I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Tembakan yang tak Mengenai Sasaran



Alma kembali terkekeh.


"Tapi sekarang aku berubah pikiran Alma. Maukah kau membuat wedang Jahe itu seumur hidup mu untuk ku?"


"Apa maksudnya Rey,,aku sama sekali tidak paham. Kamu meminta aku membuat wedang jahe seumur hidup ku untuk mu, aku benar-benar gagal paham Rey."


Baru saja Rey ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba asisten Alma datang menghampiri mereka.


"Maaf Nona muda, Tuan Alex terlihat tidak mau membersihkan diri dan juga memakan obat yang ada." Leon menundukkan mukanya ia merasa sangat bersalah karena gagal untuk membujuk Tuan mereka dan sekarang mengusik waktu santai Nona mudanya yang hanya bersantai walau hanya sesaat.


"Tidak apa Leon, aku akan ke atas sekarang juga." Ucap Alma dengan cepat.


Leo lalu meninggalkan tempat itu dan juga segera ke lantai atas.


Rey yang melihat itu tidak dapat melanjutkan penjelasannya pada Alma. Mungkin ini bukan waktu yang sangat tepat batinya lagi.


"Rey aku ke atas dulu ya. Apakah kau tetap di sini dulu? aku akan menyiapkan makan malam untukmu?"


"Baiklah, aku akan segera pulang. Pergi dan lihatlah Uncle mu, mungkin saja ia sangat butuh sesuatu."


"Terimakasih Rey, telah mampir ke sini."


"Oce, aku pulang sekarang."


Alma merasa tidak enak hati, ia mengatakan lelaki tampan itu hingga teras depan.


Rey masuk pada mobil dan membunyikan klason. Ia kemudian berlalu meninggalkan rumah besar yang di tempati Alma.


Alma dengan bergegas masuk pada rumah dan menuju lantai atas.


Sekarang gadis itu telah berada pada kamar Alex. Alex mematung pada kursi roda. Terlihat mukanya sangat datar. Ia sama sekaki tidak menuruti ketika Leo menganti bajunya pria terlihat marah. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh Leon untuk meninggalkan kamar.


"Uncle apa yang terjadi?"


"Mengapa Uncle tidak mau mandi dan juga meminum obat? adakah yang salah?"


Alma lalu mendekati pria itu dan berjongkok di depan kursi roda milik Alex.


"Ayo, Sekarang kita mandi, biar bersih dan wangi ya. Setelah itu nanti Uncle makan dulu kemudian minum obat." Alma berkata dengan lembut dan menyeka keringat yang sedikit ada fi kening pria matang itu.


Alma mulai membuka switer dan juga kaos putih dalaman pria itu. Terlihat tubuh Alex yang sangat atletis walaupun sedikit agak kurusan dari biasanya. Pria itu tidak menolak dan hanya diam saja tidak ada penolakan sama sekali.


Mungkinkah Pria itu hanya mau di urus oleh Alma. Sedangkan tadi ia terlihat sangat menolak jika Leo membawanya untuk membersihkan diri.


Alma kemudian mendorong kursi roda itu ke dalam kamar mandi. Di sana telah di siapkan air hangat, sabun cair dan odol gigi untuk pria itu.


"Apakah Uncle sangat tidak suka jika Leon yang mengurusi Uncle?" Alma sambil mengusap lembut tubuh dan pundak Alex dengan spon lembut. Aroma sabun cair yang lembut membuat Alex semakin merasa sangat nyaman. Syarat tubuh dan juga bagian kaki yang tersiram air hangat mulai terasa seperti disentuh.


Pria itu mulai sedikit demi sedikit mengerakkan kaki dan juga tanganya.


"Uncle, aku melihat kaki mu telah mulai digerakkan perlahan. Apakah Uncle bisa merasakannya?"


Alma berhenti menyabuni dan menggosok kaki Alex ia menatap pria itu dengan lembut.


Alex hanya terdiam. Ia sama sekali engan untuk bicara. Baginya saat ini, ia hanyalah benalu yang akan menyusahkan Alma dan juga Rey.


Hatinya dan perasaan pria itu seakan tertekan. Kapan ia akan kembali pulih seperti semula? Dan sampai kapan ia akan selalu merepotkan Alma? pria itu hanya termenung. Tidak ada saat ini semburat senyum yang biasa Alma lihat sebelumnya.


Alma mengetahui mungkin saja Mood sang Uncle lagi sangat tidak baik pikirnya lagi.


"Ya sudah, Uncle jangan berpikir macam-macam yang jelas tetap semangat Uncle pasti sembuh. Oh, ya sudah lama Uncle tidak keramas. Rambut mu sedikit agak apek."


Alma mencium rambut Alex dan kemudian menjauhkan hidungnya pada rambut itu dan tersenyum.


Gadis itu kemudian mengambil shampo yang juga beraroma rempah dan terapi di rak sabun. Ia kemudian menuangkan shampo itu di telapak tangan kemudian mengusapnya dengan lembut pada rambut Alex.


Terlihat gadis itu begitu tulus. Ia sangat menyayangi sosok pahlawan yang telah banyak berjasa dalam membesarkan dirinya dan ia tidak akan pernah lupa akan hal itu.


Sampai pada akhirnya ia harus menganti boxer milik Alex yang telah basah. Ia menutupi celana itu dengan handuk besar dan menarik nya ke bawah.


Ya seperti itu sebelumnya hingga mata Alma tidak ternodai dengan bentuk intim lelaki itu.


Tetapi bagaimana dengan pria yang sebenarnya sangat normal. Walaupun ia terlihat lumpuh. Tetapi hasrat lelaki itu sangat normal. Rudal panjangnya itu seakan ingin mulai bangun walaupun Alma menyentuhnya dari luar dengan handuk besar. Ia merutuki sendiri mengapa adik kecil bisa terbangun sementara bagian yang lain sama sekali tidak bisa bergerak.


Tetapi syukurlah Alma sama sekali tidak menyadarinya. Ia sangat sibuk mendorong kursi roda keluar kamar mandi dan menyiapkan pakaian untuknya.


Pria itu seakan seperti bayi yang baru lahir, di mandikan, dipasangkan baju, dipasang lotion dan juga bedak tabur.


Ah, sekarang ia telah selesai memandikan bayi tua yang tampan itu. Ia kemudian memberikan minuman air putih pada Alex. Ia takut Alex merasa haus.


"Sekarang Uncle tunggu di sini, aku juga akan mandi. Uncle santai dulu. Aku akan menghidupkan televisi."


Alma mengambil remote tv agar Alex dapat santai setelah mandi karena ia juga akan membersihkan diri karena kaos dan juga celana setengah lutut yang di pakai Alma telah sebagian basah karena memandikan pria itu.


Tidak lama Alma juga selesai dengan acara mandinya. Ia telah memakai baju lengkap yang dibawanya saat masuk ke lamar mandi.


"Kita akan makan setelah ini, dan uncle jangan menolak meminum obat biar cepat sembuh."


Gadis itu dengan lembut menyentuh lengan Alex.


Ia kemudian mengambil sisir, menyisir rambutnya yang juga terlihat masih setengah basa. Memakai bedak tabur dan juga lotion.


Alma begitu cantik dengan kecantikan yang sangat natural. Pria itu memandang lekat sosok tulus yang merawatnya saat ini.


Haruskah seumur hidup dan hari-hari muda Alma hanya untuk mengurus ku? Mengapa Tuhan sampai saat ini aku belum juga bisa sembuh. Apakah aku menuai semua dosa yang aku perbuat hingga harus seperti ini. Alex menyesali semua yang ia perbuat. Mungkinkah ini karma dan mengapa Alma juga menanggung akibat dari perbuatannya?


Haii..para pembaca setia di sini, ayo tekan love, vote dan luke yang banyak ya. Penulis tanpa pembaca ibarat rumah tampa tiang hehe..😁