
Alma benar-benar sangat bahagia ia telah sampai bersama Rey di area Pantai, walau hari telah beranjak petang.
Gadis cantik yang sebentar lagi akan menikah itu, begitu bahagia. Ia berlari-berlari seperti gadis kecil yang mulai besar. Ia menarik tangan Rey agar juga ikut bergabung dengan dirinya.
Mau tidak mau Rey mengikuti kemauan Alma. Mereka seperti anak-anak kecil, berlari dan dan saling bersenda gurau. Alma sangat merasa senang petang ini.
Tetapi sejurus tidak lama kemudian, gadis cantik itu merasakan sesuatu yang lain. Ia baru menyadari akan sesuatu, namun terlambat sudah.
Alma yang terdiam sejenak tidak luput akan perhatian dari Rey.
"Alma ada apa?"
"Rey, aku.."
Dengan sangat cepat Rey mendekati Alma yang terlihat sangat pucat, bibirnya membiru serta kulitnya terlihat merah seperti kepiting rebus.
Tubuh gadis itu terlihat tidak dapat untuk berdiri dengan sempurna, Alma hampir saja jatuh jika saja Rey tidak cepat menangkap tubuhnya.
Rey mendengkap erat Alma yang tidak sadarkan diri.
Rey terlihat sangat panik, bagaimana tidak barusan saja dalam beberapa menit yang lalu gadis itu terlihat baik- baik saja. Tetapi mengapa dalam hitungan menit kemudian ia terlihat dalam keadaan yang menyedihkan.
"Alma ada apa ini, ada dengan diri mu?"
Rey memeluk gadis itu dengan penuh rasa kekawatiran. Orang yang ada di sekitar pantai juga terlihat merasa sangat heran.
Rey dengan cepat mengendong tubuh Alma dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Terlihat Rey menelpon seseorang dan kemudian melajukan mobil menuju rumah sakit.
Alma terlihat sangat pucat, kulitnya terlihat memerah dengan suhu tubuh yang mendadak juga ikut naik. Sesekali kali bibir Alma mengeluarkan racauan yang kurang jelas. Rey sedikit tidak memperhatikannya karena baginya saat ini ingin segera sampai pada rumah sakit dengan segera.
Pria berpostur tegab itu memakirkan mobil di depan pintu depan ruang UGD dengan di sambut cepat oleh petugas rumah sakit.
Rey merangkul Alma dan membawanya ke ranjang dorong pasien.
"Uncle.., tolong jangan pergi.." sesekali terdengar suara Alma yang lagi tidak sadar menyebut sang Uncle.
Itu semua tidak luput dari perhatian Rey, tetapi wajah tampan itu terlihat tidak menampilkan ekspresi apapun.
Perawat dan dokter menutup pintu ruangan, mereka mempersilahkan agar Rey menunggu di luar saja.
Tidak lama berselang mobil mewah yang dibawa oleh Alex juga tiba di rumah sakit, pria matang itu datang seorang diri tampa di temani seperti biasa pada sopir pribadinya.
Pria itu dengan segera masuk pada ruang rumah sakit, tidak sulit untuk mencari ruangan dimana Alma sedang ditangani. Di pintu ruangan UGD ia bertemu dengan Rey yang terlihat sangat cemas dan bingung.
"Ada apa ini sebenarnya Rey, apa yang terjadi?" Ada nada kesal dan juga kecewa pada nada ucapan pria itu.
"Aku tidak tahu sama sekali Tuan Alex, jika Alma alergi pada pantai, dan ia juga mengancam ku, agar tidak memberi tahu mu."
Rey berkata dengan nada sangat menyesal dan sama sekali tidak mengetahui akan hal ini.
"Ya sudahlah, ia memang gadis yang kadang keras kepala." Alex berkata dengan nada datar.
Pintu ruangan kemudian terbuka, di sana terlihat dokter berdiri dengan seragam putih dan juga beberapa orang perawat.
"Kelurga pasien terutama unclenya.!"
Sontak saja kedua lelaki itu saling berpandangan.
"Hmm.. sebaiknya Tuan saja yang masuk."
Kedua lelaki itu lalu masuk melihat kondisi Alma yang masih belum sadar, jarum infus telah bersarang di lengan gadis itu sementara baju Alma yang tadinya basah sekarang telah berganti dengan seragam baju pasien.
Alex mendekati gadis itu di tepi ranjang pasien.
"Gadis kecil yang sangat keras kepala," desis Alex sambil mengelus kening Alma.
"Uncle..aku..takut.."
Kembali terdengar suara Alma mengingau dan memangil namanya.
"Tenanglah Alma Uncle di sini."
Alex kembali memegang kening dan juga jemari lentik milik ponakannya itu. Walau suhu tubuh Alma begitu terasa sangat panas.
Sementara Rey, berada pada sudut ruangan. Sejak tadi ia memperhatikan bagaimana Alma begitu bergantungnya pada sang Uncle, bahkan dalam tidur dan dalam sakitnya gadis itu tetap bisa menyebut nama orang yang sudah membesarkan gadis itu.
Dan bagaimana suatu saat nantinya jika gadis itu telah resmi menjadi istrinya, apakah ia akan terus menyebut nama Alex di setiap sakit dan tidurnya, Rey membatin dalam hati.
Tetapi cinta agaknya tidak akan pernah untuk mengatakan menyerah. Terlihat Rey sangat tenang dan tersenyum tipis walaupun melihat sesuatu di depan matanya yang mungkin saja membuatnya cemburu.
"Tuan Alex, sebaiknya aku pulang. Aku juga mau berganti baju dan membersihkan diri." Ujar Rey undur diri.
Terlihat Alex berpikir sejenak.
"Baiklah, tetapi ku harap setelah itu secepat balik ke mari, karena anda calon suami nona ini." Alex tersenyum tipis dengan nada yang sedikit lucu.
"Baiklah."
Perawat dan dokter yang masih di ruangan itu tersenyum dan memberikan tempat agar Rey bisa melangkah keluar.
Dokter yang menangani Alma tidak lagi merasa terkejut akan hal ini, karena kejadian ini sering terjadi sebelum Tuan Alex sakit.
Namun yang membuat dokter kemudian bertanya dalam hati gadis yang telah beranjak dewasa itu, tetap saja seperti gadis kecil yang dulu. Ia sangat tergantung pada Tuan Alex, ia tetap manja padahal sebentar lagi akan bersuami, wah..wah..cocoknya Tuan Alex yang menjadi suaminya bukan barusan pria tampan yang barusan keluar dari ruangan itu, dokter perempuan itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Apa yang ada sesuatu yang serasa membuatmu terasa geli, bu dokter Aida?"
Alex menatap dokter separuh baya itu dengan serius.
"Tidak ada Tuan Alex, seperti biasa Alma tidak bisa terkena cuaca pantai serta air yang ada di sana. Agaknya ia merasa sekarang sudah sangat sehat dan tidak pagi ingin menghindar dari pantangannya. Tetapi Tuan jangan kwawatir. Kami telah menangani Alma dengan baik setengah jam nanti ia akan sadar dan kemerahan pada tubuh akan berangsur membaik."
"Terimakasih dokter Aida." Alex kembali bernafas lega.
"Kalau begitu kami permisi," pamit dokter itu masih dengan wajah penuh senyum.
Alex kemudian melihat kembali wajah dokter Aida saat ini, dokter yang sudah menjadi sahabat lamanya itu terkesan bukan tersenyum karena ramah melainkan ada sesuatu di sana.
"Dokter tunggu dulu." Cegah Alex ketika dokter itu ingin meninggalkan ruangan.
"Ya."
"Ada apa dengan wajah yang tidak seperti biasanya ku lihat, cengengesan seperti anak Abg ?"
Kemudian dokter Aida mendekat pada Alex dan membisikkan sesuatu.
"Aku sangat yakin dengan feliingku, jika kau saat ini tak layak menjadi Unclenya akan tetapi kaulah yang layak menjadi suami nona Alma."
Dokter Aida keluar tetapi sekarang dengan muka yang sangat serius. Meninggalkan Alex yang mendadak gusar dan debaran jantung yang tidak seperti biasanya.