I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Bertemu Dosen Ray



"What? Pasangan!"


"Ya, Kenapa harus mengatakan pasangan Uncle, dan mengapa juga harus berbohong!" Alma mencerca kembali dengan pertanyaan yang beruntun.


"Sayang, Uncle tidak bisa untuk menjelaskan nya di sini. Yang jelas, persiapan dirimu secantik mungkin kita akan pergi dalam hitungan menit."


Alex hilang di depan pintu kamar, meninggalkan Alma yang tetap diam terpaku di tempatnya. Banyak pertanyaan yang berada di kepalanya saat ini. Tidak satupun yang bisa di jawab oleh Sang Uncle. Memang benar-benar menyebalkan pikirnya lagi.


Ah, waktu sangat tidak bersahabat. Ia terus berlalu dan berjalan dengan cepat. Oh My Good. Aku benar-benar tulalif saat ini.


Dengan segera Alma kembali masuk pada kamar. Waktu lebih kurang satu jam sanggupkah ia berdandan dengan sebaik mungkin.


Seorang gadis memiliki wajah yang cantik itu hal biasa dan anugrah bagi yang memilikinya. Tetapi samping cantik juga harus pintar, gesit dan harus serba bisa. Ya. aku harus menjadi pintar dan juga gesit tidak mengecewakan Uncle Hot yang kesulitan mencari pasangan saat ini kembali gadis cantik itu berucap dalam hati.


Ia memilih gaun malam yang sopan dangan motit manik di pergelangan tangan dan krah pada leher. Warna biru langit dengan perpaduan warna hitam pada pinggang gaun itu membuat kesan ramping dan sangat seksi.


Rambut yang di gulung ke atas dengan aksesoris dan beberapa helai yang tertinggal membuat kesan Alma lebih bertambah dewasa.


Belum sampai waktu satu jam, Alma telah siap dengan riasan yang natural tetapi terkesan sangat elegan. Ia juga mengenakan high heels bewarna hitam dengan aksesoris permata putih pada ujungnya. Dan tidak lupa ia mengenakan tas sandang dengan berukuran tidak terlalu kecil yang di selempang pada tangan sebelah kiri.


Sungguh ia dapat merias wajah juga sangat sesuai dengan gaun malam yang dipakai. Ia berdiri di depan cermin dan memutarkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Ah, aku juga sebenarnya sangat cantik. Senyum ceria menghiasi bibir gadis belia yang melangkah turun dari tangga.


Ia telah sampai pada lantai dasar rumah, tetapi tidak terlihat Sang Uncle di sana. Ke mana Si Uncle bukankah ia menyuruhnya tadi dengan sangat cepat.


Beberapa menit berlalu Alex turun dengan Jas warna hitam, dengan motif juga biru pada dalamnya. Ia seakan telah berjanji pada Alma untuk memakai warna yang serasi pada malam itu.


"Hmm..Uncle berdandan kayak perempuan aja saking lamanya. Aku perempuan aja, sudah sari tadi siap dengan dandanku." Ucap Alma dengan senyum mengejek.


Alex tersenyum tipis dan melangkah ke arah Alma.


"Wah tampaknya kau sangat bersemangat sekali kali ini pergi dengan Uncle?"


"Jangan ke Gede Rasa dulu!" Jawab Alma mengerucutkan bibirnya.


Alex tertawa pelan.


"Kalau begitu ayo sekarang kita pergi Baby! Last Go!"


Pria itu berbisik dan mengulurkan lengannya pada Alma persis benar pasangan beneran yang akan pergi pesta.


"Aku malas pegang-pegang tangan Uncle, kayak pasangan beneran. Ini kan masih di rumah!" Tukas Alma dengan cepat.


"Ah, kamu sangat mengemaskan sayang, ayo kita berangkat. Dan sandiwara pasangan pura-puranya dari sekarang!"


Alex tetap kekeh mengajukan lengannya pada Alma. Dengan berat hati Alma menerima lengan Alex dan tangan mungil itu bergelayut manja pada lengan kekar milik sang Uncle.


"Begitu akan lebih baik," desis Alex dengan tersenyum senang.


Mereka berdua meninggalkan Rumah Besar nan Megah itu tetap dengan warna cat bewarna Maron.


Mereka telah sampai di mana pesta jamuan makan malam itu di adakan pada ruang parkir telah terlihat jika deretan mobil yang sangat mahal telah memenuhi daerah parkiran di depan hotel dan juga di Basement.


Alex dan Alma melangkah masuk pada hotel berbintang lima itu. Para tamu dan pengunjung agaknya lebih lebih awal dari mereka.


"Pegang yang erat sayang, pada lengan Uncle." desis lelaki itu di telinga Alma.


Ada debaran aneh yang merayap pada aliran darah gadis itu, jantung berpacu lebih kuat pada biasanya. Ah, mengapa tiba-tiba aku seperti ini. Apakah aku tidak terbiasa datang pada pesta atau karena lengan Uncle Lex yang selalu menempel pada tanganku? ini tidak boleh terjadi. Pria itu akan mendengar jika detak jantung lebih kencang pada biasnya. Hai jantung normlah seperti semula doa Alma dalam hati.


Para pebisnis dan dan orang besar memandangi Alex yang membawa pasangannya. Gadis itu terlihat sangat muda dan berada jauh di bawah umur pria itu. Tetap jika mereka adalah pasangan pria dan perempuan itu sangat serasi. Yang perempuan cantik dan yang laki-laki sangatlah tampan.


Ah, tetapi mereka semua sangat mengetahui, sepak terjangnya seorang Alex pembisnis muda yang cerdas. Dalam waktu singkat ia bisa mengendalikan pasar dan membangun berbagai investasi dan kepercayaan investasi asing agar bekerja sama padanya.


Tetapi mereka juga sangat mengetahui jika Alex pria yang sangat hot dan jantan. Ia sangat suka bergonta ganti pasangan. Hampir tiap malam ia menghabiskan waktunya dengan perempuan yang sangat ingin tidur bersama pria itu.


Jadi sekarang siapa yang saat ini bersamanya? gadis belia itu apakah juga teman kencannya? semua orang bertanya dalam hati.


"Selamat malam Tuan Alex." Tuan Miyaku menyambut dan menyalami pria itu.


"Terimakasih, Tuan Miyaku."


"Apakah ini pasangan anda? ia sangat cantik dan muda sekali." Tuan Miyaku menatap Alma.


"Oh, ia adalah tunangan saya Tuan Miyaku. Kami akan berencana menikah Tahun ini!" Ucap. Alex dengan santai dan tanpa beban.


Alma yang mendengar itu sangat terkejut. Si Uncle kalau bicara benar tidak dipikirkan. Ia mencubit pinggang Alex dengan sangat gemas.


Pria itu menahan rasa sakit. Karena Tuan Miyaku memandangnya dengan sangat Intens.


"Oh, selamat jika demikian Tuan Alex. Silahkan masuk dan menikmati jamuan makan malam kami." ujar Miyaku dengan senyum.


"Mengapa kau mencubit pinggang ku sayang, ini rasanya sangat sakit. Pasti bekasnya sangat membiru." Bisik Alex di telinga Alma.


"Kalau bicara, harusnya Uncle pikir baik-baik terlebih dahulu. Seenaknya saja kalau bicara." Sungut Alma dengan gemas.


"Kalau iya memangnya kenapa sayang." Alex berkata dengan serius.


Pria itu menatap manik mata Alma yang berwarna coklat. Alma tertunduk tidak bisa mengatakan sesuatu apapun. Sejenak ia berfikir ah, Si Uncle mulai kembali mengerjainya.


"Ah, Uncle jangan mulai lagi dan jangan gila. Ayolah perutku sudah lapar belum di isi dari pulang kampus sore tadi."


Hari keduanya sebenarnya berdebat tentang rasa dan rasa meraka. Tetapi mungkin saja saat ini bukan moment yang tepat. Apalagi di saat mereka melangkah Pria tampan yang menjadi dosen di kampus Alma juga hadir di situ.


"Alma." Dosen Rey manggil gadis belia itu yang melangkah bersama Alex.


"Pak Rey." Jawab Alma terkejut.


Bersambung