
Kesedihan tidak dapat terbendung lagi di wajah Alma manakala dokter mengatakan jika Alex dalam kondisi kritis dan butuh donor darah. Pria itu mengalami pendarahan cukup kuat di bagian dadanya yang terluka. Alma harus mencari donor darah untuk golongan darah Ab untuk Alex.
"Kami sebisa mungkin mencari donor darah di Bank donor nona, tetapi masih sampai detik ini belum ada konfirmasi dari pihak bank karena stok tersedianya golongan darah AB lagi kosong, jadi saran saya nona harus segera mendapatkan donor darah itu." Ucap dokter yang haru saja keluar dari UGD.
Alma terdiam, apa yang harus dilakukannya. Kemana donor darah akan dicarinya saat ini juga.
Alma menganggukkan kepalanya. Dokter pun berlalu, karena banyak pasien lagi di rumah sakit itu yang perlu tindakan medisnya.
Alma kembali tersandar dari dinding tembok rumah sakit. Punggung gadis itu menyelusur ke bawah dan sambil terduduk ia kembali menangis.
Ia menatap dari balik kaca ruangan UGD, Alex yang terbaring sangat lama. Banyak selang yang masuk ke tubuh sang Uncle dan kabel yang terhubung dengan alat terdeksi jantung.
Alma mengusap air matanya dengan kasar, ia tidak mungkin harus terus menerus menangis. Ia harus dengan segera mendapatkan donor untuk Alex.
Alma kemudian menghubungi rekan dan teman-teman yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Alex dan meminta tolong agar bisa mendonorkan daranya untuk sang Uncle.
"Baiklah teman, tenang dan sabarlah kami akan berusaha untuk membantumu." Itulah jawaban dari teman kampus Alma.
Bagaimana Alma akan tenang jika donor itu belum juga didapatkan. Gadis itu hanya bisa berdoa dan berserah diri. Hanya yang penguasa dari Alam semesta yang dapat menolong untuk ini semua pikir gadis itu dengan rasa sesak yang kembali muncul dalam dadanya.
Alma terduduk di ruang tunggu yang ada di depan ruangan UGD milik Alex.
Saat itu Rey membawa pakaian dan juga makanan untuk Alma. Walau hari telah larut malam Rey tidak pulang ke rumah. Ia akan menemani Alma sampai Alex benar-benar sembuh itu pikirnya lagi.
"Alma makanlah dan ganti bajumu. Aku akan mengantikan mu di sini untuk menunggu Tuan Alex.
"Aku tidak lapar pak." ucap Alma dengan lesu.
"Tetapi kau harus menganti baju mu dan juga harus makan. Jika kamu sakit siapa yang akan menjaga dan merawat Tuan Alex?"
Pria itu berkata benar, siapa lagi yang akan mengurusi Alex jika ia juga jatuh sakit.
"Baiklah aku akan menganti bajuku." Alma kemudian mengambil baju yang berda di tangan Rey.
"Terimakasih atas kebaikannya."
"Tidak perlu dipikirkan, gantilah bajumu dengan segera dan lalu makan." Ujar Rey dengan lembut.
Gadis cantik itu lalu berlalu dari hadapan Rey. Pria yang pernah di pukul oleh Alex sekarang pria itu yang menjaganya.
Rey melihat kondisi Alex yang kritis di dalam sana. Lelaki dengan sejuta prestasi di bidang bisnis itu sekarang dalam keadaan koma. Sungguh manusia bagaimana pun hebatnya jika takdir dan musibah telah datang ia tidak akan mampu untuk menolak itu semua.
Rey masih berdiri di depan ruangan Alex, ia masih menatap lama pria yang terlihat belum sadar akan masa kritisnya.
Alma telah datang dengan baju yang telah diganti. Wajahnya telah sedikit fresh ketimbang dari wajah sembab dan sangat kusut.
"Dan sekarang pergilah makan, jika tidak berselera untuk makan. Tidak banyak sedikitpun tidak apa-apa. Untuk sekedar mengisi energi mu yang terkuras." Ujar Rey sambil menyodorkan bungkusan putih pada Alma.
"Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih pada mu pak." Alma menerima pemberian dari Rey.
"Ya, baiklah pak, Aku akan pergi dulu."
Alma kemudian membalikan badan dan akan melangkah pergi.
"Eh, satu lagi. Jangan panggil sebutan bapak. Aku bukan bapakmu dan juga bukan dosen mu lagi. Panggilan saja dengan sebutan Rey."
"Oh, baiklah pak..eh, Rey." ucap Alma dengan terbata.
Tidak lama Alma telah kembali dengan perut yang telah terisi nasi walau hanya sedikit saja tetapi lumayan untuk membuat gadis rapuh itu dapat berdiri kuat di kedua kakinya.
Alma dan Rey masih menunggu kabar jika ada pemberitahuan dari pihak dari manapun yang akan membawa donor darah untuk Alex.
Dokter dan perawat kembali masuk ke dalam ruang UGD dan kemudian keluar kembali. Ia mendekati Alma.
"Bagaimana dengan donor darahnya nona, apakah sudah ada. Kami akan memgambil tindakan secepatnya. Karena sebentar lagi operasi paman anda akan segera kami lakukan. Jika tidak bertindak cepat saya tidak bisa berjanji nyawanya bisa tertolong." Jelas dokter dengan antusias.
Rey terdiam mendengarkan dokter yang lagi bertugas itu. Alma kembali menangis.
"Apakah kalian mempunyai golongan darah AB duantara jalian berdua?" dokter kembali bertanya.
"Golongan darah AB?" tanya Rey dengan terkejut.
"Ya, golongan darah AB. Saya punya golongan darah AB ambil saja darah saya untuk Tuan Alex." Dengan tulus.
"Baiklah jika demikian, silahkan ikuti kami ke ruang donor darah." sahut dokter itu dengan cepat melangkah ke ujung ruangan di mana tempat adalah ruangan donor darah.
Alma termenung melihat Rey yang telah pergi. Ia tidak menyangka jika lelaki tampan yang pernah menjadi dosennya itu mempunyai hati yang sangat tulus. Dia malaikat penolong untuk untuk Alex saat ini.
Sementara itu Night Clup, tempat di mana teman-teman Alma berkumpul dan merayakan hari dimana mereka telah menyelesaikan magang. Terjadi ledakan besar api berkobar dengan sangat besar.
"Alma, di mana kamu?" Dinda berusaha mencari temannya itu. Api telah menjalar sampai ke atap gedung.
Semua teman Alma berhasil menyelamatkan diri. Dinda dengan cemas dan dan berteriak histeris.
"Alma, oh tuhan tolong selamatkan temanku."
"Tenanglah Dinda, Alma tidak di dalam sana. Aku mendengar barusan terjadi kejadian bear yang kita semua tidak tahu. Karena asik dengan obrolan kita hingga melupakan Alma." Ucap Tino dengan nada menyesal.
"Jadi Alma tidak di dalam sana?" Ucap Dinda dengan mata berbinar.
" Tidak Din, Alma tidak di sana."
Tino kemudian menceritakan kronologis kejadian yang baru saja terjadi yang ia dengar dari penjaga dan juga saksi mata yang melihat anggota Rey dan juga anggota Alex yang bersiteru melawan orang-orang yang berseragam hitam.
Kobaran api telah membesar, mobil pemadam kebakaran telah tiba di daerah lokasi. Tetapi sayang bangunan itu tidak bisa lagi di selamatkan.