I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Aku Senang Uncle



Hai,, teman dimana pun berada. Sebelum baca


Kak May..mohon dukungannya ya. Tekan tanda love yang masih sangat sedikit, komentar dan like. Ini adalah energi untuk kay May terimakasih. 😁


Siang yang dengan cuaca yang sangat ekstrim sangat panas, sehingga orang-orang yang meras tidak begitu penting untuk melakukan aktivitas di luar rumah memilih untuk berdiam diri dulu hingga matahari sedikit bersahabat.


Alma yang mendapat panggilan dari Uncle itu langsung mengangkat handphonenya.


"Hallo sayang, mengapa belum juga sampai di kantor? apa acaranya belum selesai?" Terlihat kembali jika Alex mencemaskan Alma.


"Ini juga mau keluar gedung Uncle," sahut Alma dengan melangkahkan kaki ke arah parkiran mobil.


"Apa Damar sudah ada di sana?"


"Ya, Uncle. Pak Damar sudah ada di sinai bersama Alma."


"Baiklah, kasi handphone pada Damar."


"Pak Damar, ini Uncle mau bicara."


Sang sopir sekaligus badyguard itu mengambil handphone dari tangan Alma.


"Ya, Tuan,"


"Bawa Alma ke kantor dan dan kabari pada Bi Ana. Bawa mobil dengan kecepatan sedang dan hati-hati di jalan." Suara Alex terdengar dari Handphone memberi perintah.


Begitu sehari-hari Alex, ia selalu mantau. Alma makan, pulang dan sampai istirahat. Bahkan di waktu setelah kejadian pria bertopeng yang masuk kedalam rumah. Alex sangat memberikan penjagaan ketat pada ponakan itu.


Tidak hanya pengawalan yang ketat, bahkan jika Alma berteriak dimalam hari karena mimpi buruk, Alex selalu ada di dekatnya. Ia akan mendekap erat tubuh bocah itu hingga akhirnya Alma tertidur pulas.


Itu sebabnya Alam kecil dan Alex selalu tidur bersama. Hingga menjelang masuk SMU Alex menjelaskan pada Alma untuk belajar tidur sendiri, walau kamar mereka saling bersebelahan.


Alex bertekad untuk menjaga Alma hingga dewasa, dan sampai ia bisa berdiri sendiri, mengelola perusahaan dengan baik dan mendapat jodoh yang terbaik, Alex akan pergi untuk mencari kebahagiaan nya sendiri.


Tetapi tidak untuk saat ini, masih beberapa Tahun lagi Alma baru akan menyelesaikan kuliah dan Alex akan membuat dan memberi bimbingan yang terbaik tentang hidup dan masa depan gadis itu.


Mobi pun lalu membelah jalan raya, melewati semua gedung bertingkat yang menjulang langit. Pohon yang berada di pinggir jalan telah mulai agaknya minta air, namun hujan agaknya segan untuk turun.


Alam telah sampai pada halaman kantor Brahmajaya Graup. Ia di sambut oleh Asisten yang telah memutih kepalanya dan tetap setia asisten Ramses.


Dengan masih memakai seragam abu-abu, Alam tersenyum dengan ceria.


"Pak Ramses, apa Uncle ada di dalam?"


"Ya, nona Uncle mu menunggu sekarang di ruangannya!"


"Baiklah,"


"Mari saya antar nona," lelaki yang telah setia puluhan tahun itu mengantar Alma menuju lantai atas.


Mereka telah sampai dimana ruangan Ceo berada. Sebelum masuk sekretaris Ceo mengingatkan pada Ramses, jika di dalam masih ada tamu.


"Tuan Ramses, di dalam masih ada tamu," ujar Nadia mengingatkan Ramses dan Alma.


"Tidak apa, Nadia ini adalah perintah dari Tuan Alex agar mengantarkan Nona Alma segera ke ruangannya," Ujar Ramses dengan tidak enak hati, melihat sang sekretaris menahan jalan mereka untuk masuk ke ruangan Ceo.


"Oo, baiklah"


"Ayo, nona Alma kita masuk," Ramses mempersilahkan Alma untuk masuk ke ruangan Ceo itu.


Alma lalu membuka pintu, tetapi alangkah terkejutnya gadis belia itu seseorang dengan pakaian seksi sedang berbicara dengan Alex dengan jarak begitu sangat dekat.


Gadis berpakaian abu-abu itu sangat terkejut, perempuan yang berada di dalam ruangan tidak kala terkejutnya juga, aksi untuk memeluk sang penguasa itu terhalang karena gadis itu.


Ia adalah Bella, kekasih Alex selama kuliah di Australia. Sekarang perempuan itu ingin kembali pada Alex dan berusaha untuk mengejar cinta pria itu kembali.


"Alma, ayo masuklah Uncle menunggu mu dari tadi," ujar pria i itu dengan sangat senang.


"Alex siapa dia," ujar Bella dengan tidak tahu malu bergelayut pada pada lengan kekar pria itu.


Dengan sedikit kasar Alex melepaskan tangan Bella yang bergelayut manja pada lengan lelaki itu.


Alma terlihat kesal melihat seseorang begitu dekatnya dengan lelaki yang sekarang menjadi pelindungnya. Apalagi melihat penampilan perempuan itu yang sangat terbuka, membuatnya ingin segera keluar dari ruangan itu.


"Uncle, Alma pulang aja dulu. Nampaknya Uncle sangat sibuk," ujar gadis belia itu dengan cemberut.


"Bella dan pak Ramses, tinggalkan saya dan Alma di sini." Ramses sangat paham akan perintah yang demikian namun Bella tetap saja tidak bergerak dari posisinya.


"Apa kau tidak mendengar Bella, pergilah aku sedang sibuk saat ini," Alex terlihat sangat gusar.


"Tapi sayang,, kamu janji ya, akan bertemu dengan ku nanti malam." Ujarnya sambil melirik Alma.


"Aku tidak janji, pergilah sekarang." kembali Alex mengusir sang perempuan yang tidak juga bergeming dari tempat berdirinya.


"Hai,,anak kecil, kamu siapa dan mengapa memanggil Alex dengan sebutan Uncle," Bella menowel pipi Alma dengan tersenyum.


"Aku bukan anak kecil tante, dan aku adalah keponakan Uncle lex," ucap Alma dingin.


"Oohh.. keponakan aku kira tadi anak ABG yang kegatelan," ucap Bella tanpa dosa.


"Tante yang kegatelan, lihat bajumu sangat ketat dan sama dengan rok mu juga begitu ketat. Apa yang kamu kerjakan disini bersama dengan Uncle?"


Alex terdiam, dia tidak menyangka jika anak kecil yang di rawatnya sedari kecil bisa mengertak perempuan dewasa dihadapannya. Melihat itu Alex terlihat tersenyum dalam hati.


"Kau lancang sekali bocah," Bella mengangkat tangannya dan belum sampai tangan itu menghampiri pipi Alma, Alex terlebih dahulu mencengkram tangan Bella dengan kasar.


"Berani sekali kau kurang ajar disini Bella, keluar dan jangan perlihatkan lagi mukamu dihadapan ku!" Kali ini Alex benar-benar marah.


Perempuan itu kemudian mendengus sangat kesal dan masih menatap Alma dengan pandangan sangat tajam.


Yang ditatap sama sekali tidak acuh, ia mempermainkan ponsel terbarunya dan malah merapat pada sang Uncle.


Perempuan itu pergi dengan hati yang sangat dongkol. Awas saja kau bocah kecil, kau akan merasakan pembalasanku desis wanita itu dalam hati dengan membanting pintu.


Brakk


Brakk


Pintu tertutup dengan sangat keras.


Alma mendekati , seperti biasa gadis belia itu dengan sangat manjanya bergelayut pada lengan kekar pria itu.


"Tentu saja sayang, Uncle mana pernah bohong pada mu, ayo kita ke bawah dan melihat hadiah itu," Alex dengan lembut kembali memeluk keponakan kecilnya yang telah beranjak dewasa. Ia tumbuh dengan sangat sempurna cantik dan juga pintar.


Tidak hanya cantik dan pintar, tetapi mulutnya juga sekarang telah pandai sedikit judes, cuek dan bermental tinggi dan itu sangat di sukai oleh seorang Alex.


"Baiklah," dengan sambil tersenyum ia mengecup pipi sang uncle.


Alex mendapat perlakuan seperti kembali tersenyum geli, serasa bocah yang sembilan tahun kemarin yang selalu mengecup tangan dan pipinya jika mendapat es krim kesukaan bocah itu.