
Alma yang melihat Rey masuk juga menatap pria itu. Sejenak mereka saling tatap walau hanya beberapa detik saja.
"Apakah kau juga akan membersihkan tubuhmu Rey?"
Alma memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Ah, tentu saja aku akan membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu kita akan keluar sebentar."
Alma tersenyum dan mengangguk. Pria itu juga melangkah ke arah kamar mandi yang berada dalam ruangan.
Alma duduk di Sofa ruangan, sesekali matanya melirik Alex yang masih diam dengan tidurnya. Gadis dengan rambut bergelombang sebahu sepinggang itu lalu memeriksa handphone miliknya.
Sudah beberapa hari, termasuk juga dengan hari ini. Ia begitu sibuk dengan keadaan Alex dan sedikit melupakan jika ia tidak melihat keadaan dan aktivitas kuliahnya saat ini.
Di Group Whatshap ia melihat begitu banyak notifikasi yang tidak di bukanya dan begitu juga banyak yang ada pada Handphone tersebut.
Panggilan dari teman dekatnya Dinda dan Tino yang menanyakan keberadaan dan juga keadaan Unclenya.
Ia kemudian menghubungi dosen saat ini. Ia sangat melupakan sesuatu tentang kuliahnya. Untung saja Magang kuliah telah selesai dan Alma hanya mempersiapkan skripsi dan ujian akhir.
Rey telah selesai berganti pakaian dan membersihkan diri. Wajah segar juga terpancar dari wajahnya yang tampan.
Pria itu mengenakan baju santai dengan bahan dasar kaos. Baju itu terkesan sedikit ketat sehingga menampilkan bentuk tubuh yang six pack. Pria itu mengenakan bawahan dengan dengan sama seperti bawahan pada Alma celana selutut dengan ujung celana berkedut dan bertali kecil.
"Apakah kau sangat sibuk?" Rey menyapa Alma yang tadinya masih sibuk dengan aktivitas group Whatshap dan info tentang kampus gadis itu.
"Oh, tidak Rey. Aku hanya melihat info kampus dan juga para dosen. Mereka semua sangat mengetahui jika aku dalam masalah. Mereka sangat memakluminya."
Pria dengan baju santai itu menyisir rambutnya yang agak masih sedikit basah dengan jari kanan. Sementara tangan kiri menepuk sedikit celana santai itu dengan pelan.
"Jika tidak lagi sibuk ayo kita keluar, kau pasti juga merasa sangat lelah dan sumpek terus menerus menjaga Tuan Alex."
"Aku tidak keberatan Rey, menjaga Uncel dalam kondisi bagaimana pun."
"Oh, maaf jika kau merasa sangat tersinggung."
"Aku tidak merasa tersinggung Rey. Hanya saja kau tidak akan pernah mengeluh mengurus Uncle dalam kondisi bagaimana pun. Karena jika pun di tukar dengan nyawa ku baru mungkin seimbang. Karena kau tahu setelah kepergian papa. Ia menikah dengan ibu Tiri ku. Berkali-kali ibu Tiri itu mencoba membunuh dan menghilangkan nyawaku. Banyak moments yang aku kenang ketika Uncle dan sigap selalu berada di sisiku Rey."
Muka Alma terlihat sangat mendung. Ia melirik ke arah pembaringan di mana Alex masih dengan tenang dalam tidurnya.
"Aku paham Rey, ayo kita keluar. Tetapi siapa yang akan menjaga Uncel si sini?"
"Perawat jaga akan kita tempatkan satu orang di dalam. Kita pergi juga tidak akan lama Alma."
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Alex sebelumnya mereka berpesan pada perawat jaga yang mereka tempatkan dalam ruangan Alex.
Alam dan Rey pergi keluar dari Rumah Sakit Mewah itu dengan mengunakan lift. Tidak lama mereka telah sampai di daerah lantai bawah.
Alex menelpon seseorang dan tidak lama mobil jemputan telah datang.
"Silahkan Tuan Rey."
Lelaki setengah baya itu lalu membukakan pintu mobil dan mengangguk hormat pada Alma.
"Kemana kita Tuan?" Lelaki itu bertanya pada Rey yang telah memakai sabuk pengaman.
"Kita tidak perlu jauh dari rumah sakit. Karena Alma pasti sangat mengkawatirkan Unclenya. Kita ke tempat biasa. Restoran yang tidak jauh sekitar sini."
Mobil itu lalu meninggalkan daerah rumah sakit dan mulai masuk pada pusat kota. Tidak lama sang supir pun lalu menepikan mobil.
Rey kemudian membuka pintu mobil tanpa menunggu sopir yang biasa membuka. Ia menunggu Alma yang juga baru keluar dari dalam mobil.
Gadis itu memang menghirup udara segar di luar rumah sakit. Mungkin hal itu yang baru saja dikatakan oleh Rey. Ia melihat taman yang sangat asri di dekat Restoran bahkan di sana terdapat kolam renang sebelah kanan Hotel.
Alma seperti orang kampung saat ini. Ia begitu terkagum melihat kemegahan dan kemewahan yang ada. Sehingga kaki kiri yang melangkah ke depan tanpa sadar lantai ia pijak sekarang tidak sama datarnya bahkan bisa di bilang agak tinggi pada lantai dasar.
"Ahkkk.." Tubuh Alma oleng. Ia hampir saja terjatuh.
Rey yang melihat Alma yang hampir saja jatuh segera menangkapnya tubuh itu. Ia meraih tangan dan tubuh itu ke dadanya dan menahannya. Rey menangkap tubuh gadis itu namun dengan cepat ia membuat pertahanan pada kedua kakinya agar mereka berdua tidak terjatuh.
Mereka berdua saling merangkul hembusan nafas keduanya saling beradu. Mata pria tampan dan juga gadis cantik itu beradu. Aliran darah dan detak jantung antara keduanya berjalan tidak normal.
Mata bulat yang indah dan telaga bening pada mata Alma dengan tepi telaga yang ditumbuhi oleh belukar hitam yang pekat. Ia juga lagi menatap mata elang milik Rey.
"Ee..Rey.."
Bersambung