I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Jangan Seperti Itu Tuan, saya istri orang!



Deru mesin penggiling semen, dan suara pekerja yang begitu sibuk di lokasi proyek. Membuat para pekerja begitu fokus dengan pekerjaan mereka, apalagi saat ini ada beberapa orang mandor yang mengawasi mereka.



Pria tampan pemegang kekuasaan tertinggi, Alexanders Hamour Wilson. Entah mengapa orang tuanya sedari kecil memanggil pria itu dengan sebutan Hamdan. Pria yang bergaris keturunan Jawa dan Irlandia memang terlihat sangat sedikit seperti bule, hanya saja ia tidak mewarisi kulit sang ayah yang terlalu putih. Ia berkulit kuning langsat, berperawakan kekar dengan hidung tinggi yang mancung.



Pria itu membawa Indah ke ruangan di mana pada lantai atas pembangunan hotel itu, di ruangan predesinden suite telah selesai di bangun terlebih dahulu. Mereka dulu mendapat pesan dari mendiang Teguh karena ruang itu harus diselesaikan terlebih dahulu, karena sewaktu-waktu mungkin saja sang pemilik itu datang untuk memantau lokasi Proyek dan ingin beristirahat sebentar di sana.



Ketika telah berada pada lantai atas, Hamdan menarik tangan Indah pada kamar besar yang sekarang menjadi milik Pria Berketurunan Irlandia itu.



“Arggg.” Indah merigis ketika tangannya sedikit kasar ditarik oleh Hamdan ke dalam kamar itu.



Walau pembangunan hotel yang belum dikategorikan belum selesai, tetapi kamar yang ditempati Hamdan saat ini bersama Karyawan cantik itu, terlihat tidak ada yang kurang. Tempat tidur yang King Zice telah terpanjang di sana dengan alas kasur berwarna putih keemasan.



Prai itu lalu menghempaskan tubuh Indah pada Kasur yang sangat empuk. Dengan cepat ia menindih dan \*\*\*\*\*\*\* bibir yang sangat menjadi candu baginya dalam satu minggu belakangan ini.



“Tuan, tolong lepaskan.” Indah memberontak dan kukungan tubuh pria yang begitu kekar dan menghimpitnya dengan kuat.



“Aku tidak akan melepaskan mu, kau tahu setelah kejadian di kantor adik kecil selalu hidup jika mengenang dirimu. Kau harus bertanggung jawab akan hal itu!”




“Cukup Tuan, Agggh.” Indah seperti tidak mengeluarkan suara, yang terdengar hanya seperti sebuah \*\*\*\*\*\*\* halus.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya antara dua orang yang terjadi selanjutnya, suara pekerja yang fokus pada pekerjaan mereka tidak ambil pusing apa yang terjadi di lantai atas ruangan Presiden Suite.


Sementara itu di rumah Amira, perempuan yang lagi hamil dua bulan itu terus saja menelpon ratusan kali pada suaminya, tetapi tidak ada tanda-tanda handphone itu akan diangkat.


Perempuan itu terlihat bertambah kesal, ia menghentakkan kakinya ke arah lantai bawah rumah besar itu.


"Aku akan membuat perhitungan terhadap lelaki brengsek itu dan juga semua penghuni rumah ini yang seakan terlihat kompak ingin menjatuhkan ku." Desis perempuan itu dengan sangat dinginnya.


Ia kemudian meraih Handphone kembali, dan terlihat jelas jika ia menghubungi seseorang.


"Aku ingin kau membereskan semua masalah ini. Cara yang bersih, sama seperti ketika kau melenyapkan istri dan juga Teguh dengan sangat rapi. Aku juga mau kau juga melenyapkan putri satu-satunya yang akan bisa menghambat semua rencana!"


"Tetapi pekerjaan ini, kali ini sangat berat nyonya. Ini tidak main-main lagi, karena saya tahu, saat ini yang menjadi suami nyonya adalah seorang mantan mafia, apa nyonya tidak tahu?" Suara di seberang terdengar mengingatkan Amira.


"Aku tidak peduli, aku mau semua lenyap dan aku sangat tidak menginginkan mereka ada dalam hidupku dan menghambat semua rencana." Kembali suara Amira terdengar seperti nada pembunuh yang siap menelan musuhnya saat itu juga.


"Kalau begitu mau nyonya, saya tidak bisa bekerja sendiri. Butuh beberapa orang untuk bekerja membantu saya dan itu harus memakan dana yang tidak sedikit, saya tidak mau terlibat sedikit pun dengan urusan hukum! dan jika nasib naas terjadi nyonya jangan bawa-bawa nama saya!"


"Kau tenang saja, aku akan menstanfer berapa dana yang kau butuhkan!"


"Baik, nyonya."


sambungan telpon tertutup dengan cepat, Bi Ana yang mendengar semua pembicaraan nyonya besarnya itu dari balik dapur, memegangangi dadanya dengan berdebar. Ia sangat cemas dan segera berlari mencari putri kecil majikannya itu di taman belakang.


"Aku harus menelpon tuan Hamdan dengan segera," ujar perempuan separuh baya itu dengan gemetar.