
“Indah kesini sebentar,” terdengar suara Sandra memanggil Indah untuk masuk pada ruangannya. Dengan cepat perempuan itu berjalan menuju ruangan kepala ruangan.
“Ibu memanggil saya.”
“Ya, Indah duduklah.”
Perempuan itu lalu duduk di kursi yang menghadap pada meja Sandra. Ia berpikir sejenak mengapa ia dipanggil ke ruangan ini, adakah yang salah? Rasa takut mulai menyelimuti hati sat ini. Apakah Tuan Hamdan tadi marah padanya? Dan saat itu ia menghubungi Bu sandra agar memanggilnya.
“Indah, kita akan berangkat ke lokasi Proyek pembangunan Minimarket dan Hotel milik Perusahaan ini di daerah Milano, dengan demikian kau juga harus ikut bersama saya.” Ujar Sandra dengan memperhatikan mimik muka Indah yang terlihat kebingungan.
“Tetapi mengapa harus saya Bu?”
”Saya tidak tahu akan hal itu, mungkin saja kau dinilai berkompeten terhadap proyek yang sedang dijalankan pada saat ini oleh Tuan Hamdan. Karena ia yang tadi memerintahkan setiap kepala Ruangan dan satu orang Staf untuk mendampingi, agar turun ke lokasi besok pagi jam 10.”
Indah terdiam, mengapa tuannya itu membawa ikut serta dirinya, adakah sesuatu dibalik ini semua? Rasa takut kembali menyelinap di hati perempuan itu.
“Bu sandra, jika saya mengundurkan diri untuk pergi bagaimana Bu.?” Indah memberi pertanyaan yang membuat kening Kepala ruangan itu berkerut.
“Itu adalah keputusan dari Tuan Hamdan, jadi kau sangat tahu bukan, apa jika menentang keputusan dari Ceo perusahaan kita?”
Indah kembali termenung, apa maksud lelaki itu untuk membawa dirinya? Apakah hanya karena pekerjaan atau memang karena hasrat semata? Ia terlihat tidak punya pilihan kali ini, jika ia menolak sudah tentu ia akan dengan mudah untuk diberhentikan saat ini, karena pada saat ini ia adalah karyawan baru yang dalam masa Training. Yang lebih buruk adalah dengan apa ia akan makan sehari-hari sedang suaminya suaminya sampai saat ini belum juga mendapat pekerjaan. Dengan lemah perempuan itu lalu mengiyakan perintah dari atasannya.
“Baiklah bu, tetapi kira-kitra berapa hari kita disana?”
“Oh, iya. Kita kesana menghabiskan waktu hingga 3 Hari indah, jadi bersiaplah dengan semua perlengkapan yang dibawa!”
“Baiklah bu, kalau begitu saya permisi!”
Perempuan bertubuh langsing, dengan kulit seputih pualam itu lalu pergi meninggalkan kepala ruangan yang sedang duduk melihat kepergian Indah. Ia juga sebenarnya ikut bertanya dalam hati, mengapa karyawan yang sedang dalam masa training itu harus pergi dan turut andil dalam orang-orang besar yang berpengalaman. Pasti ada sesuatu yang mendasari ini semua pikir Sandra dalam hati.
Sejenak kemudian perempuan itu kembali sibuk dengan pekerjaannya, ia terlihat tidak lagi peduli dengan apa yang dipikirkannya barusan.
karena saat ini dokumen dan persiapan dari ruangannya tentu juga harus dibawa.
Sementara itu di ruang Ceo, Hamdan terlihat kembali sangat sibuk. Ia juga mempersiapkan semua dokumen yang dianggap sangat perlu untuk dibawa esok hari. Walau terlihat sangat sibuk, tetapi pria itu terlihat dengan muka cerah bahagia senyum simpul tergambar jelas di wajah tampannya.
Hari telah beranjak sore, ketika jam kantor benar-benar telah habis. Mereka telah bersiap-siap untuk pulang. Hamdan yang masih berada di dalam ruangan meraih Handphone dalam sakunya yang bergetar.
“Sayang, kau sudah pulang?” Amira memanggil Hamdan melalui handphone ketika pria itu juga bersiap untuk mematikan layar monitor komputer di ruangannya.
“Oce, aku mau kau nanti singgah membelikan Martabak manis yang ku suka, di tempat biasa."
“Baiklah.”
Amira kemudian menutup panggilan. Hamdan kemudian keluar dari ruangan, menuju Lif yang biasa digunakan untuk sampai pada lantai dasar.
Karena hari telah sudah terlalu sore, suasana telah tampak sepi hanya Hamdan dan beberapa Karyawan dan Satpam yang disana. Ia melihat perempuan yang beberapa hari ini menjadi bunga dalam tidurnya. Entah mengapa setiap melihat perempuan langsing itu hatinya begitu sangat menghangat.
Pikiran halusinasi selalu berada dalam ambang batas, apalagi melihat betis Indah yang sangat putih dan jenjang.
Satu persatu jemputan karyawan sudah pulang, ada yang dijemput dan ada juga yang pulang sendiri dengan honda matic mereka.
Tetapi tidak dengan Indah, ia masih menunggu suami yang belum juga menampakan batang hidungnya. Ceo tampan itu melirik dan memperhatikan Karyawan cantik itu dengan seksama.
Ia menunggu dengan sangat sabar pada halaman kantor, tidak lama lelaki yang mungkin suami Indah datang dengan honda Matic yang sudah terlihat sangat tua, belum lagi melihat perawakan lelaki uang tampak terlihat kusam, mengapa seorang seperti Indah harus menerima lelaki yang jadi pendampingnya yang tidak sepadan, desis hati Hamdan yang melihat pasangan pasutri itu meninggalkan halaman kantor.
Ia menyetir mobilnya sendiri untuk pulang, sengaja ia tidak menyuruh supir untuk membantunya karena ia ingin untuk santai sedikit sore ini.
Pemilik Perusahaan baru itu lalu membawa mobilnya membelah jalan Raya, tidak lama kemudian ia singgah sebentar untuk membeli martabak manis untuk Amira.
Tidak jauh dari tempat Martabak Manis yang pesan, Hamdan melihat Indah juga membawa tentengan besar keluar dari Minimarket, bawaannya itu sungguh sangat banyak membuat ia sedikit kesusahan, ah.. mengapa suaminya diam saja melihat Indah yang telah kesulitan membawa barang belanjaan itu! dasar lelaki tidak berguna sungut pria tampan dengan kesal.
"Mas, tolong mas barangnya banyak, aku kesulitan membawanya." Indah minta tolong dari jauh melihat sang suami yang berdiam diri saja duduk dinas Honda tua milik mereka.
"Ya, kamu Indah, begini aja lebay, " lelaki itu dengan malas berjalan ke arah Indah.
Hamdan yang melirik itu semua terasa sangat jengkel.
"Pak Martabak manisnya telah selesai." Tukang martabak itu membuyarkan lamunan Hamdan.
"O..iya, ni uangnya. Kembalian nya untuk bapak saja."
"Terimakasih kasih banyak pak." penjual martabak itu tak hentinya berterimakasih. Kembalian uang Hamdan tentu lumayan banyak selembar uang kertas pecahan seratus ribu.
Karena fokus pada penjual martabak, ia telah kehilangan jejak Indah dan saat itu handphonenya berdering dan terlihat Bi Ana yang manggilnya.