
Sementara itu di rumah sakit Alma telah tampak benar-benar membaik, dokter memperbolehkan gadis kecil untuk pulang sore nanti. Sang asisten tampak terlihat bahagia. Tidak dapat rona bahagia yang hadir pada wajah setengah baya itu.
“Non nanti kita akan pulang sore nanti.”
“Benarkah Bi.?”
“Tentu saja, sayang.”
“Jadi Alma akan segera bertemu Poky.”
“Tentu saja.”
“Jika nanti telah sampai di rumah, jangan kemana-mana jika nyonya besar ada di rumah, non dengan bibi saja di ruang dapur ya sayang bantuin bibi memasak dan bersih-bersih.”
Sejenak gadis kecil diam tidak menyahut apa yang dikatakan oleh asisten itu. Ia kembali terlihat sangat bersedih. Bi Ana yang melihat kesedihan pada nona kecilnya menjadi serba salah. Ia hanya bermaksud untuk menghindari Amira dan Alma nantinya, tetapi Nona kecil itu terlihat termenung dan bersedih. Apakah ia salah? Ini adalah jalan-satu-satunya, agar Alma jangan lagi bertemu iblis berwujud mama tirinya itu.
“Sayang, jangan pernah bersedih. Ini tidak akan lama, percaya pada bibi. Tuhan pasti tidak akan membiarkan perbuatan jahat selalu ada di rumah kita nona.”
“Apa Alma boleh sekolah Bi Ana jumpa bersama-sama dengan teman Alma.?”
“Tentu saja sayang, kita harus sekolah. Biar kita pintar dan bisa mengambil kembali apa yang menjadi milik nona.”
“Bibi, apa yang menjadi milik Alma?”
“Nona harus sekolah dulu biar yang pintar, nona akan paham apa yang menjadi milik nona ketika sudah besar dan pintar.”
“Jadi Alma harus sekolah dan pintar dulu ya Bi?”
“Iya sayang.”
Senyum hangat mulai hadir kembali pada wajah bocah kecil yatim piatu itu. Bi Ana yang melihat itu semua kembali terlihat lega. Ia harus mengajarkan bocah itu agar mandiri dan pintar. Suatu waktu jika ia telah tua dan renta siapa lagi yang akan melindungi dirinya, jika tidak dirinya sendiri pikir asisten setengah baya itu.
Bi Ana mengambil Handphone yang berada di dalam tas kecil milik Alma yang berada tergantung di dinding tembok rumah sakit.
“Tuan, non Alma sudah boleh pulang.”
“Tunggu di sana Bi Ana, saya yang akan menjemput kalian berdua.”
“Baik, tuan.”
“Sayang, kita akan segera pulang. Sebentar lagi perawat akan mencabut selang infus yang ada tangan Nona.” Bi Ana mendekati Alma yang masih duduk menghadap pada luar jendela.
“Jadi kita akan pulang sekarang Bi.”
“Ya, nona.”
“Terus kita pulang dengan siapa.?”
“Dengan Tuan Hamdan.”
“Uncle itu akan menjemput kita Bi, apa mama Amira nanti tidak akan marah?”
Sejenak bocah itu kembali tertunduk. Mungkin saja perlakuan Amira yang sudah keterlaluan padanya menimbulkan efek yang sangat tidak baik pada bocah itu.
“Ya, nyonya tidak akan marah. Percayalah pada bibi.”
“Nah, adek kecil sekarang kita buka infusnya dulu ya dek.” Perawat itu lalu mendekati Alma dan tersenyum ramah.
“Tidak sakit ya kak.” Alma sedikit takut.
“Tidak sayang, Kakak pelan-pelan mencabut selangnya adek tenang saja.” Perawat itu mendekat dan mulai membuka perban dengan perlahan dan mencabut jarum infus dengan pelan.
“Terasa sakit?” perawat itu bertanya dengan tersenyum.
‘Tidak kakak, hanya sedikit perih.”
Perawat itu telah selesai dengan pekerjaannya. Kemudian kembali dokter anak memeriksa ulang tubuh Alma. Dokter dan perawat tersenyum.
“Besok jika sampai rumah, adek jangan sering jajan di luar ya, kayak makan bakso goreng dan nugget yang ada di pinggir jalan. Mana tahu semuanya tidak hiegienis membuat sakit yang dialami perut adek. Salah satu yang menyebabkan penyakit tipes adalah makanan yang kurang matang, sosis dan bakso yang kurang matang bisa membuat bakteri dan kuman berkembang di sana.”
“Saya akan menjaga dan tidak akan membiarkan nona saya belanja sembarangan pak Dokter.”
“Baiklah kalau begitu, kami permisi.”
Rombongan dokter dan perawat itu segera keluar ruangan. Bi Ana Menatap bocah kecil kesayangannya itu, betapa ia sangat menyayangi Alma. Sedari dalam kandungan dan ketika ia masih bayi merah. Ia dalah orang pertama yang memeluk dan memangku bayi kecil itu, ia juga adalah orang yang memandikan, dan mengurus bocah itu sewaktu nyonya besar masih dalam keadaan sakit.
Sekarang bocah berumur sembilan tahun itu sendiri, hanya ia yang bocah itu punya. Tidak ada yang yang lain, berat terasa hati yang menangung kepedihan bocah itu. ia harus berjuang agar Alma tidak lagi mendapat perlakuan buruk dari ibu tirinya.
Bagaimana ia tidak terserang penyakit maag dan Tipes, Alma sering tidak mendapat makanan yang layak. Makanan yang sering dihangatkan, makanan sisa yang mungkin saja berkembang bakteri dan kuman pada makanan itu. Hal itu terjadi karena nyonya besar itu berada di rumah dan tidak ke kantor, jadi Bi Ana tidak sempat untuk menyimpan makanan baru seperti biasa yang ia lakukan. Karena hampir setiap waktu wanita iblis itu, meneror dan memantau Bi Ana di ruangan dapur.
Aku harus membuat sesuatu agar wanita sialan itu setelah ini, jangan lagi meneror Alma. Nona kecil itu harus nyaman tinggal di rumahnya sendiri desis asisten itu dengan geram.
Bi Ana dan Alma telah bersiap-sipa memasukan semua baju dan alat-alat mereka untuk kembali pulang ke rumah. Roti dan buah yang masih layak dibungkus rapi oleh Bi Ana dan Dimasukan kembali kedalam kantong plastik putih yang berada dalam tas Alma.
Tok
Tok
Bi Ana membuka pintu, terlihat Hamdan berdiri di sana dengan seorang perawat dan kursi roda. Hamdan melirik gadis kecil yang mulai terlihat sehat dan tersenyum.
“Sekarang kita sudah boleh pulang Alma.”
Hamdan mendekati ranjang dimana Alma masih duduk di sana.
Bocah kecil masih terdiam dan melirik Bi Ana yang juga masih menatapnya dengan senyum
“Ya, kita sekarang Pulang Nona.” Ujar Bi ana yang juga mendekati Alma.
“Nona akan dibawa dengan kursi roda, kita takut dengan tubuh yang masih lemas nona tidak bisa berjalan kuat.” Perawat laki-laki itu berujar padanya dan berusaha meraih tubuh gadis itu untuk membawanya ke kursi roda.
“Tunggu, biar aku saja memindahkan gadis kecil itu, aku uncle nya !”
Hamdan kemudian dengan reflek memberhentikan gerakan perawat laki-laki itu untuk memindahkan Alma. Bi ana dan gadis kecil itu pun lalu berpandangan.
“Ayo, Alma sekarang pindah ke kursi roda kita akan segera pulang.!” Alma hanya terdiam, tak kala Hamdan mengendong tubuhnya ke kursi Roda.
Tidak ada penolakan dari gadis itu. Bi Ana tersenyum sementara barang-barang tidak bisa di bawa oleh asisten itu, perawat yang tadi berada di ruangan diminta pertolongannya oleh Hamdan. Mereka lalu berjalan di koridor rumah sakit menuju tempat parkiran mobil.