I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Pulang Ke Tanah Air



Begitu banyak hal yang harus dikerjakan Rey di tanah Air. Dua Perusahaan besar yang harus dikendalikan. Namun di lain sisi tidak bisa untuk meninggalkan Alma sendirian di Singapura.


Ia sangat tahu, jika gadis cantik itu pasti bisa menanggani hal yang akan terjadi jika ia pulang ke Tanah Air untuk mengurus Alex. Gadis yang cerdas dan kuat. Tetapi hati kecil sama sekali tidak bisa untuk meninggalkan gadis yang terlihat rapuh itu sendiri.


Telah 2 minggu Alex menjalani perawatan di Rumah Sakit yang sangat terkenal di Singapura. Tidak rugi jika kalau pun harus mengeluarkan uang yang banyak untuk pengobatan itu.


Alex telah sadar dari komanya. Tetapi kondisi tekanan darah Alex yang tidak stabil membuatnya harus mengalami kelumpuhan permanen.


Walaupun demikian tetap saja Alma melonjak sangat bahagia. Ia seperti anak kecil yang terlihat mendapatkan sesuatu yang sangat di inginkan selama ini.


Hari ini, Alex telah dapat duduk di kursi roda. Ia telah membuka matanya dengan sempurna tetapi mulut dan anggota tubuh lainya sama sekali terasa belum berfungsi dengan baik


"Uncle kita akan pulang saat ini, kita akan kembali ke rumah. Aku yakin Uncle akan sembuh." Mata Alma terlihat sangat berbinar Indah. Ia membetulkan posisi duduk Alex tang sekarang berada pada kursi roda.


Alex terlihat hanya diam. Hanya pancaran matanya saja yang dapat menunjukan jika ia masih hidup. Ia sama sekali tidak dapat mengerakan bagian tubuh yang lain.


Sudah menjadi hal yang biasa yang di lihat Rey selama beberapa minggu mereka berada pada Rumah Sakit Singapura yang terkenal itu. Alma begitu perhatian dengan Alex, tak sedikitpun terkadang perempuan cantik itu hilang fokus pada sang Uncle.


"Kau pasti akan bergembira Alma, karena kita akan segera pulang hari ini. Dokter telah menyarankan agar Tuan Alex dapat pulang karena kondisinya yang mulai membaik."


Alma menoleh pada Rey ia mendekati laki-laki itu yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan juga Alex.


"Aku tidak bisa mengatakan sesuatu hal yang lebih baik dari ucapan terimakasih. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan mu!"


"Ah, jangan terlalu berlebihan nona cantik. Aku tidak mengharapkan sesuatu apapun dari mu, kau sudah bahagia dan tersenyum bagi itu sudah sangat cukup."


Pria itu kembali tersenyum dengan sangat tulus.


Sementara itu, Alex hanya mendengar semua percakapan tanpa bisa untuk berkomentar. Ia hanya berharap suatu hari nanti jika Alma berjodoh ia ingin lelaki yang itu adalah Rey.


Terapi mungkinkah Rey akan menyukai Alma dan sebaliknya Alma juga menyukainya. Pria yang baru sadar dari koma itu hanya bisa ya berucap dalam hati.


Sudah sangat lama kau menderita, sekarang kau harus juga merepotkan mu dengan tubuh ku yang lumpuh.


Aku ingin membahagiakan mu putri kecil yang cantik, walaupun suatu saat ada kesempatan aku ingin memiliki mu. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang aku kira Alma aku semakin tua dan juga semakin rapuh.


Tidak terasa air mata Alex membasahi lantai rumah sakit.


Alma menyadari itu hal itu. Ia kemudian mendekap tubuh sang Uncle dengan erat.


"Jangan pernah bersedih Uncle, percayalah aku akan selalu ada di dekat mu, bisik Alma dengan sangat lembut.


Alma lalu mengusap butiran bening itu yang tadinya menetes di pelupuk mata Alex.


Rey kembali terpaku melihat pemandangan yang ada di depan matanya, lelaki itu hanya mendesah pelan.


Mungkinkah perhatian Alma pada Alex adalah bentuk perhatian dari seorang ponakan dan unclenya atau memang ada sesuatu yang tersimpan di sana Rey kembali mendesah pelan.


Alma telah selesai mengusap dan membersihkan sisa air mata yang tersisa pada pelupuk mata Sang Uncle. Mata yang dulu teduh, jika meraih tubuh Alma yang masih kecil dan mata yang dulu sangat garang menghadapi semua musuh. Tetapi mata itu sekarang lemah tampa daya. Mata itu menyorotkan betapa ia sangat tidak ingin merepotkan Alma.


Sekarang ia telah bersiap-siap dengan beberapa orang perawat yang juga turun membantu mereka untuk membawa Alex keluar dari rumah sakit.


Rey sekarang telah selesai berbicara dengan dokter spesialis terkemuka pada rumah sakit itu yang menangani Alex. Dokter itu bernama Yoan.


"Baiklah dokter Yoan, saya mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya pada anda yang dengan pelayanan semaksimal mungkin mengobati Tuan Alex." Rey menjabat tangan dokter yang sangat ramah dan selalu berusaha untuk tersenyum.


"Sama-sama Tuan Rey, itu adalah tugas saya sebagai dokter. Saya berharap Tuan Alex akan segera sembuh seperti sediakala tinggal menunggu waktunya saja tiba."


"Tentu saya akan semaksimal mungkin untuk menjaga kondisinya agar segera pulih."


"Oh, itu sangat bagus."


Kedua pria itu lalu melepaskan jabatan tangan mereka dan Rey kemudian menyusul Alma yang telah telah berada pada lobi rumah sakit.


"Rey apakah semuanya telah selesai?"


"Ya, semuanya telah selesai nona manis, ayo sekarang kita masuk ke mobil dan nanti akan dilanjutkan dengan pesawat kita yang masih berada di daerah lokasi."


Rey kemudian mengambil alih untuk mendorong kursi roda Alex untuk masuk ke dalam mobil pribadinya.


*****


Tidak lama berselang, pesawat pribadi milik Rey telah sampai kembali pada tanah air.


Rey mengantar kembali Alma dan Alex di kediaman mereka. Terlihat sejumlah pengawal dan juga asisten tang telah bekerja lama menanti mereka di pintu gerbang. Terlihat juga di sana asisten yang sangat lama dan juga berjasa Bi Ana.


Asisten yang telah lanjut usia itu dengan tergopoh-gopoh mendekati Alma dan Rey yang masih sibuk mendorong kursi Alex.


"Selamat datang kembali tuan dan juga non Alma." Suara Bi ana memecah suara yang hening saat itu.


"Ya, Bi terimakasih."


Alma memeluk asisten tua itu dan menangis tersedu.


Melihat hal itu Rey menarik bahu Alma dengan lembut.


"Alma, simpan sedih dan tangismu. lihat sekarang Alex menatap mu juga dengan penuh haru. Jangan bertingkah seperti gadis yang sangat rapuh!"


Rey membisikan hal itu di telinga Alma. Membuat gadis itu kemudian tersadar dari apa yang di lakukanya.


"Ya, Rey aku baru menyadarinya!"


Rey kemudian memerintahkan beberapa orang asisten untuk membawa Tuan mereka ke lantai atas.


Ketika semua peralatan Alma dan juga Alex telah sampai pada lantai atas. Alma kemudian menyusun obat-obat dan juga pakaian Alex ke dalam box dan lemari besar tidak jauh dari tempat king size milik pria itu.


Tok


Tok


Alma membuka pintu dan mendapati Rey dan juga Alex yang sedang di dorongnya.


Pria itu lalu membawa tubuh Alex dalam pangkuannya dan dengan hati-hati membaringkan di tempat tidur.


"Beristirahat lah Tuan Alex, semoga saja kau segera sembuh dengan secepatnya!"


Alex hanya terdiam, hanya bola matanya yang dapat berkata bahwa ia sangat berterimakasih.


"Alma beristirahat, jika ada masalah ku harap kau cepat menghubungi aku nona manis, aku permisi dulu."


Rey terlihat ingin pamit, tetapi Alma terlihat mengucapkan sesuatu.


"Rey.."


"Apalagi nona cantik, rupanya kau sangat tidak ingin aku pergi dari mu sehingga kau menahan ku?" Rey tersenyum dengan nada memgoda pada Alma.


Alma yang di goda sedemikian rupa menjadi sangat malu dan memalingkan mukanya.


"Ah, tidak jadi Rey.."


"Kau pasti pasti malu nona manis, ya istirahat lah. Aku akan lelah dan juga ingin segera istirahat."


Alma menatap kepergian Rey yang hilang di balik pintu. Ia kemudian mendekati Alex yang bersandar pada posisi tempat tidur.