I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Maafkan Aku Uncle



Dinda dan Alma telah bersiap-siap dengan baju yang sederhana tetapi sangat di elegan di pakai oleh dua orang gadis cantik itu.


"Kau terlihat sangat cantik sekali sobat," Dinda tersenyum memuji Alma yang kelihatan lebih cantik pada malam ini dengan dress di bawah lutut yang dipakainya.


"Jangan terlalu memuji sobat sayangku, kau juga tidak kalah cantiknya..hmm..pasti Tino tidak akan bisa berpaling gadis lain." Ujar Alma dengan senyuman manisnya.


Rupanya teman akrab itu berubah menjadi Cinta antara Dinda dan Tino walaupun mereka selalu terlihat tidak akur. Namun benih-benih rupanya telah lama bersemayam di hati mereka berdua.


"Kamu meledak ku say, hmm..awas nanti di tempat acara akan kau cari jodoh untuk mu biar jangan jadi jomblo terus-menerus." ucap Dinda penuh ancaman.


"Mereka tidak tertarik padaku sayang, aku cewek yang tidak gaul dan modis seperti mereka yang laku dan dapat pasangan." Ujar Alma dengan terkekeh.


"Siapa bilang mereka tidak tertarik padamu tuan Putri. Mereka sangat tertarik, tetapi kamu ibarat bunga cantik yang wangi semerbak tetapi dikelilingi kawat berduri. Ya, siapa yang berani berati harus nahan resiko." Ucap Dinda dengan serius.


Alma terdiam, yang dikatakan Dinda juga ada benarnya. Banyak lelaki yang mencoba mendekati dirinya. Tetapi seminggu kemudian mereka menjaga jarak pada Alma. Alma sekarang sangat paham. Pasti di balik itu semua adalah kerja si Uncel yang terlalu mencemaskanya. Tetapi Alma tidak membenci pria yang telah merawatnya itu. Karena apapun yang disarankan oleh Alex pasti ada kebenaran dan kebaikannya juga terbukti 3 bulan kemudian laki-laki yang mendekatinya itu menghamili adik kelas yang baru menginjak semester pertama.


"Tetapi apa kamu tidak merasakan Alma jika, Uncle sangat tampan. Ia juga belum terlalu tua. Dn jika aku lihat dia sangat menyayangimu tetapi jika aku melihat sorot matanya padamu saat ini bukan lagi sekedar melindungi dan menyayangimu akan tetapi.." Dinda memgantung kalimatnya dan melihat temannya itu yang juga melihat serius padanya.


"Akan tetapi apa Dinda?" UcapAlma dengan tidak sabar.


"Ia mencintaimu dengan sangat tulus, dan ingin selalu menjagamu. Lihat saja dalam beberapa tahun ini, mendengar semua cerita mu sobat ia tidak lagi bermain perempuan dan dan sangat betah untuk di rumah." Ujar Dinda antusias dan panjang lebar.


"Tidak mungkin Dinda." Ucap Alma dengan muka merona merah.


"Apanya yang tidak mungkin, semua bisa saja terjadi. Antara kau dan dia tidak ada pertalian darah sama sekali!"


"Tetapi aku tidak merasakan apa-apa, aku hanya merasakan bahwa dia sekarang adalah penganti kedua.orangb tua ku yang telah tiada."


"Itu perasaan mu, tidak dengan perasaannya!"


Alma kembali terdiam. Hening tercipta diantara mereka berdua.


"Tanya apalagi sih, Din kayak bapak polisi aja pas nangkap penjahat!" Alma cemberut namun Dinda terkekeh dengan pernyataan Alma.


"Aku mau tanya, jika Unclemu pergi, atau menikah dengan perempuan lain apa kau tidak kehilangan. Atau ada rasa cemburu di hatimu?"


Bagia anak panah yang melesat masuk tepat pada sasaran. Alma tidak bisa lagi membantah ucapan sahabatnya itu.


Benar ia merasa takut jika Alex pergi dan benar juga ia merasakan sangat risih melihat perempuan manapun yang bergelayut manja pada lengan kekar yang miliknya. Tetapi apakah itu sebuah rasa? Entahlah Alma belum bisa menjawabnya saat ini tentang hatinya.


"Hmm..aku tidak tahu sobat, yang jelas sekarang ayo kita pergi." Muka Alma sedikit merona merah.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya memang kita harus cepat pergi." ujar Dinda lagi sambil memasang sepatu warna hitam dengan hak yang tidak terlalu tinggi.


Alma dan Dinda lalu pergi dengan mengunakan Taksi ke daerah Kafe yang ada di Petapahan.


Mereka telah sampai pada daerah tersebut dalam waktu 10 menit. Di luar telah terlihat rombongan teman-teman yang telah menunggu kedatangan mereka.


"Din, benarkah ini adalah Kafenya, tetapi mengapa seperti Night Clap. Sebaiknya kita pulang saja Din, aku tidak terbiasa ke sana." Ujar Alma menghentikan langkahnya.


"Tidak apa-apa juga sayang, disini ada aku dan disana ada Tino. Kita ke sana paling juga duduk dan juga minum jus. Kalau kamu tidak terbiasa minum Alkohol." Kilah Dinda tetap kekeh membawa Alma.


"Aku mau pulang saja Din, kamu saja yang pergi." Ucap Alma bersikeras tidak mau masuk.


"Ya, kamu mengecewakan teman semua dong di sana. Aku jamin kita hanya sebentar dan kemudian setelah ini kita pulang." Ujar Dinda dengan meyakinkan.


Mau tidak mau gadis belia itu harus mengikuti ajakan dari Dinda.


Mereka berdua masuk ke dalam Clup malam itu. Teman-teman Alma semua telah berkumpul di sana.


Hentakan musik terdengar keras berbunyi, lampu remang-remang di sertai asap rokok membuat perut Alma mual.