
Hari ini adalah hari bahagia bagi Amira, perempuan yang belum genap menyandang janda seratus hari. Ia telah menikah lagi. Alasan apa yang sebenarnya sangat mendesaknya, tidak ada satu hal pun yang membuatnya harus melakukan pernikahan secepatnya. Tidak ada desakan atau tekanan sama sekali yang ada hasraf dan nafsu birahinya pada kawan kencan yang juga berstatus duda.
Pesta itu di adakan sangat meriah, Amira tidak segan untuk mengeluarkan kocek dan dana besar dalam pernikahan itu. Ia tidak merasa berat dan juga sayang pada dana yang di keluarkan cuma-cuma untuk pesta mereka. Tentu saja ia tidak keberatan karena dana yang dikeluarkan adalah hasil dari kerja keras mendiang Teguh selama ini. Ia hanya duduk manis dan sebentar lagi akan menyandang istri dari Hamdan sang Duda tampan.
“Lihat, perempuan tidak tahu malu. Belum juga 100 hari kepergian Almarhuma. Istrinya telah menikah lagi.”
“Biar, saja sang janda cepat menikah lagi. Dari pada ia jelalatan pada suami kita. Jeng mau..ia jadi pelakor. Ya biarin aja.”
“Kalau sampai tu janda melirik suami aku. Akan aku buat jadi terasi, janda gatal. Kalau berani deket-deket dengan suami aku.”
“Tuh, jeng makanya kita syukur aja janda kegatalan sudah menikah saat ini. Jadi kita aman-aman sajakan.”
“Ah, kamu benar, juga jeng. Pikiranku ngak sampai ke sana.”
Ibu-ibu dan para undangan, mereka terlihat bergosib di sudut ruangan, mereka tentu saja merasa heran dan juga merasa jijik melihat janda yang tidak tahu malu, mengadakan pesta besar di saat kematian ang suami belum lagi menginjak 100 hari.
Tetapi tidak dengnan Amira. Di pelaminan ia tersenyum bahagia, bersanding dengan Hamdan sang suami yang terlihat bertambah tampan dengan Jas Tekedo yang ia pakai. Fostur tubuh yang Atteletis dan perawakan Hamdan seperti campuran blasteran Indo dan Korea. Janda siapa yang glepek-glepek menjadi istri duda tampan itu.
Semua mata tertuju pada Hamdan, gunjingan miring terasa sangat terdengar dengan jelas di telinganya. Tetapi apa boleh buat, tujuan dan rencana mulusnya harus berjalan sesuai dengan skenario dan rencana.
“Apalagi jika tidak menguras harta peninggalan sang suami. Mana ada juga jaman sekarang punya cinta setinggi gunung untuk menikahi janda kalau juga tidak embel-embelnya.”
“Kalau janda ngak kaya, trus miskin tetapi ada juga yang mau menikah pada janda seperti itu!”
“Maksud mu Bro, ya iyalah namanya juga janda. Pasti rindu belaian, tiap hari juga berteman dengan bantal guling. Janda yang kegatalan kayak gitu aja kalau kita datang pasti juga bakalan ngasih tubuhnya gtatis ke kita.”
“Ah, gitu gito ya bro.”
“Ya,Iyalah.”
“Dan aku jelaskan buat kamu yang otaknya agak lelet sedikit. Jadi pada intinya, leaki yang akan menikahi para janda pasti ada embel-embelnya. Kalau tidak karena harta pasti karena tubuh molek janda itu!”
“Hmm..aku jadi paham sekarang.”
Gunjingan dan cemooh yang keluar dari mulut para tamu baik wanita, maupun pria. Terdengar sangat jelas pada sepesang pengantin yang tetap memberikan senyuman pada setiap tamu undangan. Hamdan tetep menembah erat pegangan pada Mereka tidak peduli sama sekali, bahkan Hamdan tambah memegang erat jemari sang istri. Wah Pencintraan yang sangat baik ya Hamdan!
Sementara itu di taman belakang terlihat Alma sedang bersama kelinci kesayangannya. Ia tidak diperbolehkan untuk keluar dari rungan belakang oleh Amira. Ia hanya mengelus kepala sang Kelinci dan memberi sayur yang banyak.
“Makan yang banyak ya Poky. Biar badanmu besar, dengan begitu aku sangat ingin bayi kecil dari perutmu.”
Sementara itu dari jauh, terlihat Bi Ana mengawasi Alma. Ia tersenyum mendengar Alma yang berbicara pada Poky si kelinci, jadi dengan tubuh yang besar. Si Poky akan mengasih anak pada Alma. Anak dari mana Non, turun dari bulan. Sedangkan Poky aja ngak ada temen lelaki bagaimana bisa bunting, wah si Non masih polos sekali. Desis bi Ana dengan tersenyum.
Bi Ana, juga tidak ingin terlihat sibuk dengan pesta besar Nyonya besarnya itu. Karena Amira berpesan dan memberi perintah jangan pernah Alma menampakan mukanya di acara pestanya. Jadi Bi Ana hanya memantau Alma saja dari kejauhan. Tetapi ia tidak lupa untuk tidak menyimpan semua makanan lezat untuk nona kecilnya itu.
Pesta telah selesai, semua undangan telah mulai berpamitan untuk pergi meninggalkan acara pesta. Terlihat Amira yang telah mulai letih dan sangat pucat. Ia sungguh sangat merasa lelah.
“Hamdan, sebaiknya aku ke kamar sekarang, kakiku sudah terasa sangat pegal. Aku tidak lagi.” Rengek Amira dengan manja.
“Baiklah jika begitu, Aku akan mengantarmu.”
Kedua pengantin itu lalu turun dari pelaminan, Hamdan mengandeng tubuh lama dan menuntun ke lantai atas. Semua pelayan dan juga asisten yang berda memberi jalan pada pengantin itu dan menunduk dengan hormat. Walau setelah pergi sesama mereka saling pandang dan melontarkan sebuah senyuman yang tidak dapat digambarkan.