
Hamdan tidak berhenti berteriak, manggil nama gadis kecil itu. Beberapa kali ia melangkah naik kembali pada lantai atas rumah mewah itu, tetapi tanda-tanda kehadiran bocah kecil yang di rasa sangat dekat dengan hatinya saat ini tidak juga di temukan.
Sementara itu di lorong dalam ruang rahasia bawah lantai tanah. Tempat yang sejuk dan sangat gelap. Suara-suara tembakan yang tadi terdengar, semakin menjauh. Bi Ana tidak berhenti berdoa dalam hati agar mereka di lindungi sang Penguasa Alam.
Terlihat doa Bi Ana terkabulkan, dengan terus memegang tubuh Alma yang ketakutan ia membimbing jalan dan lorong yang sangat panjang. Tidak sia-sia orang besar seperti Teguh, menyiapkan segala sesuatu yang mungkin saja terjadi.
Bi Ana dan Alma telah sampai ke suatu titik, di mana ruang yang tadi gelap sekarang telah mulai sedikit demi sedikit mendapat cahaya. Hingga cahaya itu terang itu datang, dan ujung lorong yang gelap terdapat cahaya yang datang dan pintu gerbang yang siap di buka.
Bi Ana membuka pintu yang tertutup dari dalam lorong, kemudian ia meraih tangan mungil Alma untuk segera keluar dari lorong itu.
Kini mereka berada pada luar lorong, mereka tidak tahu sebenarnya mereka berada di mana.
"Bi, kita sekarang di mana?"
"Bibi juga tidak tahu sayang, sekarang kita berada di mana," asisten itu memandang sedih wajah nona kecilnya itu.
Tempat yang mereka jumpai penuh dengan semak belukar dan juga rumput ilalang yang yang sangat tinggi.
"Bi, Alma takut." Terlihat Alma memegang erat tangan sang Asisten.
"Jangan takut sayang, ada bibi di sini." Asisten itu lalu memeluk erat tubuh sang bocah.
Ia memeluk dengan erat anak mendiang majikannya itu dengan perasaan campur aduk. Di mana kebahagian untuk sang bocah, baru dua hari Tuan Hamdan pergi dan menempatkan Alma di posisi yang sebenarnya di rumah besar itu, tetapi baru saja merasakan kebagian sebentar. Perempuan iblis itu lalu memerintahkan orang untuk mencelakai Alma dan menghabisi Nyawa sang majikan.
Senja mulai merambat turun, dan gelap mulai ingin menyapa permukaan tempat di mana tempat Alma dan Asusten itu berada.
Kembali pada rumah besar bewarna Maron. Hamdan menyuruh detektif handal untuk melakukan pencarian keseluruh rumah, semua diteliti dan di periksa tidak terkecuali tembok di belakang kitchen set terkuak sudah.
"Saya merasa Alma dan juga sang Asisten selamat Tuan. Mereka masuk pada jalan rahasia. Kalau saya perhatikan jalan ini tembus dengan jalur dua yang satu kilo panjangnya Tuan," ujar detektif itu menjelaskan.
"Jadi apa yang harus saya lakukan ?" Hamdan bertanya dengan tidak lagi sabaran.
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita segera menemukan nona kecil dan Asisten, mereka pasti kedinginan dan ketakutan saat ini Tuan."
"Jangan menambah beban di hatiku saat ini lagi, jadi apa kau maksud kita akan masuk ke dalam lorong rahasia?"
"Tidak dengan masuk Tuan, kita akan melihat di penghujung lorong rahasia. Jika di sana tidak ditemukan tanda-tanda adanya Bi Ana dan juga nona kecil. Kita akan masuk ke dalam jalan Rahasia itu Tuan." Detektif muda itu memberikan petunjuk.
"Baiklah jika demikian, jangan buang waktu lagi. Ayo kita berangkat sekarang.!"
Hamdan memerintahkan beberapa pengawal dan juga beberapa orang asisten untuk mendampingi mereka.
"Bi, Alma haus dan lapar Bi," bocah kecil itu mulai lelah dan juga kehausan.
"Sabar sayang, moga ada kuasa Tuhan untuk saat ini kita!"
Alma mulai memegang perutnya ia meringis menahan haus dan lapar. Bibir bocah itu terlihat kering, dan mukanya terlihat mulai memucat.
"Kalau begitu kita akan meminta air dan mencari rumah tetangga yang ada di sekitar sini nona." Bi Ana kemudian meraih majikannya kecilnya itu untuk berjalan mendekati rumah masyarakat yang terpencil tidak jauh dari mereka berdiri.
Alma menurut dan kembali mengikuti langkah asisten itu. Baru menginjakan langkah pada hitungan kelima suara yang sangat mereka kenal memanggil mereka dengan sangat keras dan lantang.
"Alma, Bi Ana.." Jelas suara Hamdan memanggil mereka yang berjalan ingin mendekati rumah yang terpencil di darah itu.
"Bi, lihat bukankah itu adalah Uncle Hamdan." Alma menunjuk Hamdan yang turun dengan cepat dari dalam mobil."
Alma dan Bi Ana tersenyum sangat senang. Tuhan kau selalu mengabulkan doa orang-orang teraniaya desis Bi Ana dengan rasa haru dalam dada.
Hamdan mendekat ke arah Alma yang sejenak melupakan haus dan rasa laparnya.
"Ayo, kita pulang sayang. Uncle kamu pasti sangat takut dan kwartir." Dengan rasa yang mengebu dalam dada sontak dan reflek pria itu mengendong Alma pada bahu kanannya.
Alma hanya bisa melihat Bi Ana dan tersenyum dengan malu-malu.
"Ayo Bi Ana masuk ke dalam mobil. Kalian pasti sangat lelah dan lapar." Bi Ana diperintahkan untuk masuk juga ke dalam mobil bersama dengan Alma.
Di dalam mobil, Hamdan langsung memberi nona kecil Alma minuman dan juga cemilan yang tersedia dari dalam mobil.
"Bi Ana kita belum pulang ke rumah pada saat ini, karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk kita pulang. Polisi masih bekerja dan mengumpulkan semua bukti yang ada. Kita akan menginap ke apartemen ku untuk beberapa hari ini Bi," ujar Pria tampan itu kembali menjelaskan.
"Baik, Tuan. Saya hanya ingin yang terbaik saja untu Non Alma," ucap Bi Ana dengan sendu.
Alma yang berada pada samping pria tampan itu terlihat mengantuk. Mungkin saja karena kelelahan yang melanda dan rasa takut yang sangat pada hari ini. Hati dan perasaan bocah kecil itu merasa terlindungi dengan berjumpanya dengan Hamdan lelaki yang di sekarang di panggilnya dengan sebutan Uncle.
"Saya berjanji Bi Ana akan menjaga dan melindungi kalian sebaik dan semampu saya." Ujar pria itu dengan tegas.
Hamdan melirik Alma yang mulai tertidur. Gadis kecil yang terlihat sangat cantik itu kemudian tertidur di pangkuan Hamdan.
Mobil berjalan membelah jalan Raya menuju pusat kota. Bocah kecil dengan rambut tergerai panjang itu sebagian menutup mukanya yang lagi tertidur. Dengan lembut Hamdan mengumpulkan rambut Alma yang tergerai dan hati-hati ia mengikatkan rambut itu di balik punggung Alma yang posisinya sekarang berada pada paha pria itu.
Bi Ana hanya tersenyum dalam hati. Semoga kali ini Alma akan benar-benar dalam kebahagiaan bersama sang uncle.
Mereka telah sampai pada Apartemen mewah pria itu. Alma terlihat belum juga bangun, tidurnya begitu pulas. Hamdan mengendong gadis itu dalam pandangannya menuju kamar yang biasa Hamdan tempati.