I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Alma Jatuh Sakit



“Kau tidak perlu ke dapur, karena dibalik pintu ini, ada ruangan stoc kopi, gula dan dispenser!”


Indah dengan cepat berdiri dari kursinya dan berlajalan keruang yang disebutkan Hamdan. Baru saja ia hilang dibalik pintu. Terdengar suara lengkingan dan suara terjatuh.


Membuat Hamdan yang berada di dekat Komputer sangat terkejut dan menyusul Indah dengan segera.


Hamdan membuka handle pintu, tetapi naas yang terjadi. Pria itu terjatuh juga tepat di tubuh Indah yang tadi terpeleset di ruangan, karena lantai yang basa karena dispesenser yang bocor.


Brukk


Brukk


Tubuh mereka saling saling tertindih membuat kepala Hamdan berdenyut sakit, demikian juga dengan Indah, lutut dan kakinya terasa sangat nyeri. Indah ingin berdiri tetapi tubuhnya telah terhimpit dengan tubuh besar Hamdan yang terasa sangat berat. Mata meraka beradu dan saling tatap bahkan bibir Indah yang sensual terbuka sedikit lebar. Gelenyar aneh sekarang menjalari tubuh mereka berdua.


Hamdan merasa ia berada di atas tubuh yang empuk dan tangannya sebelah kiri tanpa sadar berada di atas gundukan yang kenyal dan padat. Dan posisi dagu yang mengenai bibir indah. Hasratnya yang sedari di pendam sekarang sungguh tidak tertahan. Ia meraih wajah karyawan cantik itu, dengan posisi yang masih berada di atas tubuh Indah, ia ******* bibir sensual itu dengan dalam.


Sementara Indah dengan posisi yang reflex seperti ini, tanpa sadar ia telah di serang dengan mendadak. Ia tidak menyangka sama sekali jika pria yang menjadi atasan itu begitu berhasrat padanya. Jujur diakui oleh Indah ia juga haus akan belaian seorang lelaki, walaupun ia sekarang telah bersuami, tetapi suaminya sampai saat ini belum bisa seutuhnya memberi nafkah batin pada Indah. Suami Indah mempunyai penyakit yang membuat senjatanya belum berdiri dengan sempurna. Satu tahun menikah menikah tanpa malam pertama sekali.


Indah memejamkan mata, menikmati sentuhan Hamdan yang bermain ditubuhnya. Bahkan tangan lelaki itu telah bergerilya di bawah rok hitam miliknya. Ia hanya pasrah, apakah ia serendah itu? apakah ia salah, selama ini ia hanya berdiam menanti nafkah batin dari suaminya? Ia juga butuh belaian dan nafkah, istri orang tetapi serasa masih gadis itu yang ia rasakan sekarang.


Area sensitifnya telah terasa sangat lembab dan basah, karena tangan Hamdan telah menobok-oboknya dari tadi. Hatinya ingin menolak, tetapi tubuhnya seakan sangat menerima sentuhan itu. Sampai dering Handphone terdengar mengejutkan mereka berdua.


Sejenak Hamdan mengabaikan bunyi dering yang memekankan telinga. Ia terlalu larut dengan hobinya saat ini. Tetapi lama kelamaan ia juga harus segera berdiri dari tubuh itu dan meraih Handphone yang berada di meja kerjanya.


“Hallo, yang.”


“Ya, sayang. Aku masih di luar ini juga mau pulang, begitu banyak dokumen dan berkas yang harus aku kerjakan.”


“Ya, ini juga sangat larut, aku takut kenapa-napa pada mu.”


“Aku baik-baik saja, kau mau titip sesuatu padaku. Aku kan mampir mencari makanan kesukaanmu.”


“Tidak sayang, aku hanya ingin kau pulang dengan segera.”


Indah yang mendengar percakapan Hamdan dan istinya itu tersadar dari ulahnya yang sedikit bodoh. Ia tidak ada masalah apa-apa dengan istinya, tetapi mengapa ia sangat berhasrat padaku. Bodoh! Kau sangat bodoh Indah! Indah merutuki kebodohannya dalam hati. Ia berdiri dan merapikan tubuhnya yang hampir setengah telanjang.


Sementara itu, Hamdan yang melihat Indah berdiri. Ia memeluk pinggang ramping itu tampa rasa sungkan lagi. Indah menepiskan tangan Hamdan dengan kasar.


“Kau tadi tidak menolak Indah, tubuhku yang bahkan tercemar karenamu. Aku tidak pernah melakukan penghianatan apapun terhadap istriku, dan kau memulainya dan kau yang harus bertanggung jawab, ku rasa kau juga sangat menikmatinya!”


“Aku tidak bekerja setengah-setengah Indah, lain kali ku akan memintamu untuk seharian bergoyang di kasurku! Aku pastikan itu. Simpan berkasmu yang belum selesai, jika belum juga sudah esok hari terpaksa gaji temanmu seruagan akan menjadi tahuhannya!”


“Aku..”


Hamdan kemudian menghampiri kembali perempuan cantik itu, ia kembali mengukungnya di tembok dan membenamkan bibirnya dengan perempuan berkulit putih bersih itu. Tidak lama ia melepaskan pagutan itu, terlihat indah sangat pasrah.


“Jika saja hari belum larut, aku kan menuntaskan pekerjaanku sekarang juga. Ayo kuantar kau pulang, hari sudah mendekati larut.”


Indah menolak untuk diantar pulang, tetapi Hamdan sangat memaksa. Bagaimanapun bejatnya seorang Hamdan tidak akan membiarkan seorang perempuan yang baru saj dilecehkan pulang dalam keadaan berantakan.


Sementara itu di rumah besar berwarna Maron. Alma terlihat sedang dalam keadaan tidak sehat. Tubuhnya menggigil menahan rasa panas yang menjalar di tubuhnya. Bi Ana hanya biasa mengompres tubuh nona kecilnya itu. Ia telah ke Apotik dan meminumkan sirup parastamol, tetapi tampaknya panas Alma juga belum turun. Rasa cemas, telah mulai mengahantuinya saat ini. Sampai pintu kamar milik Alma terbuka dan terlihat Amira berkacak pinggang melihat Alma yang lagi tertidur.


“Wah, enakan-enakan tiduran. Bunga kesayanganku kenapa samapi potnya jatuh dan pecah. Pasti nih, anak sial yang menjatuhkannya!.Ayo nagku aja!”


Amira meraih selimut tipis yang dipakai Alma, ia menarik tangan bocah itu dengan sangat kasar, hampir saja Alma terjatuh jika tidak di tolong oleh Bi Ana.


“Saya mohon nyonya, untuk kali ini saja. Biar di potong gaji saya menganti pot yang rusak, asal jangan sakiti non Alma. Ia lagi deman nyonya. Panasnya sangat tinggi.!”


Asisten itu menghiba, memohon pada nyonya berhati iblis itu agar berbaik sedikit saja. Ia memeluk erat tubuh Alma yang terus berpejam menahan sakit yang dideritanya.


“Aku tidak peduli, anak ini harus diberi pelajaran.!”


Ia tetap menyeret tubuh Alma yang lemah, Bi Ana berteriak histeris tangisnya pecah tidak tertahankan lagi. Sampai suara sepatu pantopel terdengar mendekati mereka.


“Amira, ada apa ini.” Hamdan berdiri di hadapan mereka.


“Tuan aku mohon, non Alma sedang sakit. Beri sedikit rasa iba kalian. Aku akan melakukan apa yang kalian suruh, asal non Alma di bawa ke rumah sakit.”


Amira mendengus kesal dan menahan semua kemarahan dan mendekati Hamdan.


“Sayang, ini mungkin saja pembawaan kehamilanmu. Tetapi kau tidak boleh begitu yang. Ayo jangan marah-maarah lagi, ayo kita ke kamar.”


Amira menurut, ia merangkul istri iblisnya itu. Tetapi di lubuh hatinya terdalam ia sangat tidak menyukai perbuatan Amira yang seenaknya. Ia memberi kode pada asisten itu agar mengantar ke kembali Alma ke dalam kamar.


Ketika Amira telah tenang, ia kembali melihat kondisi Alma. Suhu tubuhnya begitu naik, hampir mencapai 42, Ia memutuskan Alma di bawa ke rumah sakit.