I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Uncle Alex suka usil.



Aksi Alex yang mendukung Alma, membuat para Pejalan kaki dan juga para pengendara untuk bersuit ria pada pasangan yang terlihat begitu cuek. Alex merasa rasa yang lain mendukung gadis yang telah beranjak dewasa itu. Sementara Alma merasa kehangatan dan kasih sayang yang selalu ia dapat dari seorang Alex.


Tidak apa-apa jika selalu begini Uncle, aku tidak akan pernah melepas perempuan mana pun untuk mengambil kebahagian dariku desis gadis itu dalam hati. Apakah ia serakah? ataukah ia sangat egois entahlah yang pasti, ia hanya ingin selalu bersama dengan sang Uncle setiap saat!


"Pegang yang erat leher Uncle, nanti jika terjatuh lagi Uncle tidak bertanggung jawab lagi ya." Di sela-sela nafas yang ngos-ngosan Alex mengingatkan Alma untuk memperkuat pegangannya pada leher pria itu.


Ia seperti gadis 8 tahun kemarin yang jika salah , Alex akan memarahinya tetapi penuh dengan rasa sayang.


Benar saja gadis yang telah tumbuh besar itu terlihat memang seperti gadis kecil yang


Mereka telah sampai pada gerbang ruang depan rumah besar itu. Penjaga tergopoh-gopoh membuka pintu pagar melihat Alex yang mendukung Alma.


"Ada apa tuan?" sapa Damar pada Alex.


"Biasalah Damar, gadis manja yang berlari sedikit saja sudah terpeleset dan terjatuh dan minta gendong ke padaku." Ucap Alex datar.


"Huh..Uncle membalikan fakta. Bukan aku ya pak Damar minta di gendong, melainkan Uncle sendiri yang menawarkan." Ucap Alma sambil memukul kecil pundak Alex.


"Hmm..sudah di tolong malah mukulin, ah..sakit ." Keluh Alex pura-pura merasa sakit.


"Uncle, jangan mulai lagi ya." Alma mengacungkan tangan putihnya pada Alma dan hal itu membuat Alex tertawa keras.


"Uncle, jahat. Orang lagi sakit juga diterwain."


Alex menghentikan tawanya. Begitu juga dengan pak Damar.


Alex mendudukan Alma pada kursi di ruang depan. Ia mengambil oksigen dari hidung dan menghebuskanya dengan perlahan.


"Pak Damar, ambil salep untuk menghilangkan bengkak dan terkilir di kotak obat."


"Baik Tuan." Asisten yang setengah baya itupun lalu pergi mengambil salap yang dimaksud.


Tidak lama Pak Damar membawa salap trombobhop.


Ini adalah salah satu salap yang terasa sangat dingin jika dioleskan pada permukaan kulit yang bengkak dan terkilir.


Alex mengambil pada Pak Damar dan ingin memasangkan salap itu pada Alma.


"Uncle aku bisa sendiri." Protes Alma dengan cepat.


"Gadis keras kepala, nih ambil dan pasangan sendiri." Alex mengulurkan tangannya yang berisi salap itu pada Alma.


Benar saja, gadis itu berdiri tetapi sungguh ia tidak bisa menahan rasa nyeri dan sakit di punggung dan di pergelangan kakinya yang mulai membiru.


"Benar saja, kau sungguh keras kepala sayang." Ujar Alex dengan sedikit kesal.


Alma duduk kembali di kursi rotan itu dengan menahan ngilu. Ia hanya pasrah saat Alex mengambil salap itu dan mengoleskan pada Alma. Sambil mengoles pria itu memijit pergelangan kaki Alma yang mulai membiru.


Rasa nyaman dan rasa sakit yang tadi Alma rasakan sedikit berkurang. Ia tidak begitu merasakan nyeri begitu kuat lagi.


"Salapnya dingin ya Uncle, sangat nyaman. Kok Uncle bisa memijit dan tahu obatnya Uncle?" Alma sangat merasa ingin tahu.


"Apa yang tidak bisa dan tahu oleh Uncle sayang. Kita harus bisa dan juga harus tahu. Tidak sedikit-sedikit harus ke dokter. Jika sudah tidak bisa sama obat yang ada di Apotek baru kita ke dokter." Jelas Alex dengan datar.


"Kalau begitu Uncle pernah kerja di Apotek mungkin makanya setiap Alma sakit Uncle tahu sama obat.?" Tanya Alma sementara Alex masih memijit pergelangan kaki Alma.


"Waktu muda apa yang tidak Uncle kerjakan sayang, jadi office boy, tukang bengkel, karyawan Apotek. Bahkan pernah jadi tukang bangunan." Kekeh Alex dengan senyum tipis


"Hmm.. bearti Uncle sangat banyak pengalaman ya." senyum Alma terkembang.


"Hah..Uncle mulai lagi ya." Sungut Alma dengan kesal.


"Siapa yang mulai, Uncle mengatakan hal sebenarnya."


Hening


Hening


"Jadi kita tidak pergi belajar nyetir ya Uncle hari ini."


"Tentu saja tidak Alma. Bagaimana jika menyetir dengan posisi kakimu yang terkilir, pijak rem dan kopleng gas pakai apa? Pakai dagu cantik mu?"


"Ditanya kayak gitu aja Uncle sewot, Alma kan cuma nanya. Masak pakai dagu Uncle pakai dengkul aja sekalian." Alma terkejeh geli.


"Sedang sakit bisa aja tersenyum. Uncle pargi dulu kalau begitu." Karena itu Handphonenya bergetar.


"Pergilah berbelanja. Aku sibuk Nara, sudah ku katakan jika hari ini aku akan pergi bersama dengan Alma. Aku sudah janji untuk mentransfer uang ke ke rekening mu. Apa itu tidak cukup?"


Suara Alex sangat jelas terdengar bagi Alma ia pura-pura tidak tahu dan mulai berdiri dari tempat duduknya.


Ia berjalan tertatih, walau tidak merasakan nyeri sekuat tadi di pinggang dan kakinya.


Alex yang sudah tadi menelpon kemudian langsung membantu Alma untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


Bi Ana yang ada di dalam ruangan melihat nona mudanya itu bertanya. Ia merasa sangat terkejut melihat Alma yang berjalan di bimbing oleh sang Tuan.


"Ada apa dengan nona Tuan?" Tampak raut muka tua itu terkejut.


"Tidak apa-apa Bi Ana, tadi Alma terjatuh, pinggangnya terkilir dan kakinya keseleo, ini juga sudah di obati." Ujar Alex menjelaskan.


"Bibi jangan kwartir, Alma tidak apa-apa Bi. Tolong kasih tahu asisten lain untuk mengantar sarapan ke kamar!"


"Baiklah nona, sarapan yang biasa?" Bi Ana bertanya lagi.


"Iya yang biasa nasi goreng plus telur mata sapi dan susu hangat."


"Baiklah nona." Ucap Bi Ana, raut wajahnya tidak lagi cemas seperti tadi.


Alam dan Alex menaiki tangga lantai dengan perlahan. Mereka telah sampai pada kamar gadis itu.


"Istirahat dan pergilah bersihkan tubuhmu!" Ucap Alex dengan melepaskan tangannya pada bahu Alma.


"Memang Uncle setelah ini mau kemana?" Bukankah ini hari minggu. Tentu Uncle tidak ke kantor?" tanya Alma penuh selidik.


"Ya, Uncle ingin senang-senanglah sayang. Tadi Nara menelpon minta dianterin ke salon dan ke Mall." jawab Alex enteng.


"Ya, pergilah sana Uncle."


Alma mendorong tubuh Alex dan menutup pintu kamarnya dengan keras.


Bruk


Kamar Alma tertutup rapat. Alex yang diluar kamar merasa sangat terkejut dengan kejadian barusan. Sebenarnya tidak pergi ke mana-mana, hanya bermaksud kembali untuk mengerjai gadis belia itu. Tetapi hasilnya luar biasa muka Alma sangat merah menahan marah. Tetapi gadis kecilku, kau sangat bertambah cantik dengan marah seperti itu desis Alex dalam hati.


Sementara itu di dalam kamar, Alma sangat merasa kesal. Jelas sudah ia mendengar percakapan jika sang Uncle tidak jadi pergi. Mengapa sekarang malah mendadak pula membuat janji, ah aku kesal desis Alma sambil masuk ke dalam kamar mandinya.


Bersambung