I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Alma Mahasiswa Pintar!



Cuaca sedikit bersahabat hari ini, Alma telah mendapatkan SIM dan belajar dengan hati-hati agar bisa membawa mobil Sport dengan selamat sampai ke kampus.


Ia mengemudikan dengan sangat hati-hati, masih ada kwartir yang menyelinap di hatinya. Biasa ia menyetir dengan ada Alex di samping gadis gadis itu tetapi sekarang, sang Uncle hanya menatapnya dari kejauhan dan berada tepat di belakang mobil Alma.


Mobil yang di bawa Alma hanya di bawa dengan kecepatan dan lari 20. Sungguh lari yang sangat lamban. Tetapi ini harus di jalani dulu. Sudah bisa membawa pada jalan raya juga lumayan pikirnya dengan senyum.


Sementara itu di dalam mobil, dibelakang dengan mobil Alma melihat jalannya mobil yang di bawa sang keponakan. Tampaknya Alma mulai bisa dan harus terus menerus membawa mobil itu ke kampus agar terbiasa guman Alex dengan tetap memperhatikan mobil yang dibawa Alma walau larinya seperti siput. Yang jelas ada kemauan dan mental kamu pasti bisa sayang!


Jikalah senja akan datang aku akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Tubuhku yang tidak lagi akan muda, dan tenagaku yang pasti jauh berkurang. Kau bisa mandiri, berdiri dibatas ke dua kakimu tampa aku dan juga tampa Bi Ana desis Alex merasa sedih.


Mobil Alma telah tiba di depan kampus. Teman-teman Mahasiswa banyak yang melirik mobil Sport keluaran terbaru itu. Mereka tidak menyangka jika Alma gadis manja menurut mereka bisa membawa mobik ke kampusnya.


"Alma." Seru Dinda dengan terkejut dan langsung meraih tangan temannya itu yang baru saja turun dari dalam mobil.


"Ya, sayang kenapa mau nugget lagi, banyak di bawa di dalam bekal." Ucap Alma dengan santai.


Dari kejauhan Alex yang melihat Alma telah sampai pada halaman kampus dan dengan sangat rapi memarkirkan mobilnya diantara mobil yang lain. Ia pun berlalu dan meninggalkan kampus itu dengan senang hati menuju ke tempat Perusahaannya berada.


"Bukan itu yang ku maksud teman, sejak kapan kau pandai membawa mobi. Setahuku ngak pernah cerita." Cecar Dinda sambil mengimbangi jalan Alma.


"Ya kalau di bilangin, ya ngak kejutan ya say. Itu namanya bercerita hehe." Alma tersenyum geli.


"Jadi kalau sudah bisa bawa mobil Sport seperti ini kita bisa jalan-jalan sore ya selepas habis jam kuliah." Bujuk Dinda dengan sangat senang.


"Wah aku juga di ajak ya Alma, jangan pilih kasih seperti itu." Tino tiba-tiba saja menimpali.


"Aku bakalan ajak kalian, nanti sore. Dengan syarat harus bantu aku menjawab diskusi kelompok kita jangan semua pertanyaan aku yang jawab. Kalau nanti ternyata kalian bisa, jangankan aku bawa.Aku traktir juga sekalian."


Ucap Alma berjanji.


"Ya aku usahakan. Kata mereka berdua secara bersamaan."


Alma terkekeh geli, melihat sohib mereka berdua yang terkadang lucu kadang juga terkesan bodoh.


Perkuliahan telah di mulai, meja dan kursi telah di susun sedemikian rupa. Karena saat ini adalah perkuliahan dari dosen Rey.


Dosen itu masuk, dan benar saja mereka membuat para mahasiswa perempuan kembali berteriak histeris.


"Wah, dosen kita makin hari makin ganteng, ingin deh, tiap hari bapak masuk ruangan kita." Celoteh mahasiswa perempuan dengan sangat antusias.


Dinda yang melihat pandangan itu hanya tampak mengerucutkan bibir seksinya melihat teman-teman yang sangat antusias pada dosen tampan itu.


"Ah, bapak membuatku terasa tak bisa tidur siang dan malam jika teringat wajah dosen tampan kita yang rupawan." Ujar mahasiswi yang gendut berada pada kursi depan.


Sontak semua mahasiswa tertawa geli bersorak melihat betapa pedenya si gendut dan berkata seksi pada dosen yang terlihat begitu cuek dan dingin.


"Ndut..pandai juga kau berpuisi." sorak mahasiswa yang lain.


Ruangan menjadi sangat heboh pagi menjelang siang itu. Tetapi tidak dengan Alma. Ia hanya biasa-biasa saja hanya senyum tipis yang terukir di wajah cantiknya.


"Selamat pagi menjelang siang. Perkuliahan akan segera akan di mulai." Ujar Dosen Rey dengan dingin.


"Sebelum perkuliahan di mulia, saya akan mengabsen kalian terlebih dahulu. Jangan coba-coba untuk menyelamatkan teman yang tampa kabar." Ujar dosen Ray dengan nada datar.


Wah dosen tampan itu ternyata killer juga ya, pikir Alma dan Dinda dalam hati.


Setelah Absen selesai, mereka diperintahkan untuk duduk secara berkelompok karena acara diskusi akan segera dimulai.


"Kelompok pertama akan segera maju, silahkan tampil ke depan.!"


Kelompok pertama adalah kelompok Alma bersama dengan kru-nya mereka akan membahas mata kuliah Komunikasi Bisnis.


Kelompok pertama itu tampil menyajikan dengan sempurna. Moderator di pimpin langsung oleh Alma Miranda Brhamajaya.


Sekarang tinggal pertanyaan dari kelompok lain. Dan kelompok penyaji harus siap dengan semua pertanyaan yang ada karena semua itu akan masuk pada kategori penilaian.


Alma tampak antusias menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Pertanyaan itu sebenarnya ia bagi kepada anggota kelompok tetapi mereka sangat kurang pas untuk menjawab dengan sempurna akhirnya Alma juga yang menyempurnakan jawaban dari teman-temanya itu.


Dosen Ray bedecak dalam hati, betapa ia sangat mengagumi kecerdasan gadis belia yang di atas rata-rata menurutnya.


Wajahnya yang cantik terkesan sedikit cuek dan dingin Aura kecerdasan tentu saja mengalir pada darahnya tentu saja darah Teguh Brhamajaya padanya.


Dosen Ray mencatat semua mahasiswa yang aktif dan juga fasif. Dan dalam penilaian itu Alma dalam posisi nilai terbaik.


Diskusi di tutup kembali oleh Moderator. Alma sebagai moderator mengucapkan salam dan menutup dengan hormat dan ucapan terimakasih pada semua rekan yang telah mendukungnya.


Posisi tempat duduk telah disusun seperti biasa. Dosen Ray menjelsakan dengan lebih rinci tentang mata kuliah yang baru saja di bahas.


Mereka semua dengan sangat paham. Entah karena dosen Ray pintar atau juga penjelasan secara logika yang membuat para Mahasiswa paham.


Setelah perkuliahan selesai, meraka semua bersorak dan beranjak keluar ruangan.


Tetapi tidak dengan Alma yang tadinya hendak keluar bersama Dinda. Dosen Ray memanggilnya.


Alma datang dan mendekat pada meja Dosen Ray.


"Ada apa pak." Alma mendekat.


Setelah ini, Alma ke ruangan saya." Ujar dosen itu dengan datar.


"Baik pak." Dosen Ray keluar ruangan.


Dinda yang melihat Alma bertanya dengan serius.


"Dosen ganteng itu ada perlu apa dengan mu Alma? ada masalah?" tanya Dinda dengan sangat kepo.


Aku juga tidak tahu Din, perlu apa. Aku ke ruangan dosen Ray dulu ya." ujar Alma meninggalkan Dinda yang terpaku menatap punggung Alma yang hilang di balik pintu ruangan dosen.


Ada apa dosen Ray manggil ku?.Apakah penjelasan tadi sangat tidak baik atau terkesan salah desis Alma dalam hati.


Bersambung.