I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Kondisinya baik-baik saja nona



"Maaf kan saya nona." Bi Yani mohon maaf atas kelancangan dari kata-kat yang baru saja meluncur dari mulutnya. Ia tidak menyadari jika Nona mudanya itu sangat menyayangi Tuan Alex.


"Tak apa Bi Yani, untuk ke depannya jika aku tidak minta pendapat mu untuk bicara sebaiknya bibi diam saja." Ujar Alma dingin.


Bi Yani merasa sangat bersalah dan sangat takut. Bisa saja ia kehilangan pekerjaan nya saat ini. Dengan muka menunduk ia mohon maaf pada Nona mudanya itu.


Bi Ana yang ada di dekat Alma hanya merasa ada sesuatu yang berbeda dari nona mudanya itu saat ini. Ia jarang sekali terlihat marah, cendrung pribadi yang sangat tenang dan sedikit manja pada tuan Alex. Apakah ia marah pada Bi Yani karena memang sangat takut kehilangan orang yang merawatnya sejak kecil. Bi Ana hanya dapat berpikir dengan naluri perempuan yang kini telah menua, ah nona muda tentunya sangat takut kehilangan sosok yang sangat dekat dengannya selama ini.


Air mata Alex yang tadi mengalir, sekarang terlihat telah mengering karena Alma mengusap nya lembut dengan tissue.


"Aku harap kau cepat bangun Uncle, bangunlah. Aku sangat mengharapkan hal itu." Alma tampa meras sungkan mencium pucuk kepala Alex dan juga pipi pria tampan itu.


Bi Ana dan Bi Yani yang ada di situ hanya saling berpandangan tanpa harus bisa berkata banyak hal lagi.


Alex yang bisa merasakan pipinya, pucuk kepalanya di cium dan dan juga pipi kanannya merasa sangat bahagia, tetapi apa boleh buat. Ia saat ini hanya mampu untuk merasakan tetapi tidak dengan untuk membuka matanya.


Ya, Tuhan tolong beri aku kesempatan! Jerit Alex dalam hati.


Tidak lama kemudian terdengar rombongan dokter dan beberapa orang perawat masuk ke dalam ruangan.


"Permisi nona, kami mau melihat kondisi pasien saat ini." Ujar Perawat perempuan pada Alma dengan sopan.


Alma yang tadi masih berada pada sisi Alex dengan cepat membalikan tubuhnya dan sedikit menjauh.


"Tentu saja suster."


Alma menjauh pada tubuh Alex tetapi matanya tetap dengan fokus melihat kerja suster dan dokter yang sedang sedang bekerja.


Dokter dan perawat telah selesai dengan hasil pemeriksaannya. Mereka dengan sangat teliti mencatat semua data dalam buku catatan riwayat medis pasien.


"Bagaimana dengan kondisi Uncle saya dokter, apakah dia baik-baik saja?" Alma mendekat dan bertanya pada dokter yang baru saja selesai memeriksa.


Dokter lalu melihat Alma. Dokter yang biasa di panggil dengan sebutan dokter Rian itu tersenyum ramah.


"Uncle mu tidak ada apa-apa nona, tekan darahnya telah normal dan denyut nadi juga berjalan sesuai dengan harapan kita. Dan ketika saya melihat bekas operasi. Terlihat tidak ada masalah. Jadi kondisinya baik-baik saja nona." Ucap dokter itu dengan panjang lebar.


"Tetapi mengapa sampai saat ini Uncle belum juga sadar?" Alma kembali merasa tidak puas dengan Jawa dokter itu karena sampai detik ini Alex masih juga memejamkan matanya.


"Itu di luar kemampuan kami Nona, perbanyak saja doa dan pinta pada yang Maha Kuasa. Hanya itu yang bisa kita perbuat saat ini. Kami hanya perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong seseorang orang. Tetapi semua keputusan berada pada Yang Maha Kuasa. Saya permisi nona."


Dokter dan beberapa perawat kemudian permisi untuk kembali keluar ruangan. Karena di luar sana masih banyak pasien yang akan di tangani.


"Terimakasih dokter." dengan suara lirih Alma mengucapkan kalimat yang barusan yang keluar dari bibir mungilnya.


Bi Ana dan juga Bi Yani yang berada di sana hanya dapat terdiam. Mereka berdua hanya bisa berharap Tuan mereka juga cepat sadar.


Di gedung bertingkat pencakar langit. Rey masuk ke dalam ruangan dimana saat ini pemuda tampan itu juga telah mengembangkan bisnis dengan sangat maju dan cepat. Posisi Rey sekarang hanya di bawah sedikit dari Alex.


Tubuhnya terasa agak sedikit lemah kali ini. Maklumlah jika semalaman ia tidak tidur. Ia turut menjaga Alex yang juga tidak bangun dari komanya.


"Tuan, sarapan dan juga minuman yang telah Tyan pesan telah saya antar pada Nona Alma." Suara pelayan terdengar dari ujung Handphone yang di Speaker.


"Apa kau memastikan nona itu memakan sarapan yang di bawa. Aku tidak mau ia sangat lemah dan juga jatuh sakit?"


"Hal tersebut tidak bisa saya pastikan Tuan. Karena di dalam sana juga ada dua asisten Nona Alma. Jadi ketika sarapan dan pesan dari Tuan saya sampaikan saya permisi Tuan."


"Baiklah, Stanbay Handphone mu. Aku akan menelpon sewaktu-waktu."


"Baik Tuan."


Apa yang harus kulakukan untuk gadis itu mengapa aku sangat mencemaskan nya? Mengapa Tuan Alex belum juga sadar sampai saat ini? kasihan gadis itu. Bisakah aku masuk dalam kehidupannya? desis pria itu dalam hati.


Aku akan meraih tangan mu walau aku harus basah dan tengelam pada dasar laut. Kau harus sampai ke permukaan walau aku mungkin saja tenggelam di dasar sana. Aku akan bahagia walau mungkin saja nyawa taruhannya saat itu. Ah, gadis itu membuatku semangat dan jiwa terasa lebih bermakna dari rasa yang ada sebelumnya Rey tersenyum dalam hati sambil memperbaiki letak kacamatanya.


Pria itu kembali sibuk dalam aktivitasnya di kantor. Tidak lama karena seharian bergadang di rumah sakit. Ia sejenak menyadarkan punggung pada kursi kebesarannya. Tidak lama pria pemilik perusahaan itupun lalu tertidur.


Ada beberapa Asisten dan juga sekretaris yang masuk ke dalam ruangan. Tetapi mereka sangat terkejut melihat Ceo mereka tertidur dengan posisi bersandar di kursi dengan bunyi dengkuran sedikit terdengar.


Asisten dan sekretaris keluar. Mereka yang berkepentingan pun akhirnya tidak dapat masuk ke dalam ruangan Ceo.


Rey terbangun dari tidurnya ketika jam telah menunjukan jam 6 sore.


Ah, mengapa aku bisa tertidur selma ini di kursi. Ini bukan kebiasaan ku biasanya. Aku harus secepatnya pulang. Dan seterusnya aku akan kembali melihat Alma di rumah sakit.


Aku akan menemani gadis itu, bagaimana pun caranya sampai Tuan Alex benar-benar sadar dari komanya.


Pria itu lalu turun dari kursi kebesarannya dan secepatnya keluar dari gedung pencakar langit miliknya.


Penjaga dan Saptam yang melihat Ceo mereka berburu -buru dari dalam gedung. Mereka merasa sedikit heran. Karena tidak biasanya Ceo mereka pulang terlambat mereka sangat mengetahui jika pria itu sangat konsisten pada waktu masuk dan jam pulang kantor.


Rey melajukan mobilnya dengan sedikit kencang namun penuh dengan kehati-hatian. Tidak lama pria itu lalu sampai pada Mension mewah dengan gaya eropa. Ia di sambut dengan puluhan asisten dan juga pelayan yang menyambut hormat pada majikan yang masih sangat dingin dan terkenal tidak banyak bicara.


"Tuan air mandi dan juga makan malam telah siap."


"Baiklah kau boleh pergi."


Tidak lama pria itu tanpa makan dan menyentuh makanan yang ia suka. Pria itu kembali keluar dari Mension mewahnya.


Bersambung