
Ceo Perusahaan yang baru itu lalu mendekati Indah dan yang meremas ujung blazer yang dipakainya.
"Jika aku menandatangani berkas itu saat ini, hadiah apa yang harus kau berikan padaku."
Pria itu telah sampai pada samping tubuh perempuan yang berdiri dengan mematung.
Hembusan nafas hangat Hamdan mengitari tengkuk perempuan itu.
Indah yang merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini, segera meletakkan berkas diatas meja. Ia tidak ingin untuk membuat dirinya kembali hanyut dalam hasrat lelaki tampan yang ada di depannya.
"Saya permisi Tuan Hamdan, anda bisa memeriksa berkas itu kembali baru anda menandatanganinya, permisi!"
Perempuan itu membalikan tubuhnya, tetapi naas tubuh itu bentrokan dengan tubuh Hamdan yang menghalangi jalan perempuan itu.
Sejenak mata mereka saling bertemu, entah mengapa kedua orang telah memiliki pasangan masing- masing itu, merasa ada hasrat yang tidak bisa dikendalikan. Indah dengan cepat mengalihkan pandangannya, kemudian bergegas untuk menuju pintu ruangan.
"Tunggu dulu, bukankah kau ingin meminta tanda tanganku segera." Hamdan menghentikan perempuan itu dan menggenggam tangannya.
Indah melihat Hamdan melirik tangannya yang digenggam pria itu. Sontak saja kulit mereka bertemu. Sedetik kemudian, Hamdan telah merengkuh tubuh ramping itu dalam rangkulannya.
"Tuan, lepaskan." Indah berusaha untuk melepaskan diri. Namun ia tidak memungkiri jika ia juga ingin akan pelukan lelaki itu.
"Sebentar saja Indah, tidak akan lama."
Hamdan mendesah dan mulai dengan jahil memegang tubuh ramping itu dan meremas benda kenyal dan empuk diluar Blazer Indah, Tak cukup itu saja ia memegang rahang perempuan itu dan ******* bibirnya dengan ganas.
Suara angin yang semilir masuk di ruang jendela yang terbuka, tetapi tidak untuk mereka yang menghentikan aktivitas ciuman panas itu bahkan kancing baju milik Indah telah terbuka sebagian besar.
"Tuan lepaskan," sejenak pikiran sadar Indah mulai masuk dalam pikirannya. Tetapi rengkuhan pria tampan itu seakan ingin memakannya saat ini juga.
Tok
Tok
Suara pintu menghentikan aktivitas liar yang baru saja terjadi. Indah dengan cepat merapikan bajunya yang berantakan. Begitu juga Hamdan, ia kembali ke mejanya dan menduduki kursinya kembali.
"Masuk."
Ramses bersama satu rekan yang lain masuk pada ruangan.
"Indah, silahkan duduk aku akan menandatangani berkas itu dengan segera."
"Silahkan duduk dulu Ramses."
Hamdan kemudian mengambil berkas Indah dan menandatangani dengan segera.
"Indah, ini berkas yang kau bawa. Bawalah berkas ini ke ruangan keuangan, minta ibu Sandara untuk mengambil gaji ruangan kalian."
"Terimakasih Tuan," Indah membungkuk dengan hormat, walau hatinya merasa sangat cemas. Sementara Ramses yang dari tadi menatap tajam pada perempuan yang telah terasa sangat lama di ruangan Ceo. Ia sedikit kikuk, tetapi dengan cepat ia meraih berkas dan membalikan badan dengan segera.
Hingga hilang di balik pintu, Hamdan tetap melirik perempuan itu, kemudian berpura-pura untuk mengalihkan pandangan pada Ramses dan kedua rekanya.
"Ada apa Ramses."
"Besok pagi kita akan mengadakan revisi dan renovasi tentang Pembangunan beberapa buah Mimi Maret dan Hotel yang tidak jauh juga dari Mini Market yang dibangun Tuan, jadi dia adalah arsitek yang menangani bangunan kita."
Ramses mengenalkan lelaki yang ada di sebelahnya saat ini. Lelaki itu kemudian
Mengenalkan diri pada Ceo Perusahaan tempatnya kerja barunya.
"Dino." Lelaki itu berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan dengan hormat pada Hmadan dengan mbungkuk hormat.
"Hamdan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ia menyambut uluran tangan Dino dengan hangat dan mempersilahkan lelaki itu untuk dudik kembali.
"Jadi, besok pagi Tuan, sekitar jam 10 kita akan berangkat ke lokasi."
"Baiklah kalau begitu, aku merasa kita harus membawa beberapa kepala ruangan dan juga staf yang memdampingi, agar proyek ini bisa berjalan sesuai rencana, jadi kita harus juga minta beberapa pendapat dari para ahli, juga termasuk arsistek yang handal." Ia melirik pada Dino yang juga mengangguk setuju.
"Baiklah, beritahu kepala ruangan dan staf staf mendampingi, dan mereka yang turun ke lokasi adalah orang-orang yang berhubungan dengan proyek itu."
"Ya..Tuan."
"Pergilah."
Hamdan kemudian melihat kembali berkas yang ada di Map Coklat yang berada dalam Filling Cabinet.
Ia meneliti berkas proyek itu yang mulia dibangun pada 2 bulan yang lalu. Dimana pemilik Perusahaan mendiang Teguh masih hidup.
Dana yang cukup besar serta fantastis, proyek ini hampir saja terbengkalai jika tidak dengan segera menanganinya pikir pria itu.
Tetapi bagaimanapun sibuknya nanti aku butuh juga refreshing urat sarat ku uang cukup tegang.
Aku akan menggunakan cara agar perempuan cantik itu ikut dalam pengawasan proyek nanti. Ia harus mau ikut, tidak ada penolakan saat ini. Hmm aku sangat penasaran melihat perempuan itu, aku tahu jika ia perempuan yang bersuami, tetapi mengapa tubuhnya seakan tidak menolak dengan semua sentuhan ku?
Hamdan meraih Handphone yang ada di atas meja kerjanya..
"Bu Sandra,"
"Ya, Tuan Hamdan."
"Apakah Ramses telah sampai pada ruangan mu?"
"Saya tidak tahu Tuan, karena say masih berada pada ruang keuangan, mengambil gaji karyawan." jelas kepala Sandra.
"Oh..begitu."
"Aku mengutus mu dan Indah untuk berangkat bersama karyawan yang lain memantau perkembangan proyek Minimarket dan Hotel yang sedang dibangun."
"Saya dan Indah Tuan."
"Tentu saja, mumpung bu Sandra masih di ruang keuangan, minta dana untuk rekomendasi perjalanan Dinas kalian berdua sebagai uang saku perjalanan."
"Oh, terimakasih Tuan."
"Segeralah kembali ke ruangan dan beri tahu bawahan mu Indah, agar untuk bersiap-siap dari sekarang. Karena mungkin saja ini membutuhkan waktu beberapa hari.!"
"Terimakasih Tuan, saya akan dengan segera kembali ke ruangan."
Sandra dengan segera menyelesaikan berkas dan mengambil gaji karyawan pada ruangannya. Ia bersyukur dalam hati, hari ini ia juga gajian ditambah lagi dengan uang perjalanan Dinas untuk beberapa hari. Wah, benar-benar rezeki nomplok pikirnya.
Ah, tetapi tunggu dulu, mengapa harus Indah yang akan dibawa, sedangkan bawahan lain yang berkopentensi, sangat banyak di ruangan mereka. Mengapa mesti Indah? pikiran lain berkecamuk pada diri wanita setengah baya itu.
Sandra telah berada pada ruangannya kembali
wajah penuh harap menanti kedatangan kepala ruangan itu.
"Bu, jadi sekarang kami gajian ?"
Mereka serentak bertanya pada kepala ruangan itu.
"Tentu saja." jawabnya dengan tersenyum
"Hore.."
Teriak mereka semua. Siapa yang tidak berharap dengan cepat gajian akan diterima. Bagi yang punya keluarga, anak dan istri mereka di rumah menantikan dengan cepat uang dari suami mereka, kebutuhan dapur yang tidak bisa ditunda dan harus cari selusinya. Dan bagi yang lajang baok laki-laki dan perempuan mungkin saja ia baru mengambil kredit motor, atau membayar kontrakan meraka. Uang dari mana? pastilah uang dari gaji mereka. Mereka sangat antusias dengan nama-nama yang dipanggil masuk pada ruangan kepala Ruangan.
Setelah selesai, Sandra kemudian memanggil Indah masuk pada ruangannya.
"Indah ke sini sebentar."
"Ya, Bu."