I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Ratakan Tempat Ini sama dengan Tanah!



Bau asap rokok dan lampu yang menyala dengan ramang -remang membuat Alma merasa sangat mual. Masih didengarnya Teguh sebagai ketua kelompok dengan senyum yang berbinar membawa teman-temannya untuk minum.


"Kita tidak mabuk teman, hanya mencoba minuman yang sedikit mengandung alkohol. Itu tidak akan mabuk. Ini adalah hari dimana kita mungkin entah kapan bersua setelah ini."


Teman-teman lelaki itu minum mulai mencoba sedikit minuman dan teman yang perempuan meminum lemon drink. Tetapi keadaan demikian tetap membuat Alma merasa sangat pusing.


Sementara di meja sudut sebelah kiri, dosen Rey sedang mengadakan pertemuan rekan bisnisnya. Semenjak kejadian beberapa Tahun yang lalu ia keluar dari kampus dan tidak mengajar lagi.


Sekilas ia menatap Alma yang berada di sana bersama dengan teman-teman nya. Tetapi karena masih fokus pada pertemuan dengan klien membuat Rey kemudian mengalihkan pandangan pada pertemuan.


"Din, aku ke Toilet sebentar ya." Ucap Alma di sela rasa pusing yang menyerang


"Kau baik-baik saja teman? apa perlu ku antar?" tanya Dinda sedikit cemas.


"Tidak perlu, aku hanya sebentar dan setelah itu kita akan pulang kan Din?"


"Ita kita akan pulang sebentar lagi." jawab Dinda menegaskan.


Alma kemudian menuju toilet khusus wanita yang berada pada arah sebelah timut Clup itu.


Di jalan menuju toilet umum ia berpapasan dengan dua orang berseragam hitam.


"Bos, ini perempuan yang kita cari. Kita telah menbayarnya sangat mahal." Salah seorang lelaki berseragam menelpon seseorang.


Dengan langkah sangat cepat orang-orang berseragam hitam itu mengepung gadis yang tadi berniat untuk pergi ke toilet.


"Siapa kalian ?" Dengan tubuh yang masih sedikit pusing. Alma mencoba menguatkan tubuhnya.


"Jangan pura-pura lupa dan mau melarikan diri, tuan kami telah membayar 2 milyar pada nona untuk malam ini.!" ucap lelaki bertubuh tinggi besar dengan sangat marah.


"Aku tidak mengenal siapa Tuan kalian!"


"Jangan banyak berdalih nona. Ayo kalian semua tangkap perempuan itu!"


Pria bertubuh tinggi besar itu memberikan perintah pada beberapa orang yang juga berseragam hitam yang berada tepat di depan dan belakang Alma.


Dengan tidak menunggu lama, orang-orang telah dapat menangkap Alma berteriak ketakutan.


"Tolong, Uncle Alma takut." Alma memberontak dengan menendang ke segala arah. Air mata dan isak tangisnya mulai terdengar.


"Ayo kita bawa perempuan ini menemui tuan kita!"


Orang berseragam hitam itu lalu membekap mulut Alma sehingga gadis itu sekarang tidak lagi bisa berteriak dan bersuara.


"Lepaskan gadis itu!"


Tiba-tiba Alex datang dan menghalangi mereka yang akan membawa Alma pada lantai atas!"


"Memang siapa dirimu, beraninya kau memerintahkan kami.!!"


"Ia gadisku, lepaskan dia jika kau mau bertahan hidup lebih lama." Ujar Alex dengan nada mengancam.


"Memangnya siapa dirimu?"


Alex begitu sangat kesal, kemana para bodyguard yang telah ia perintahkan untuk menjaga Alma.


Alex dengan berani maju dan melangkah mendekati mereka yang sekarang lagi mendekap Alma.


Dengan begitu banyak orang, Alex terlihat tampak kewalahan. Seseorang berhasil kemudian membawa Alma menuju lantai atas. Ketika kaki orang yang berseragam hitam itu menyeret Alma dengan paksa. Terlihat Rey membantu Alex dan juga orang-orang yang mengepung.


Rey dengan beberapa anak buahnya turun membantu. Tetapi rupanya orang-irang berseragam hitam itu mempunyai anggota yang sangat banyak. Alex dan juga Rey kalah dalam anggota mereka.


Darah bercucuran di bagian dada laki-laki itu. Di saat itu pula baru muncul orang-orang Alex yang tadi entah kemana.


"Uncle,"teriak Alma dengan Histeris.


Tidak lama, lawan mereka orang-orang berseragam hitam itu dapat dilumpuhkan oleh orang-orang Alex dan anak buah dari Rey.


Alex dengan sekuat tenaga. Masih memegang dadanya yang berlumuran darah.


"Alma," Panggil nya dengan nada lemah.


"Kita akan ke rumah sakit, bertahanlah Uncle." Ucap Alma sambil menangis. Ia menyandarkan kepala Alex pada pangkuannya.


"Kalian semua, ratakan tempat ini sama dengan tanah. Aku benci tempat ini." Pria yang banyak mengeluarkan darah itu masih sempat memberikan perintah.


"Baik Tuan."


Mereka yang mendengar perintah dari Alex bergidik ngeri. Orang-orang yang berseragam hitam baru menyadari jika mereka telah salah orang dan berakibat sangat fatal.


"Cepat panggil Ambulans, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Aku mohon dengarkan aku!"


Tangis Alma menyayat hati. Rey yang melihat itu baru tersadar.


"Tidak perlu lagi memanggil Ambulans, akan memankan waktu yang sangat lama. Kau bisa membawanya pada mobilku, aku akan mengantarkannya ke rumah sakit." Ujar Rey dengan tegas.


"Kalian semua, bawa tuan Alex ke dalam mobilku, cepat kita tidak butuh waktu lama." Perintah Rey pada mereka yang ada di situ.


Dengan cepat dan sigab, mereka membawa Alex pada mobil Rey.


Di dalam mobil Alma terus menangis. Darah tetap merembes dari bagian yang terluka.


"Ku mohon bertahanlah Uncle, kau pasti kuat. hua..hua.." Alma tidak berhenti mengeluarkan tangisnya.


Rey yang melirik Alma dari kaca spion juga merasakan kepedihan gadis itu.


Rey mengetahui semuanya saat itu, siapa Alex dan siapa juga Alma. Ia mengambil langkah sementara waktu untuk menjauh. Mungkin ini adalah demi kebaikan gadis itu. Tetapi tetap saja rasa cintanya pada gadis itu tidak akan pernah untuk pudar hanya karena Alex mengeluarkannya dari kampus.


Ia menatap wajah kusut Alma yang telah berantakan karena air mata dan juga darah Alex. Ia sangat menyayangi pria yang dipanggilnya Uncle itu desis Rey dalam hati.


Mobil telah sampai pada rumah sakit terbesar di kota itu. Rey turun dan memangil perawatan jaga yang sedang bertugas.


Dengan sigap para kru dan perawat membawa Pasien ke ruang UGD.


"Dokter, ku mohon selamat dia. Hanya ia yang punya saat ini lagi. Tolong dokter.." Dengan suara gemetar Alma meraih lengan dokter yang sedang berjaga.


"Nona tenang saja, kami akan bekerja semaksimal mungkin. Nona tolong tunggu di luar." Ucap dokter menenangkan Alma.


Gadis itu bersandar pada tembok rumah sakit. Ia tetap menangis tersedu. Matanya telah sembab karena menangis.


"Tuhan, jangan pernah ambil dia. Aku belum mampu dan siap." Ucap dengan suara serak.


Sementara itu Rey yang ada di situ meraih tangan gadis itu. Memberikan kekuatan pada gadis belia yang pernah menjadi mahasiswinya itu.


"Tenanglah Alma, yakinlah jika ia akan baik-baik saja. Uncle mu akan selamat seperti dalam pikiran mu." Ucap Rey dengan penuh penguatan.


"Hua..hua Uncle." Ia seperti gadis kecil yang berumur 7 tahun. Takut dan juga penuh rasa cemas.


"Bersihkan dirimu Alma, aku akan menyuruh orangku untuk membawa baju ganti untuk mu!"


Gadis belia itu tidak punya siapa-siapa lagi. Bi Ana yang telah tua yang berada di rumah saat ini. Dan sekarang Sang Uncle yang sangat dicintainya sekarang sedang berjuang melawan maut. Akankah sang Uncle selamat ikuti terus kisahnya.