
Ketika Amira telah tenang, Hamdan kembali melihat kondisi Alma. Suhu tubuhnya begitu naik, hampir mencapai 42, Ia memutuskan Alma dibawa ke rumah sakit.
Dia tidak
mampu berbuat banyak untuk saat ini, untuk membawa Alma tanpa harus banyak berkomentar pada Amira. Karena besok pagi peralihan kekuasaan itu akan dimulai, juga agak sedikit ragu jika Amira berubah habislah sudah rencana yang disusun dengan sangat matang.
Hamdan harus memenangkan Amira yang tadi mengamuk hanya karena pot kesayangan yang pecah oleh Alma.
Tidakkah Amira sedikit saja berkaca dalam hati, semua yang ada di dalam rumah adalh milik mendiang suaminya. Mengapa hanya sebuah pot saja ia harus menarik Alma dengan kasar. Bocah kecil itu tidak tahu apa-apa, bocah kecil itu seharusnya mendapatkan tempat yang layak di rumah ini. Aku harus membawa Alma ke Rumah Sakit dengan segera pikir Hamdan dalam Hati.
Hamdan melangkah ke lantai bawah, Perasaannya bercampur aduk.
Terdengar suara tangisan Bi Ana. Ia mempercepat langkahnya kembali.
"Non Alma tahan ya Non..Ya Tuhan bagaimana ini? Hiks..hiks.." Bi Ana menangis dengan pilu."
"Ayo, segera persiapkan baju Alma Bi Ana, kita akan membawanya ke rumah sakit saat ini." Suara Hamdan terdengar dari depan pintu kamar.
Bi Ana menoleh pada asal l suara itu, ia mendapati sosok yang dianggapnya sangat keji itu berdiri dengan wajah cemas dan juga sedih.
"Baik, tuan."
Hamdan kemudian hilang di balik pintu, terdengar suaranya yang menyuruh supir dan juga asisten lain agar membantunya membuka pintu gerbang dan garasi rumah kembali.
Tidak lama berselang pria itu kembali ke kamar Alma. Dan mendapati Bi Ana yang telah bersiap dengan keperluan Alam dengan menyusun baju nona kecil itu dalam tas berukuran besar.
"Bi Ana, apakah sudah siap semua keperluan Alma?"
"Ayo, sekarang kita berangkat ke rumah sakit!"
Hamdan lalu menggendong tubuh Alma yang terasa sangat panas. Entah mengapa perasaan sedih menjalar rasa hatinya saat ini. Terlihat Alma dengan wajah yang sangat pucat, tubuhnya yang kurus. Mungkinkah selama Hamdan di sini, ia juga begitu buta dan tidak mengetahui apa yang dialami oleh bocah malang itu?
Mengapa ia terlalu sibuk dengan tubuh janda itu, tetapi tidak memperhatikan sekelilingnya? Ada bocah kecil yang menderita akan kelakuan Sungguh ia merasa sangat bersalah padanya saat ini.
Pria itu telah sampai di dalam mobil. Ia tetap memeluk tubuh panas Alma. Sesekali Alma mengigau dan meracau. Ia menyebut nama sang Papa.
"Papa, bawa Alma pergi pa. Alma mau sama papa. Tu mama juga ada di sana, tersenyum dengan Alma. Boleh ya pa."
Bi Ana, yang juga di samping berada pada tuannya hanya mendengar racuan Alma dengan pilu. Perempuan yang telah bertahun mengabdi pada Teguh sekarang mukanya telah sembab dengan air mata yang tidak berhenti.
"Tenanglah Bi Ana, semua.kan baik-baik saja," ucap pria itu dengan nada datar.
"Cepat sedikit Pak Soleh," Hamdan kembali memerintah pada sang supir yang bernama Soleh.
"Ya, tuan."
Mobil membelah jalan raya menuju pusat kota, tidak lama mobil itu telah berada pada halaman parkir rumah sakit.
Pria bertubuh kekar dan tampan itu turun dari dalam mobil, ia menggendong tubuh gadis kecil itu kemudian membawa pada perawat yang lagi berjaga.
"Suster tolong dia,"
"Siapa keluarga pasien?" Tanya perawat otu pada Hamdan.
"Saya dokter," Hamdan dengan segera menjawab.
"Anda siapanya pasien?"
"Ee..saya,,saya pamannya dok."
"Baiklah kalau begitu. Selesaikan dulu administrasinya, kami akan memasangkan infus pada pasien dan tampaknya ia harus dirawat dulu beberapa hari. Setelah itu anda bisa menemui saya." dokter dengan perawakan sedikit gendut itu kemudian berlalu dan mulai melihat kondisi Alma yang sedang ditangani oleh beberapa perawat.
Pria mengakui dirinya sebagai paman barusan pada dokter itu, kemudian dengan cepat berjalan ke ruangan Administrasi. Untung saja ia membawa uang tunai walau tidak sedikit banyak, jadi tidak perlu ke ATM.
Alma masih di ruangan UGD, gadis kecil itu belum juga sadarkan diri. Sementara Hamdan tidak bisa menutupi hatinya tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir. Sebentar duduk dan sebentar lagi berdiri. Mengapa lama sekali, apa sebenarnya sakit bocah kecil itu. Rasa takut dan penyesalan mulai menghantui pikiran dan perasaan pria beristri itu.
"Keluarga dari pasien." Terdengar suara perawat agar menyuruh masuk ke ruang dokter.
"Dokter, tolong keponakan saya. Sebenarnya ia sakit apa sehingga sampai sekarang belum sadar juga?"
Hamdan bertanya pada dokter yang tadi memeriksa Alma. Ia merasa sangat tidak sabar, apa penyakit yang di derita anak tiri dari istri nya tersebut.
"Hasil diagnosa kami dan berdasarkan hasil lab yang baru kami terima, ponakan anda terserang maag dan ada gejala penyakit types.
"Apakah demikian parah dokter, saya mohon tolong rawat dia semaksimal mungkin berapapun biayanya akan saya bayar."
"Anda tenang saja, sebentar lagi Alma akan sadar. Kami akan memberinya pengobatan semaksimal mungkin. Tetapi jika nanti Alma telah sembuh, tolong anda pantau kesehatan dan pola makan ponakan anda."
"Tentu saja dokter, apakah saya boleh melihat ponakan saya sebentar dok,"
"Baiklah, tetapi hanya sebentar dan itupun bergantian. Karena kita mengetahui jika keadaan pasien belum membaik saat ini."
Dokter mempersilahkan Hamdan untuk melihat Alma walau hanya sebentar. Selang infus terpasang pada tangan kanannya sebelah terlihat wajah gadis kecil itu yang tidak pucat seperti sewaktu ia membawa ke rumah sakit.
Cepat sembuh Alma, aku berjanji. Sewaktu-waktu jika semuanya telah selesai, aku akan mengembalikan semua yang menjadi milik mu.
"Bi Ana, jaga dia baik-baik, jika butuh sesuatu, tolong hubungi aku."
"Tentu saja Tuan,"
Hamdan meninggalkan ruangan rumah sakit, pikirannya agak sedikit tenang, karena Alma telah ditangani dengan baik, semoga ia cepat sadar dan segera sembuh.
Hari telah menunjukan jam 3 dini hari, ia harus pulang dan istirahat barang sejenak, karena esok pagi akan ada Agenda penting dalam Perusahaan yang harus ia hadiri termasuk Amira yang harus hadir.
Pria tampan itu telah sampai di rumah, ketika kamar telah diterangi lampu tidur, pertanda Amira juga sedang terlelap.
Samar-samar dari cahaya yang masuk, perempuan itu hanya mengunakan lingerie seksi, tetapi entah mengapa sekarang hasratnya tidak hadir untuk perempuan itu.
Ia tidur, berbaring disebelah sang Istri. Tidak biasanya sang Pejantan tangguh itu, tanpa meminta jatah sedikit pun pada sang istri. Mungkin saja, kepalanya sedang terbebani dengan sesuatu atau juga hasratnya pada karyawan baru yang bernama Indah tidak tersalurkan.