40 tahun pria itu lebih banyak merenung untuk hari depannya.


Lelaki itu tidak lagi pernah terlibat bersama wanita yang biasa mengisi waktu senggang jika tidak sibuk di kantor. Mengisi kekosongan dengan bermain banyak perempuan.


"Apa agendaku hari ini Mala.?" Alex bertanya pada sang sekretaris.


"Hari ini, agenda kerja Tuan tampaknya tidak terlalu sibuk. Tuan hanya akan menerima tamu sesudah makan siang nanti." Ucap sekretaris itu dengan sopan.


"Oh, baiklah jika demikian. Kau boleh pergi."


Sekretaris itu lalu meninggalkan ruangan. Dan menutup pintu dengan perlahan.


Alex tinggal sendiri dalam ruangan Ceo yang sangat besar. Dominasi warna putih dan biru menghiasai ruangan itu.


Pria itu menatap jauh keluar jendela ruangan. Tetesan air hujan dan angin menerpa kaca ruangan Ceo itu. Entah apa yang sekarang ia pikirkan.


Ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia membolak balik semua berkas, ia sebenarnya sangat tidak fokus hari ini, tetapi ia menghilangkan semua rasa yang tidak nyaman di kepalanya itu untuk bekerja.


Ia terus memantau dari kejauhan bodyguard dan asisten yang menjaga Alma yang saat ini berada pada posisi lapangan. Alma sebentar lagi akan wisuda untuk itu ia harus KKN dulu di lapangan. Alex sangat mencemaskan situasi Alma dan jaminan keselamatan padanya.


"Sekarang data yang telah diambil dan bagan struktur untuk keperluan laporan KKN kita pada Perusahaan Wijaya selesai, aku telah memasukkan datanya pada Flashdisk kita Alma." Ujar Elsa dengan banga.


"Ah, aku sangat senang akhirnya KKN kita telah selesai. Kita sekarang akan mempersiapkan Skripsi dan laporan akhir saja kalau begitu."


"Tentu saja semua kita akan senang." Seru Mahasiswa yang lain.


Dalam pembagian kelompok Mahasiswa yang sedang KKN Itu terbagi dalam 10 kelompok. Mereka di beri bimbingan untuk magang dalam sesuai dengan petunjuk dan arahan dosen bimbingan mereka.


Alex sebenarnya berusaha bagaimana caranya agar Alma bisa magang di lokasi Perusahaannya saja. Tetapi gadis itu menolaknya. Alma beralasan jika dia magang pada lokasi proyek tempatnya sendiri. Para asisten dan bawahan Alex tentu saja dengan engan menegur atau menasehati dirinya. Dia tidak mau nilai yang di dapatkan adalah kaena belas kasih bukan usahanya sendiri.


Oleh karena itu ia memilih Perusahaan lain yang sedang dalam proyek Besar.


Ia memilih daerah Petapahan sebuah daerah yang juga sedang berkembang pesat di sebelah Barat kota. Sama seperti Daerah Milano, di mana terdapat Hotel dan juga Minimarket yang di bangun Alex pada waktu Alma berumur 7 tahun. Saat ini Hotel dan Mini Market itu berkembang dengan sangat pesat.


"Karena KKN kita telah selesai, bagaimana kalau kita membuat acara malam nanti. Kita merayakannya. Ini adalah momen kita tema-teman." Ucap Elsa memberikan usulan.


"Ya kita akan buat acara, untuk mengenang betapa sulitnya kuliah dan untuk mendapatkan nilai yang baik." Salah satu teman yang lain menimpali.


"Aku sangat tidak menginginkan jika salah seorang dari kalian yang tidak hadir. Karena ini adalah kebersamaan kita yang terahir." Ucap Ketua kelompok yang bernama Teguh.


"Ya, kamu jangan tidak pergi ya Alam." Ujar Dinda membujuk.


Mereka sangat paham jika Alma selalu menolak ajakan mereka untuk berkumpul atau hanya nongkrong di sebuah Kafe.


Memang dasar anak rumahan. Itu yang biasa mereka sebut jika Alma selalu menolak. Tetapi tidak untuk saat ini Alma harus ikut karena ini adalah moment terahir bagi mereka.


Alma berpikir sebentar dan akhirnya gadis itu mengangguk tanda setuju.


"Horeee." ucap teman yang lain dengan serentak.


"Kita akan mengadakan acara pada pukul 8 di Kafe Amazon ya teman, jadi jangan ada yang telat dan juga tidak hadir." UjarTeguh kembali menimpali.


"Tentu saja kami akan datang." Teman Alma yang lain menjawab dengan serentak dan penuh semangat.


Dinda dan Alma belum beranjak duduk dari tempat semula.


"Aku akan telpon Uncle dulu, aku tidak mau nanti akan marah dan mencemaskan ku." Ucap Alma pada Dinda.


"Ngak usah minta ijin Alma, janti juga pasti ngak bakalan di ijinkan. Uncle mu ngak bakalan tahu karena kita sangat jauh dari kota tempat kita berada." Saran Dinda pada Alma.


"Tetapi aku merasa ngak enak aja Din, pergi tanpa restu dari dia." Tanpa menunggu jawaban Dinda Alma menelpon Alex.


"Ya sayang Uncel ada apa, Magangnya telah selesai?" Cecar Alex dengan beruntun pertanyaan.


"Magangnya telah selesai Uncle, hanya saja..,"


"Ada masalah sayang," terdengar nada kwartir di seberang sana.


"Apa boleh, nanti malam aku pergi bersama teman Uncle. Merayakan keberhasilan magang kami dan hari terakhir kebersamaan kita di kampus Uncle." Alma menjelaskan panjang lebar.


Hening tidak ada jawaban.


Mungkin saja kali ini aku tidak mendapatkan ijin darinya. Ya tidak apa-apa juga. Aku tidak mau menjadi orang yang tidak menghargai sebuah keputusan desis Alma dalam hati.


Tidak lama kemudian setelah sekian lama tidak ada Jawaban dari Alex.


"Kali ini Uncle, mengijinkan dirimu pergi. Jaga dirimu baik-baik. Pulang dengan cepat setelah acara itu jangan lewat dari jam 10 malam."


"Terimakasih Uncel. Alma sayang Uncle..cup.." Terdengar Alma tertawa riang dan seperti memberikan sebuah kecupan.


"Ya Uncle juga sayang Alma. Jaga dirimu baik-baik. Setelah semua urusan selesai bergegas lah untuk pulang!"


"Siap Uncle."


Sambungan Handphone pun terputus.


Alex memandang kemblai ke luar jendela kantor. Ia masukkan tangannya pada kantong celana. Pria itu menatap kembali serpihan hujan yang turun di sore itu. Entah mengapa jiwanya seakan kosong. Selama sebulan penuh hatinya terasa sepi. Ia takut menelpon ponakannya itu, walau hatinya merasa sangat kesepian. Ia hanya bisa memantau dari jauh, segala aktivitas yang di lakukan Alma.


"Siapkan orang-orangmu, aku ingin kau melakukan pengawalan ketat pada ponakanku. Jangan sampai mengetahui di awasi dan juga dijaga dengan ketat." Alex menelpon seseorang dengan suara dingin dan datar dan muka yang tampak ekspresi.


"Baik Tuan."


Pria itu kemudian bergegas keluar dari halaman kantor dan dengan cepat menuju rumah mewah mereka.


Tidak lama berselang, ia juga telah keluar kembali dengan baju kaos dan kemeja coklat bersama dengan celana jeans warna hitam dan tidak lupa kacamata hitam bertenger di hidungnya yang mancung.


Bersambung