I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Saya diperintah tuan Hamdan nyonya!



Hari telah beranjak pagi, sang surya telah menampakan cahayanya di celah pepohonan dengan malu-malu seakan ia bertanya pada pada awan yang sedikit bersamaan yang keluar pada pagi hari itu. Di rumah besar keluarga Hamdan, ia telah terlihat sangat rapi pagi itu. Karena sebentar lagi ia akan ke luar daerah meninjau lokasi proyek yang sedang berjalan.


“Bi Ana.” Hamdan memanggil kepala pelayan yang baru saja menyiapkan sarapan pagi dan membawa kopi hangat untuk pria itu.


“Ya, tuan.”


“Panggil Alma dan juga Amira untuk sarapan pagi.!”


“Baik tuan.”


Perempuan setengah baya itu lalu pergi ke arah dapur dan tidak lama membawa nona kecil yang baru saja siap dengan mandinya.


Alma berdiri dan menatap Hamdan yang juga memperhatikannya.


“Alma ayo duduk kita akan sarapan.”


“Ayo sayang, nona akan sarapan.” Bi Ana menarik kursi untuk Alma dan membawanya untuk duduk di kursi makan itu.


Kemudian Bi ana melangkah pergi untuk memanggil nyonya besar yang mungkin baru saja belum bangun.


“Bibi mau kemana?” Alma dengan cepat menoleh dan memegang tangan perempuan itu.


“Bibi, mau memanggil mama mu.”


“Tapi, Bi.” Raut rasa takut jelas tergambar kembali pada wajah bocah kecil itu.


“Duduklah Alma tidak akan terjadi sesuatu apapun.” Hamdan kemudian menyuruh Alma untuk duduk kembali.


Gadis kecil itu tertunduk, ia tidak mampu menatap wajahnya unclenya itu kembali. Sementara itu bi ana telah kembali ke lantai bawah dan mendekati mereka.


“Tuan, nyonya besar tidak mau diganggu dan menyuruh saya untuk pergi dengan segera.”


“Baiklah Bi Ana, kalau begitu ayo kita sarapan.”


“Saya nanti saja tuan, belum lapar.” Asisten setengah baya itu tentu saja merasa sangat sungkan untuk semeja dengan tuan besarnya.


“Baiklah Bi, Alma ayo kita sarapan. Ingat setelah ini, obatnya biar tetap diminum dan makan yang banyak.”


Gadis kecil yang mempunyai iris coklat di matanya mulai itu menatap Hamdan. Hamdan yang di tatap oleh gadis itu, menyunggingkan senyum ramahnya.


“Jangan pernah takut pada Uncle, Uncle tidak akan pernah jahat padamu. Hari ini Uncle akan pergi keluar daerah, apa Alma mau ikut?”


Alma kembali menatap pada Bi Ana. Bi ana hanya tersenyum padanya.


“Hmm..besok-besok aja Uncle.” Hamdan tersenyum mendengar jawaban dari Alma, hmm gadis itu telah ada perubahan biasa menjawab pertanyaannya dengan baik.


“Kalau begitu ayo kita sarapan.” Hamdan kembali menyuruh alma yang masih terdiam melihat menu yang telah disiapkan pagi itu oleh Bi Ana.


Mereka menikmati sarapan tanpa ada suara, sesekali Hamdan memperhatikan gadis kecil itu yang menyuap nasi goreng yang ada di piring ke dalam mulutnya. Tangan yang masih kecil, terlihat tidak berisi. Begitu juga dengan pipinya gadis kecil itu.


Tinggal di lumbung padi, tetapi burung pipit bisa mati kelaparan di atas padinya. Sama seperti Alma, ia tinggal di atas jerih payah yang melimpah oleh mendiang Teguh, tetapi lihatlah sekarang tubuh bocah kecil kulit pembalut tulang. Aku harus memperbaiki semuanya, Alma harus sehat dan traumanya dengan Amira jangan membuat ia terus merasa ketakutan.


Mereka telah siap dengan sarapannya. Hamdan kembali melihat gadis kecil itu dengan perasaan sangat iba.


“Bi Ana,”


“Ya, Tuan.”


“Baik, tuan.”


“Dan satu lagi Bi, Pindahkan Alma pada kamar utama yang ada di depan, bawa semua barang-barang dan perelatan sekolahnya ke sana.!”


“Tetapi tuan, jika nanti nyonya marah bagaimana.?”


“Aku kan mengerahkan Satpam dan asisten satu orang untuk berjaga dalam rumah ini, jika terjadi sesuatu yang tidak inginkan.” Hamdan berkata dengan nada yang sangat dingin.


Betapa ia juga sangat merasa resah, semua orang di rumah ini sangat mengetahui tingkah amira yang sangat buruk, dengan kekuasaan yang ia miliki seakan asisten dan penjaga yang ada di rumah hanya terdiam dan tidak dapat berbuat banyak. Ia berdiri dan mendekati bocah kecil itu..


“Uncle pergi, kalau ada apa-apa, hubungi uncle.”


“Baik Uncle.” Alma menatap lekat Hamdan yang mengelus rambut panjangnya. Sejenak ia merasa nyaman. Hamdan berdiri di iringi beberapa asisten yang juga mengantarnya ke halaman depan.


Sebelum masuk ke dalam mobil berwarna hitam, Hamdan kembali memberi peringatan pada asisten dan penjaga agar jangan lengah dalam melindungi Alma. Tidak lama mobil itu melaju dengan cepat hilang dari pandangan asisten dan Penjaga di rumah.


Alam yang melihat Hamdan telh pergi kemudian langsung mendekati Bi Ana dan mengekor kemana asisten itu pergi. Bi ana yng terus merasa diikuti tersenyum melihat nona kecil itu.


“Ayo sayang, kita akan membuat puding mangga hari ini. Apa nona suka.”


“Puding mangga Bi?” wajah Alma terlihat sangat senang.


“Iya Non.”


“Tentu saja sangat suka Bi,” seru gadis kecil itu.


“Ayo, sekarang kita akan memulainya non.”


Kecerian mulai terlihat pada diri gadis sembilan tahun itu. Ia tidak lagi banyak termenung, Bi Ana sengaja terkadang membuat Alma mendapat pekerjaan. Kadang mengiris bawang, atau meracik sayuran. Bi Ana terkadang membuat lelucon yang membuat nona kecil itu terkadang tertawa. Tetapi jika Amira datang, itulah malapetaka bagi mereka berdua.


Puding mangga yang dibuat Bi Ana telah selesai, sejenak asisten itu mendinginkannya pada suhu ruang, kemudian baru mauk pada lemari pendingin.


Satu jam telah berlalu, Bi Ana teringat akan memindahkan barang-barang Alam ke ruang kamar Utama di lantai bawah. Ia pun lalu menyuruh beberapa asisten juga turut membantunya. Di saat mereka sibuk memindahkan barang Alma. Amira datang menemui mereka.


“Ee..apa apaan ini, mengapa kalian begitu sibuk dan kemana barang bocah ingusan itu kalain bawa.!” Amira membentak Bi Yani dengan keras.


Bi Ana yang ada di situ langsung memberi kode pada bi Yani untuk melanjutkan pekerjaannya


.


“Itu semua, adalah perintah dari tuan Hamdan Nyonya!”


Amira membalikan tubuhnya dan menghardik Bi ana dengan sangat marah.


“Berani sekali kau saat ini asisten tua, kau ingin sekarang juga kau mengusirmu dari sini, dan menyeret bocah silan itu ke jalanan."


"Saya sekarang tidak akan takut lagi nyonya. Karena tuan berpesan pada saya, menjaga nona muda dengan baik. Jika anda macam-macam kami tidak akan segan untuk bertindak pada nyonya.”


Suara asisten separuh bayah itu tampak datar, pancaran matanya sungguh tidak ada takut sedikitpun. Walau hatinya sangat marah mengenang apa yang pernah dilakukan Amira pada nona kecil itu.


“Apa kata mu, tuan Hamdan. Aku yang berkuasa di sini!” teriak Amira dengan marah. Perempuan yang lagi hamil muda itu dengan cepat melayangkan tangannya pada Bi Ana.


Tetapi belum sampai tangan Amira


menyentuh asisten separuh baya itu. Tangan Amira telah dipegang seseorang.