
Alex telah sampai cepat dari pada biasanya pulang ke rumah. Ia langsung menanyakan pada Bi Ana dan Asisten lain keberadaan nona mudanya itu.
Semua orang menjawab tidak tahu, karena biasnya juga Alma tidak pernah pulang sore itu.
Kemana si nona kecil itu, apakah karena sudah bisa membawa mobil jadi harus berkeliaran dan tidak langsung pulang ke rumah desis Alex merasa sangat kesal.
"Pak Damar, coba cek pada pihak kampus Alma pulang jam berapa?" Alex memberikan perintah pada asiaten Damar.
Pria tampan yang masih mengenakan seragam kerja itu harus bolak balik, ia terlihat kesal dan juga sekaligus merasa sangat takut jika terjadi sesuatu pada sang ponakan tersayangnya itu.
Ia berjalan ke lantai atas dan juga ke lantai bawa, sambil memencet panggilan pada handphone milik Alma yang tidak kunjung di angkat.
"Bagaimana Pak Damar? jam berapa Alma keluar dari kampus hari ini?"
Tunggu sebentar pak, pihak kampus baru saja mengecek jam berapa mahasiswa semester ganjil keluar pada hari ini."
"Ah, mengapa harus begitu lama mengecek Mahasiswa saja pulang begitu sulit, macam mana ni kampus tempat kuliah Alma." Protes Alex dengan sangat kesal.
Tidak lama kemudian pak Damar mendapat penggilan telepon dari pihak kampus.
"Tuan Alex, Mahasiswa semester ganjil telah pulang pada jam setengah empat sore." Ujar Damar dengan sopan dan menunduk.
Pak Damar pasti sangat paham akan tuan Mudanya itu, jika ia sangatlah mengkhawatirkan Alma. Maka asisten yang berada di rumah itulah nantinya yang akan kena amukan tuan mudanya
"Damar, tetapi ini sudah jam 6 sore, Alma belum juga kembali. Kau coba cek dengan siapa ia pulang, aku sangat tidak mau terjadi sesuatu apapun pada ponakanku itu!"
"Dan kalian asisten yang lain, jangan berdiam diri. Kerjakan apa yang kalian bisa agar cari informasi kemana Alma pergi dan belum pulang jam segini!" Alex terlihat sangat kwartir dan juga sekaligus marah.
Asisten yang lain kemudian berlalu, ia sangat takut terkena imbas kemarahan dari Tuan mudanya itu, jalan yang terbaik adalah turuti kemauannya atau menjauhkan diri dari api yang sedang mengamuk itu.
Tetapi dari tadi, sepuluh menit yang lalu Alma sebenarnya telah sampai, ia memberi isyarat pada penjaga dan asisten lain jika ia telah sampai. Kali ini, ia akan mengerjai Unclenya itu.
"Bagaimana pak Damar, apa kau sudah mendapatkan Info Alma pulang sama siapa dan jam berapa?"
"Belum juga ada Info dari pihak kampus Tuan." Pak Damar menahan senyumnya, ketika Alma memberikan isyarat padanya.
"Kau sungguh sangat tidak bisa di andalkan Pak Damar!" Alex membalikan punggungnya dan ingin segera ingin melangkah keluar rumah.
Tetapi ketika ia baru saja dua langkah ingin keluar, Alma telah berada 2 langkah di depan sang Uncle.
"Mengapa kau tidak mengangakat handphone ku, apa kau terlalu sibuk Alma!!" Kali ini Alex benar-benar terlihat sangat marah.
Niat hati rupanya hendak mengerjai sang Uncle, tetapi apa yang terjadi pria itu benar-benar terlihat sangat marah.
Mengapa Uncle sangat marah, hari juga baru menunjukan jam 6 sore, bukan larut malam. Lagian tadi juga Dinda dan Tino minta diajak jalan-jalan. Untung -untung juga, sambil belajar nyetir biar terbiasa desi Alma dalam hati.
"Lain kali, jangan tidak mengangkat handphone dariku. Apapun alasannya itu." Alex berkata sangat dingin, ia kemudian melangkah kembali pada lantai atas rumah mewah itu.
Alma diam mematung, aku rasa aku tidak berbuat salah. Aku rasa tubuhku saat ini sangat lelah. Aku ingin mandi dan berendam di bath up lama-lama agar otakku bisa kembali bekerja dengan baik.
Alma kemudian melangkahkan kakinya pada lantai atas rumah. Ia membuka pintu kamar dan masuk ke kamar besarnya itu. Dengan segera ia membuka baju yang dipakainya ke kampus. Dan sambil bersenandung ria ia berendam di Bathtub dengan aroma rempah yang menyegarkan.
Ia benar-benar kacau pada sore hari ini, pria itu segera membuka baju kerjanya dan berjalan pada kamar mandi. Ia berpikir untuk beberapa saat. Ah, ia baru teringat kalau malam nanti akan ada pertemuan jamuan makan malam dan ia harus membawa Alma pada acara itu. Masih adakah waktu untuk bersiap-siap dan berbenah untuk Alma ? Pria tampan itu dengan cepat keluar dari kamar mandinya dan memakai baju rumahan.
Ia harus segera memberi tahu Alma, kalau tidak takut jika gadis itu ketiduran. Habislah riwayat Alex, jika tidak hadir pada pertemuan jamuan makan malam nanti. Apakah kata rekan bisnis lain. Ketenaran sebagai pembisnis muda dalam orang besar di sana pasti akan di abaikan, ia akan seperti orang bodoh di antara orang yang berkumpul.
Dengan sedikit tergesa ia mengetuk pintu kamar Alma dan dengan cepat pula meraih ganggang handle pintu. Alma yang baru.saja siap mandi belum sepenuhnya memakai pakaian dengan lengkap.
Ia hanya mengenakan tengtop dan ****** *****. Komolekan tubuh gadis itu sangat terexpos sangat jelas.
Alex begitu sangat terkejut. Ia tidak bisa berbohong jika ia menelan air salivanya sendiri melihat keindahan yang berada di depan mata.
Sontak saja Alma menutup kedua dadanya. Tetapi bagaimana dengan bagian lain. Tetap terlihat jelas.
"Uncle mengapa ke sini? Aku belum selesai mengenakan pakaian."
Alex tersadar dari rasa matanya yang masih menatap lekat tubuh molek itu.
"Ah, maaf ada sesuatu yang Uncle sampaikan padamu. Cepat berpakaian Uncle menunggu di depan kamar." Ujarnya sambil menutup pintu kamar.
Alma termenung,, baru saja tadi pria itu mendengus kesal padanya. Sekarang dengan tidak sabaran menyuruhnya untuk keluar dengan sangat cepat, ada apa dengan Uncle emosinya terkadang naik turun pikir Alma lagi.
Gadis itu dengan segera keluar dari kamar. Rambut hitam panjangnya masih terlihat sedikit basah. Ia juga memakai baju kaos oblong dan celana santai sebatas lutut.
Alma membuka pintu kamar, dia lansung mendapati sosok kelar yang telah kini menatap gadis cantik itu.
Alex melihat Alma yang begitu dewasa, rambutnya yang tergerai sedikit basah dan wangi mint shampo yang di pakai gadis itu sungguh membuatnya merasa sangat nyaman Ia menghirup wangi itu dengan kembali dalam indera penciumannya.
Alma melihat Alex yang tidak kalah menarik sore itu, sosok yang benar matang itu sudah selesai mandi wewangian sabun dan aroma rempah terasa sampai pada penciuman juga. Rambut Alex belum tersisir sesudah mandi itu membuatnya terlihat sangat jantan.
Kedua mata mereka bertemu pandang. Dengan serentak mereka berdua mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ada perlu apa Uncle manggilku?"
"Apakah kau sibuk malam ini?"
"Aku tidak begitu sibuk, hanya ada sedikit tugas kuliah yang belum selesai."
"Uncle minta tolong padamu, maukah menemani uncle untuk jamuan makan malam nanti?"
"Mengapa mesti aku Uncle, pacarmu sangat banyak. Cantik dan seksi lagi." Alma tersenyum sinis.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang sayang, waktu kita tidak banyak. Jamuan makan malam itu akan laksanakan pada pukul 8 malam."
"Ini sudah setengah tujuh Uncle, mana mungkin sempat." Pekik Alma dengan sangat gusar.
"Maka dari itu, bergegaslah. Dandan secantik mungkin. Karena Uncle akan mengenalkan pada semua pebisnis jika kamu bukan keponakan tetapi adalah pasangan."
"What?" Pasangan!"
Bersambung