
Hamdan telah selesai dengan makan malamnya bersama dengan Alma dan Bi ana. Ia juga berpesan pada Bi Ana agar menjaga Alma dengan baik, karena beberapa hari kedepan ia akan keluar daerah.
Kepada satpam dan asisten yang lain, Hamdan juga memanggil mereka. Pria itu mengingatkan agar tidak lengah pada Alma, jika sewaktu-waktu Amira bertindak kasar lagi pada bocah itu.
Pria itu kemudian sampai pada kamarnya. Ia mendapati Vas bunga yang berantakan, pecahan kaca berada di mana-mana. Sungguh Hamdan bertambah kesal pada wanita yang menjadi istrinya itu.
“Sebenarnya apa maumu sekarang Amira, kalau kau selalu berbuat kasar dan keras kepala. Aku juga tidak akan peduli dengan anak yang ada dalam perutmu saat ini!”
“Aku ingin kita bercerai sekarang juga, aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini yang ku mau kau juga harus angkat kaki dari sini, bersama dengan bocah sialan itu!” Amira terlihat sangat marah dan kesal, bahkan dengan beraninya lagi ia maju mendekati Hamdan dan mencengkam baju pria itu dengan kasar.
“Aku tidak mau sama sekali untuk bertindak kasar padamu Amira tetapi jika kau sangat memaksa pa boleh buat.”
“Kau lelaki yang tidak sadar di untung, menikmati tubuhku dan menanamkan benih di sana kemudian dengan seenaknya kau menikmati harta kekayaan yang kumiliki.!!”
Hamdan melepaskan cengkraman tangan Amira pada baju kaosnya, ia menghempaskan dengan sangat kasar. Bahkan tubuh itu disandarkan pada tembok.
“Kau ingin melihat sisi jahatku padamu istriku, ini adalah kalimat terakhir yang aku katakan padamu!” Tangan Hamdan sudah melayang di udara dan sebentar saja mungkin saja akan sama pada pipi mulus Amira, tetapi akal sehat pria itu masih saja tersisa. Ia mencengkram mulut Amira yang betul-betul terasa sangat kotor dn berbisa.
Sejenak Amira terdiam, melihat Hamdan hampir saja menampar pipi perempuan itu. pikiran sadar perempuan itu lumayan berjalan juga. Bagaimanapun saat ini, posisinya memang tidak sangat menguntungkan, Hamdan punya bukti yang kuat tentang dirinya. Hamdan juga punya andil besar dalam perusahaan yang dipimpinya saat ini.
“Hiks,,hiks” Amira mulai menangis. Ia akan mencari cara setelah ini agar Hamdan kembali mencintainya dan perusahan itu, harus direbut kembali pikirnya dengan licik.
Hamdan yang melihat Amira menangis, hatinya yang tadi keras dan sangat marah pada perempuan itu sejenak mulai melunak.
Hamdan kemudian melangkah kembali pada ruang bawah rumah mereka dan menjadi pelayan yang baru saja membersihkan meja makan mereka.
“Pelayan bersihkan kamar nyonya kalian dan bawa makan malam untuk beliau. Dan Bi Yani, bersihkan kamar tamu, karena malam ini aku kan beristirahat di sana.”
“Baik Tuan.” Pelayan itu serentak menjawab perintah Hamdan.
Sementara itu di rumah Indah mereka juga baru saja selesai makan malam bersama sang suami.
“Tumben masak enak Ndah?”
“Ya, mas aku baru saja gajian.”
“Bagus kalau begitu, minta uang aku mau keluar bersama teman-temanku malam ini!”
“Tetapi mas, uang itu untuk persiapan kita sebulan ini. Lagian kontrakkan kita belum juga mas dibayarkan?”
“Ya, gimana aku mau bayar. Sampai saat ini aku belum bekerja, makanya kasih aku uang dulu. Aku mau jumpa dengan teman-temanku, mana tahu bisa dapat kerjaan.”
Pria yang bernama Anton itu lalu mendekati Indah. “Cepat kasih aku uangnya aku mau pergi nih.”
Sang Istri kemudian masuk kedalam kamar dan mengambil dompetnya. Ia mengulurkan beberapa lembar uang pecahan ratusan.
“Tetapi aku lupa mas, besok aku ada acara di bawa bu Sandara ke lokasi Proyek.”
“Terserah, yang jelas aku mau uangnya sekarang!” Anton mengambil uang berada dalam genggaman sang istri.
“Wah, mana cukup segini.” Ia lalu mengambil paksa uang yang ada dalam dompet Indah dan mengambil semuanya.
“Ini baru cukup, pergilah bekerja dengan keras. Cari uang yang banyak, agar suami tidak repot-repot bekerja.” Ia tersenyum puas dan mendorong tubuh sang istri hingga terjatuh.
“Mas, jangan ambil semuanya, aku mohon. Itu uang untuk bayar kontan rumah mas.!”
Indah menangis histeris mengejar suami yang hilang di balik pintu. Dan tidak lama berselang ia telah meninggalkan rumah, terdengar suara honda matic yang dipacu dengan sangat kuat. Indah menangis duduk lemas meratapi kepergian anton sambil memegang dompetnya yang telah kosong.
Dengan lemas ia kembali ke dalam rumah, ia mengemasi semua baju dan perlengkapan yang akan dibawanya ke lokasi pekerjaan bersama dengan Bu Sandra esok hari.