
Hari telah benar-benar telah petang, Hamdan mengendarai mobilnya tanpa Supir pribadi. Sesekali ia juga melirik gadis kecil itu melalui kaca spion.
"Alma, apakah ada yang mau di beli? Biar kita singgah sebentar?" Hamdan bertanya dengan Alma yang dari tadi hanya berdiam diri.
Bi Ana melihat pada nonanya itu. Dan memberikan isyarat.
"Ee..hmm tidak ada Uncle,Alma mau cepat pulang."
"Oh, baiklah."
Hamdan kemudian melajukan kendaraannya kembali menuju rumah.
Mereka telah sampai di rumah besar berwarna Maroon. Satpam membuka pintu gerbang dengan tergopoh.
Mereka bertiga baru saja turun dari mobil dan mau menurunkan semua batang-barang Alma. Di depan pintu masuk rumah, Amira telah berkacak pinggang melihat Alma yang pulang di jemput oleh Hamdan.
"Ngapain juga kamu harus repot-repot mengurus bocah ini. Dia bisa pulang bersama supir, mengapa mesti kamu yang jemput.?" Amira menghardik Hamdan yang baru saja pulang.
"Bi Ana, bawa Alma masuk ke kamarnya," ucap Hamdan datar.
Alma dan Bi Ana lalu pergi ke kamar mereka, yampa peduli lagi dengan tatapan Amira yang seakan ingin membunuh.
"Amira kamu jangan perna untuk terlalu bersikap yang tidak wajar pada bocah kecil itu, kau tahu semua yang ada disini adalah punya bocah itu. Kau mungkin mendapat bagian, tetapi cuma beberapa persen.!" Hamdan tidak lagi mampu rasanya menahan emosi yang begitu memuncak.
"Hamdan, kau berani sekarang untuk membela dia dibanding aku.!"
"Kau juga harus berpikir Amira, bukan aku membelanya, tetapi kelakuanmu sudah di ambang batas, jangan pernah kau menyakiti bocah kecil itu lagi, karena kau pasti akan menyesal setelah itu.!" Hamdan meninggalkan Amira yang terdiam mematung.
Entah mengapa, mengikis sudah rasa yang dulu ada pada pria tampan itu untuk istrinya.
Amira tidak menyangka sama sekali jika hari ini, Hamdan telah menampakkan gigi tarinya padanya.
Bocah sialaan itu, memang benar-benar telah membuatku sangat sial, dulu Teguh sangat menyayanginya sekarang Hamdan. Bocah ingusan itu harus segera disingkirkan dari rumah ini desisnya dalam hati.
Amira dengan kesal mengikuti Hmadn yang telah sampai pada lantai atas, menuju kamar mereka.
Asisten dan pelayan yang ada melihat pertengkaran tuan dan nyonya mereka, hanya berbisik di kejauhan.
Mereka sangat tidak terima jika Alma putri dari majikan mereka yang telah tiada, harus menerima perlakuan buruk dari Amira. Mereka terlihat mengadakan rencana dengan bergerombol bersama tidak jauh dari sudut ruang tamu.
Amira telah sampai pada kamar mereka di lantai atas, terdengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi, ya suami tampan itu tampak lelah dan mendinginkan pikiran dan tubuhnya dari aktivitas hari ini.
Hamdan keluar dengan rambut yang sedikit basah, dan air yang sedikit menempel pada tubuh kekarnya, membuat ia kelihatan daya tarik tersendiri bagi pria itu. Amira yang dari tadi melihat suami tampannya itu, kemudian mendekat dan mengalungkan tangannya pada leher koko Hamdan.
“Sayang kau sudah mandi?” Amira memeluk leher suaminya itu dan merangkulnya dengan erat.
Hamdan terdiam, sebenarnya ia begitu jengkel melihat kelakuan Amira pada Alma, rasa yang biasanya bergelora pada perempuan itu dan biasanya tiap hari menggoyangnya sedikit terkikis.
“Sayang, maafkan aku. Sudah beberapa hari ini ini, kau tidak memberi jatah padaku apa kau tidak merindukan ku?”. Amira mendekat dan menggeser-geserkan gundukan putih di dadanya itu pada punggung Hamdan.
“Aku lelah, Amira. Perutku terasa lapar, apakah kau tidak ingin memberiku makan dulu, dari pada menuruti keinginanmu?” Hamdan melepaskan tangan Amira yang bergelayut manja pada lehernya.
Perempuan itu terlihat terkejut dan juga sangat malu, tangan yang biasa digenggam erat oleh Hamdan, dikecup dicium mesra dan diperlakukan layaknya seperti ratu. Sekarang tangan itu terlepas dari leher itu bahkan seperti dihempaskan oleh pria yang sangat dicintainya.
Hamdan kemudian memakai baju santainya di rumah, ia menyisir rambutnya dengan rapi. Di sudut pantulan cermin ia melihat Amira yang sangat dongkol padanya. Pria Itu lalu mendekati Amira yang duduk bersandar pada dinding tempat tidur mereka.
“Kau menginginkan ku sayang? Kalau begitu kau harus menuruti kemauanku, karena aku adalah suamimu. Jangan pernah kau berbuat seperti itu lagi di hadapan semua orang, bahkan aku seperti sampah yang tidak berguna di hadapanmu!” Ia mendekat dan melahap bibir Amira dengan sangat ganas.
Perempuan itu tidak merasa nikmat akan bibir Hamdan kali ini, tetapi bibirnya terasa perih. Bibir Hamdan menekan bibirnya dengan sangat kuat, bahkan seperti sebuah penyiksaan. Bibir itu terlihat seperti memerah dan bengkak.
“Hamdan lepaskan!” Amira berteriak marah.
“Jangan pernah berteriak marah Amira, aku suamimu saat ini! Camkan itu!”
Amira berdiri dan matanya melotot pada suami tampannya itu, ia mencengkram leher Hamdan dengan kuat.
“Aku menyesal telah mempercayakan perusahaan ini padamu, baru satu kau menjabat Ceo pada perusahaan kelakuan busukmu telah terlihat. Aku akan merebutnya kembali ingat itu Hamdan!”
“Kau..Kau..” seru Perempuan itu tertahan dan berusaha untuk menangis.
“Jangan mengeluarkan air mata buaya padaku! Sedikitpun aku tidak akan bersedih padamu!” Hamdan mendorong tubuh itu ke atas ranjang.
Tubuh itu terdorong dan terhempas di atas kasur yang empuk. Hamdan kemudian menindih nya dan kembali memegang rahang Amira.
“Kau mengatakan ingin merebut Perusahaan itu kembali, kau kira perusahan itu punya nenek moyangmu! Perusahaan itu beserta aset yang ada adalah punya Alma Brahmajaya. Aku memberi semua yang ada pada miliknya ketika ia telah berusia matang.!!”
Pria itu kemudian berdiri merapikan kembali baju kaos santai yang ditarik Amira. Ia keluar dan membanting pintu dengan sangat kasar.
Sebenarnya, ia tidak ingin berlaku kasar pada perempuan yang tengah hamil anaknya itu. Tetapi kelakuan Amira membuat emosinya meledak, kakinya belum sampai pada teras rumah. Perempuan itu telah mengatai-ngatainya dengan kata-kata yang kotor di depan semua orang! Harga dirinya sebagai laki-laki dan suami dirumah itu dipertanyakan!
Tap
Tap
Langkah kaki itu kemudian menuruni anak tangga. Ia kemudian menuju ruang makan tidak jauh dari ruang dapur yang bersebelahan.
“Bi Yani, ke sini.” Hamdan memanggil asisten yang dijumpainya
“Ya, Tuan.”
“Panggil Bi Ana ke sini dan juga nona Alma.”
Hamdan kemudian duduk di kursi makan, sengaja ia memanggil Alma dan juga Bi Ana untuk mengajak mereka makan malam.
“Tuan memanggil saya?”
Bi Ana keluar bersama Alma yang juga telah berganti pakaian dengan bersih. Mereka berdua menatap Pria itu yang sedang duduk menanti kedatangan mereka.
“Alma duduk di sini.”
Hamdan menarik kursi kosong yang bersebelahan dengan kursinya.
“Tapi Uncle..” Alma terlihat takut dan juga ragu.
“Tidak ada tapi, dan Bi Ana mengapa bengong juga, ayo duduk dan kita akan malam bersama!”
Alma dan Bi Ana berpandangan, Bi ana kemudian mengisyaratkan agar Alma menuruti perintah tuan Hamdan.
Sementara itu di dalam kamar amira terlihat sangat marah dan kesal, ia berjalan mondar-mandir seperti setrika yang lagi bekerja. Mending setrika menghasilkan kain yang telah licin disetrika, nih Amira mondar mandir tanpa menghasilkan apapun.