
Mereka berdua telah sampai pada perusahaan Brahmaja Group, Amira menampakan paras dingin dan angkuh. Perempuan itu menggandeng lengan kekar Hamdan. Karyawan perempuan yang melirik pria itu tidak lagi bisa berlama-lama menikmati wajah yang tampan walau untuk beberapa waktu saja.
Dari sudut ruangan Indah yang melihat Amira juga menunduk, walau ia pria itu menetap lekat wajah perempuan cantik itu dan melempar pandangan yang ke arah lain. Hati Indah tetap berdebar tidak karuan, entah mengapa rasa cemburu merayap di relung hatinya melihat Amira yang begitu mesra bergayut pada lengan suaminya.
Tidak lama, setelah mereka sampai Ramses beserta asisten yang lain telah tiba Perusahaan itu. Amira telah sampai pada ruangan di mana tempatnya semula di sana, Ruangan Ceo milik Teguh dan sekarang ia menghempaskan tubuhnya yang baru saja membaik hari ini, karena kehamilan yang baru saja dialaminya.
Amira menatap ruangan, dan berjalan mengitari raungan jendela kaca yang ditutupi gorden tipis kantor. Ruangan ini, kan ku serahkan pada Hamdan termasuk perusahaan. Aku akan mempercayainya dirinya saat ini, karena kurasa dia juga sangat mencintaiku.
“Tolong panggil Ramses sekarang sayang. Kita akan mengumpulkan semua karyawan dan seluruh staf kantor untuk memberi pengumuman jika saat ini ceo Perusahaan adalah dirimu. Jadi jelas nantinya, semua keputusan diambil harus melalui dirimu. Semua peraturan dan kebijaksanaan kantor bisa direnovasi ulang dengan melibatkan beberapa Staf Ahli, setelah pergantian ini.” Amira mengucapkan hal itu sambil menatap lekat suaminya yang saat itu juga berdiri di sebelah Amira.
“Apakah kau merasa ragu dengan keputusan ini sayang, jika tidak dirimu telah melahirkan anak kita kelak, kau bisa kembali ke kantor jika kau mau.” Hamdan kembali menatap lekat manik istrinya itu, dan dia melihat rasa cinta Amira yang besar kepadanya membuat Perempuan itu tidak lagi berpikir lebih lama lagi. Andai saja ia menyayangi Alma sebagaimana ia juga menyayangiku, tentu sangat beruntung sekali bocah malang itu desis Hamdan.
“Tentu saja aku tidak ragu, yang jelas setelah ini. Kau harus setia padaku, jangan pernah untuk bermain menghianati cinta kita.” Perempuan itu berjalan dan mendekati Hamdan dan meminta pria itu untuk lebih menyakinkan dirinya.
“Percaya sayang, aku tidak akan menghianatimu. Yakinlah akan hal itu. Sudah sekarang tenangkan hatimu aku akan memanggil Ramses untuk datang ke sini.”
Perempuan yang ditaklukkan oleh cinta dan sangat buta akan situasi sebenarnya itu, merebahkan pantatnya pada sofa ruangan. Sementara itu, Hamdan meraih handphone yang berada pada saku celana panjangnya.
“Ramses, segera datang ke ruangan Ceo.”
“Baik Tuan.”
Tidak lama asisten itu telah tiba di ruangan Ceo Perusahaan.
“Ramses, Panggil seluruh safat dan kepala Ruangan serta staf ahli tida lupa juga bagian terbawah OB di sini. Suruh mereka berkumpul di ruangan pertemuan 5 menit lagi.” Amira Memberi perintah pada asisten setengah baya itu.
“Baik nyonya.”
“Ayo kita bersiap-siap keluar ruangan.”
Hamdan menyadari hal itu dengan spontan ia langsung ******* dengan ganas bibir yang terpoles lipstik berwarna merah pekat. Sejenak mereka hanyut dalam hasrat yang tidak mungkin dituntaskan saat itu. Hingga sampai terdengar suara pintu ruangan diketuk.
“Masuk.”
Hamdan dan Amira, merapikan pakain mereka yang sedikit berantakan.
“Tuan, dan Nyonya Amira. Semua karyawan dan seluruh staf telah berkumpul di ruang pertemuan. Tinggal menunggu Tuan dan Nyonya saja.”
“Baiklah, kau boleh pergi sekarang.” Hamdan memberi perintah pada Ramses.
“Ayo, sayang kita pergi ruangan saat ini.” Hamdan meraih tangan Amira.
Mereka berdua kemudian pergi keluar ruangan, mereka menuju lantai lantai atas dengan menggunakan lif khusus Ceo. Tidak lama mereka telah sampai pada ruangan dimana mereka akan memulai pertemuan.
“Selamat pagi semua, semoga pekerjaan anda di sini tidak mengalami hambatan yang berarti. Saya berharap banyak pada kalian semua untuk kerjasamanya. Mulia terhitung hari ini, pekerjaan Ceo yang baru saja beberapa bulan, semenjak kepergian mendiang suami saya. Pemimpin perusahaan diambil alih oleh saya sebagai ahli waris tunggalnya. Akan tetapi karena keadaan saya yang tidak sehat mungkin dalam waktu yang sangat lama, maka dari itu saya menyerahkan sepenuhnya pimpinan Perusahaan kepada suami saya.”
Suara berisik terdengar di sudut ruangan, banyak yang pro dan juga kontra akan keputusan Amira yang terkesan sangat begitu cepat, tetapi bagaimana lagi mereka tidak berkuasa dan berwenang akan keputusan yang diambil oleh Amira.
“Ayo sayang, perkenalkan dirimu sebagai Ceo yang baru di sini!” Amira berbisik pada Hamdan yang sedari tadi menyimak apa yang baru saja dijelaskan oleh sang Istri.
Tidak lama Hamdan berdiri di kursi Ceo yang baru memimpin rapat kilat.
“Selamat pagi semuanya, sengaja saya dan bersama sang istri mengumpulkan anda semua di sini. Seperti yang kalian dengar baru saja. Jika saat ini, saya adalah Ceo yang baru di Perusahaan tempat kalian bekerja. Jadi untuk itu semua keputusan harus diambil dengan keputusan saya. Jangan pernah ada seseorang yang mengambil kebijakan tanpa sepengetahuan saya! Karena itu sangat akan merugikan pihak perusahaan dan juga diri anda sendiri! Dan kalian semua di sini, jangan pernah beranggapan ada sesuatu terhadap peralihan jabatan Ceo, semua ini dilakukan karena menimbang dan memutuskan masa depan Perusahaan yang tidak mungkin di pegang oleh Istri saya karena dalam keadaan hamil!.”
Hamdan menjelaskan dengan sangat rinci dan kata-kata istri dan dalam keadaan hamil sangat ditekan pada nada suaranya.
Indah yang melihat dan mendengarkan ulasan dari Hamdan, serasa orang yang paling dilecehkan. Ada rasa marah dan juga rasa kecewa yang bersemayam di dada perempuan berkulit putih bersih itu yang duduk di pojok kiri ruangan. Aku akan mengambil Hamdan untuk dari wanita hamil itu, aku tidak peduli desisnya dalam hati.
Menjelang siang, rapat peralihan Ceo telah selesai, Hamdan dengan rasa bahagia terus mencium dan membelai pipi lembut Amira. Ia mengajak istrinya untuk makan di Restoran yang ia suka. Amira dengan sangat manja menerima suapan dari tangan lelaki berwajah tampan itu. Pengunjung yang kala itu sangat ramai di Restoran, mereka memperhatikan suami istri yang terlihat sangat mesra.
“Wah,beruntung sekali perempuan itu, dapat lelaki tampan dan juga sangat kaya. Penyayang lagi! Lihat dia tak henti membelai pipi istrinya itu dan mengelus perutnya.”
“Wah, benar Jeng! Mungkin saja perempuan itu sedang hamil muda. Wah, aku kalau dapat brondong seperti dia, aku juga sangat mau.” Celutuk ibu yang satu lagi.
“Hus, kedengaran suamimu jeng!.”
Gunjingan yang terdengar membuat amira makin bersemangat untuk menelan semua yang diberikan Hmadan pada mulutnya. Hingga semuanya selesai Amira diantar kembali pulang menuju kediamannya dan Hamdan putar baik badan mengunjungi Alma yang terbaring sakit untuk mengetahui kondisi Alma terkini.