
Mobil Rey saat ini telah sampai di parkiran rumah sakit. Tidak lama ia juga telah sampai pada ruangan Alma. Gadis itu telah membukakan pintu ketika ketika Rey mengetuk pintu ruangan Alex yang tertutup rapat.
Alex yang masih dalam kondisi seperti tertidur. Namun pria itu dengan sangat jelas mendengar ketika Rey datang ke dalam ruangan. Derap langkah kaki yang mendekati di pembaringan tempat ia dirawat.
"Rey." Ucap Alma menyapa lelaki itu.
"Ya, bagaimana keadaan tuan Rey?"
"Dia baik-baik saja Rey. Aku juga tidak tahu mengapa sampai saat ini ia juga belum sadar." Suara Alma terdengar sangat lirih terdengar.
Sejenak Rey menatap Alex yang sedang tertidur. Ia melihat jarum infus yang terus terpasang pada lengan pria itu. Ia juga melihat tangan kanan Alex yang terlihat menbengkak.
"Jika kau mau kita bisa memindahkan Uncle mu ke luar Negri. Di sana akan ada pengobatan terbaik yang akan di jalani oleh Tuan Alex. Tetapi sebelum itu kita harus meminta bantuan dari dokter agar memindah jarum infus Tuan Alex ke sebelah kanan."
"Tentu saja aku mau Rey, aku akan melakukan yang terbaik untuk Uncle."
"Baiklah aku akan memanggil perawat dulu."
Alex yang mendengar itu semua hanya dapat mengucapkan penyesalan yang tidak ada habisnya. Ia adalah malaikat penolong saat ini. Semua seakan dalam kendali Rey. Jika saja Rey tidak ada nyawanya pasti tidak akan tertolong. Sekarang nyawanya tertolong tetapi mengapa ia belum juga bisa menggerakkan tubuh dan membuka matanya. Ia seakan telah menjadi mayat hidup sekarang.
Sementara itu Alma masih saja memegang tangan Alex dengan lembut.
"Uncle mengapa kau belum juga sadar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang tanpa bantuan Rey. Ku harap sadarlah cepat Uncle. Aku sama sekali belum bisa sendiri." Rintih Alma sambil mengusap kening Alex dengan lembut.
Alex yang mendengar kembali merasa sangat bersalah. Aku masih terlambat untuk membuat mu mandiri. Aku belum sepenuhnya mendidik mu agar kau kuat walau aku tidak ada lagi di sisi mu desis Alex dalam hati.
Apa yang akan terjadi selanjutnya Alma, jika aku benar-benar tidak bisa sadar. Apa yang akan terjadi pada Perusahaan dan juga Aset kita yang telah ada. Apa kau bisa mengendalikan dan mengelolanya? Itu yang yang aku takutkan selama ini. Hal yang menakutkan sekarang malah terjadi. Pria itu terus berucap dalam hati.
Perawat masuk ke dalam ruangan bersama dengan Rey.
"Sebenarnya hal ini tidak apa-apa Tuan, tangan kanan Pasien membengkak hal itu wajar saja. Karena masuknya cairan pada lapisan kulit." Ucap perawat laki-laki itu sambil membuka jarum infus pada lengan Alex.
"Maksud anda tidak apa-apa bagaimana? jadi karena kami orang awam anda bisa membodohi kami. Saya membayar fasilitas rumah sakit ini dengan harga yang tidak sedikit. Anda jangan pernah untuk membodohi kami. Jika membengkak anda bisa memindahkan pada daerah lain, mengapa harus menunggu perintah dari kami. Sekolah di mana anda kemaren jawaban seperti itu yang anda lontarkan."
Perawat itu terlihat pucat pasih. Mukanya pias menahan malu. Jangan pernah untuk membodohi pasien, karena tidak semua pasien bisa dibodohi, bisa saja pasien adalah orang medis, apoteker bahkan dokter yang juga sedang dalam perawatan.
"Maaf Tuan saya permisi." Kata-kata itu yang barusan keluar dari bibir perawat yang telah menyelesaikan tugasnya berlalu dari hadapan Rey dengan menunduk ketakutan.
Saat ini jarum infus telah berpindah pada tangan Alex sebelah kiri. Alma melihat itu semua merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Rey. Lelaki itu lagi-lagi membuat perhatian dan pertolongan untuk Alex.
"Terimakasih Rey, entah bagaimana aku harus mengucapkan terimakasih atas bantuan dan pertolongan yang kau berikan."
"Tidak perlu merasa malu dan juga canggung. Kita akan berupaya agar Alex segera sadar. Karena di luar sana Alma saat ini membutuhkan kinerja dari Uncle mu. Perusahaan tentunya akan kehilangan sosok pemimpin. Sementara penganti sementara saja belum ada bagaimana keadaan ke depan nasib Perusahaan selanjutnya. Maka dari itu aku ingin membawa Alex keluar negri agar mendapatkan perawatan yang lebih baik."
Alex yang sedari tadi menyadari tindakan apa saja yang dilakukan Rey padanya membuat pria itu tidak henti-hentinya bersyukur. Sekarang pria itu akan membawanya keluar Negri. Ya Tuhan berikan kebahagiaan untuk laki-laki ini dan umur yang panjang, dan berikan pada padaku juga kesempatan untuk melihat dunia kembali ucap Alex dalam hati.
"Apakah kau sudah makan?" Tanya Rey pada Alma yang dari tadi sesekali melirik pada Rey dan kembali fokus pada Alex.
"Aku sudah makan, lain kali jangan banyak sekali memesan makanan Rey. Sangat mubajir karena yang makan aku sendiri. Tidak ada orang lain di sini."
"Baiklah, aku akan meminta surat rujukan dan rekomendasi dari rumah sakit agar kita bisa dengan segera membawa Alex keluar dari rumah sakit ini."
"Terimakasih Rey,"
lelaki itu lalu pergi ke luar ruangan. Ia menuju di mana ruangan dokter yang menangani pasien.
Alma kemudian mengemasi semua barang-barang yang diperlukan, dan yang tidak merasa perlu ia meninggalkan di ruang rawat Alex agar bisa di ambil asiaten untuk di bawa pulang.
Tidak memerlukan waktu lama, Rey telah kembali dengan surat yang diperlukan untuk membawa Alex keluar dari rumah sakit itu dan membawanya ke luar Negri.
Rey telah sampai pada ruangan. Alma juga telah bersiap-siap dengan barang yang telah di kemas.
Rey meraih Handphone yang ada di tas sandang yang melingkar pada dadanya.
"Indra segera kau urus semua keperluan Tuan Alex untuk dibawa ke Rumah sakit di Singapura. Aku menginginkan jika setelah kami sampai di sana. Pihak rumah sakit dengan segera menangani pasien. Kau uruslah semuanya. Jangan sampai kami menunggu lama diantarian karena keteledoran mu."
"Baik, dan siap Tuan."
Terdengar jawaban dari seberang sana, dan sambungan telpon pun lalu terputus.
"Apakah ada nomor dari pihak perusahaan atau asisten yang di percaya Alma?"
"Ada Rey, untuk apa?"
"Berikan padaku, aku akan menghendle sementara waktu di saat Alex belum sadar. Jangan sampai orang-orang tertentu akan mengunakan kesempatan ini untuk menghancurkan Perusahaan di saat Alex terbaring sakit.'
Alma kembali terkejut dengan sikap dan tindakan Rey yang sebenarnya sangat cepat mengambil tindakan. Beberapa hari ini ia sama sekali belum berpikir jauh ke sana. Ia hanya memikirkan rasa sedih, haru dan terus menerus menggerogoti dadanya. Sebenarnya masih banyak lagi yang harus di pikirkan selain kesedihannya itu.
Bersambung