I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Asisten Yang Kompak



“Apa kata mu, tuan Hamdan. Aku yang berkuasa di sini!” teriak Amira dengan marah. Perempuan yang lagi hamil muda itu dengan cepat melayangkan tangannya pada Bi Ana.



Tetapi belum sampai tangan Amira menyentuh asisten separuh baya itu. Tangan Amira telah dipegang seseorang.



“Maaf nyonya, jangan bertindak kasar lagi pada Bi Ana dan juga nona Alma. Karena ini adalah perintah dari tuan Hamdan, tolong kerjasamanya nyonya.!” Lelaki bertubuh tinggi kekar itu memegang tangan Amira dan kembali melepaskannya.



“Berani sekali kau Damar, sejak kapan kalian semua berani untuk membantah apa yang perintahkan! Kau ingin dipecat hari ini juga?” perempuan itu masih dengan suara nyaring membentak asisten yang bernama Damar.



“Bukan kami membantah nyonya, tetapi ini adalah pesan dan perintah dari tuan kami yang baru!” Damar menyeringai sinis, melihat Amira yang belum juga tahu kedudukannya saat ini.



“Kalian semua, akan tahu akibat setelah ini. Aku akan mengirim kalian semua ke neraka!”



“Tetapi nyonya jika ingin mengirim kami ke neraka, uruskan dulu faspor dan tiket dengan harga yang eksklusif di kantor polisi, karena kami bukan tidak tahu apa yang anda lakukan selama ini pada mending Teguh!” Damar kembali dengan senyum menyeramkan memandang majikan perempuannya itu.



Bi Ana yang ada di sana, memperingati Damar.”Ya, sudah Damar, kita kembali bekerja.” Bi Ana juga tidak mau terjadi perang besar di dalam rumah, sedangkan tuan Hamdan baru saja ke luar Kota.



Mereka kembali bekerja meninggalkan istri Hamdan itu dengan masih menahan amarah yang begitu besar. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan asistennya yang begitu sibuk dengan membawa barang-barang Alma dan membersihkan ruang kamar Utama.



Sementara itu, para Asisten telah selesai dengan Aktivitas membersihkan kamar Alma. Kamar utama itu sangat besar dan bersebelahan dengan kamar di mana saat ini Hamdan pindah ke kamar tamu. Kamar utama yang ditempati Alma sekarang sangat luas. Ruang tidur itu didesain untuk gadis kecil. Ruangan berwarna pink, alas kasur dan juga tempat tidur bercorak gambar Boneka Hello Kitty. Boneka panda dan boneka kecil di susun rapi dalam pajangan yang ada di lemari kaca, di samping meja belajar Alma.



Semua barang-barang yang ada di kamar Alma, telah ada sebelumnya. Mendiang teguh semasa hidup selalu membelikan Alma boneka dan mainan kesukaan bocah kecil itu. Hingga mainan dan boneka menumpuk dan pada akhirnya membeli satu etalase kaca besar tempat boneka itu di pajang.



“Bi Ana, ayo kesini Bi.” Alma duduk di kasur empuknya dengan tersenyum.


“Ada apa nona?” Bi Ana berjalan tergopoh menuju kamar Alma.



“Lihat nih Bi,” Alma menepuk-nepuk kasurnya dan menunjukkannya pada Bi Ana.


“Ya, nona. Sekarang nona tidur di sini, tuan Hamdan yang memerintah kan kami semua untuk menjaga dan mengawasi nona. Jadi sekarang bersenanglah karena ini semua memang nona yang punya.”



“Jadi Uncle itu yang menyuruh Alam pindah ke sini?”



“Ya, nona.”



“Kala begitu Uncle itu tidak jahat ya Bi?”



“Tidak sayang, sebelumnya bibi juga beranggapan seperti itu, tetapi lihatlah dia sangat memperhatikan kita semua sini dengan baik, jadi non Alma jangan kuatir lagi padanya.” Bi Ana tersenyum dan sangat bahagia melihat Alma yang telah bicara tanpa ada lagi rasa takut menyelinap di hati nya.




“Hore...kita makan puding mangga dan melihat Poky,” baru kali ini nona mudanya itu terlihat begitu gembira, semoga hari bahagia akan ia raih selanjutnya desis wanita separuh baya itu.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Jam sepuluh waktu setempat, Pria tampan pemilik Ceo telah mulai keluar bersama rekan-rekan untuk ke luar Kota. Para asisten, kepala ruangan, dan termasuk Indah telah masuk ke mobil mereka masing-masing.



Karena pekerjaan Dinas yang ke luar kota mereka tidak menggunakan baju Formal selayaknya baju mereka pada jam kantor.


Mereka bisa saja memakai baju kaos dan juga celana jeans dalam perjalanan asal terkesan sopan dan rapi.


Pria tampan berumur 32 Tahun itu yang kini mengendalikan Brahma Jaya Group itu, terlihat tampan dari biasanya, tubuhnya yang kekar ditutupi Baju kaos lengan panjang berwarna coklat tua,celana Jeans yang juga hampir berwarna sama. Ia terlihat lebih muda dari umur yang sebenarnya.



Begitu juga dengan karyawan yang bernama Indah, ia seperti anak yang baru saja lulus kuliah, ia memakai blus santai lengan panjang dengan motif dan corak batik pada kerah lengan pada blus berpadu dengan celana Jeans biru yang tidak terlalu ketat.



Hamdan yang keluar dari lobi ruangan melihat Indah yang masuk dalam rombongan mobil mereka. Mobil rombongan itu berjumlah 4 mobil keseluruhan dan Indah masuk pada mobil yang ketiga, andai saja aku bisa memerintahkan tukar posisi, biar Indah saja yang ada di dekatku saat ini desis Pria itu dalam hati.



“Tuan semuanya sudah siap, apakah sebaiknya kita berangkat sekarang?” Ramses bertanya pada Ceo mereka.



“Oh, sudah siap semuanya, baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang.” Hamdan memberi perintah pada Ramses.



Mobil rombongan yang akan berangkat ke wilayah Milano akhirnya telah meninggalkan kantor Brahma Jaya Grup. Hamdan masuk ke dalam mobil dan merebahkan pantatnya pada jok mobil yang sangat empuk. Sejenak ia meraih ponselnya dan memeriksa setiap pesan dan panggilan yang masuk.



Ia baru saja melihat video Amira yang baru saja membentak Bi Ana dan asisten yang lain, semua itu terekam oleh Video yang dikirim Damar. Di sana ia juga melihat Video alma yang sedang makan puding Mangga dan bermain dengan kelinci kesayangannya di taman belakang. Hamdan tersenyum dan Membalas Chat dari damar dengan emot tersenyum. Ia menutup kembali aplikasi Whatsapp dan sebentar berselancar di dunia maya.



Setelah sekitar setengah jam Hamdan merasa tubuh nya lelah, ia pun ketiduran dalam perjalanan Ke Milano.



Di mobil lain yang ditumpangi oleh Indah dan Bu Sandra, terlihat karyawan cantik itu mabuk berat, ia mengeluarkan semua yang dimakannya pagi tadi. Mukanya pucat dan keringat membanjiri seluruh kulit tubuhnya.



“Bu sandara, bisakah kita berhenti sebentar, aku benar-benar tidak tahan Bu,” Indah memohon pada Kepala ruangannya itu.”



“Baiklah Indah, kita berhenti, pak supir kita berhenti lima menit.” Mobil rombongan yang di tumpangi Indah lalu menepi pada jalan raya.


Melihat mobil yang ditumpangi Indah berhenti, tentu mobil yang lain ikut berhenti juga termasuk mobil yang pertama yang didalamnya terdapat Ceo yang lagi tertidur pulas.



Pria itu terbangun, Hamdan mengerjapkan bola matanya.



“Mengapa berhenti Ramses.”