
“Baiklah Indah, kita berhenti, pak supir kita berhenti lima menit.” Mobil rombongan yang di tumpangi Indah lalu menepi pada jalan raya.
Melihat mobil yang ditumpangi Indah berhenti, tentu mobil yang lain ikut berhenti juga termasuk mobil yang pertama yang didalamnya terdapat Ceo yang lagi tertidur pulas.
Pria itu terbangun, Hamdan mengerjapkan bola matanya.
“Mengapa berhenti Ramses.” Asisten Ramses kemudian juga ikut menepikan mobilnya, ia melangkah ke arah mobil yang di tumpangi Indah. Terlihat Sandra juga ikut keluar mendampingi Indah.
"Ada apa Bu Sandra, mengapa mobil kalian berhenti. Perjalanan kita masih sangat jauh?"
"Ini, pak Ramses. Indah mabuk perjalanan. Ia memohon pada kami untuk berhenti sejenak."
Bu Sandra menjelaskan, sambil memijat tengkuk indah yang kelihatan sangat dingin.
"Heuuk,,heuuk.." Indah kembali memuntahkan isi perutnya.
"Uruslah dulu Indah Bu Sandra, saya kwmbali ke mobil karena Tuan Hamdan baru saja bertanya pada saya."
Ramses berlalu kemudian, masuki mobilnya kembali.
"Ada apa Ramses," Hamdan kembali bertanya.
"Anu, Tuan. Karyawan Indah mabuk perjalanan. Sekarang ditangani oleh Bu Sandra."
"Indah, maksudnya mabuk perjalanan."
"Ya, Tuan."
Hamdan kemudian dengan segera membuka kaca mobil dan mulai turun. Ia melangkah mendekati Indah yang terlihat sangat pucat.
Pandangan bawahan dan karyawan di dalam mobil mengiringi langkah Ceo. Mereka seakan tidak percaya pria yang terlihat Arogan dan super cuek itu mau juga melihat bawahan yang hanya mabuk perjalanan.
"Indah, apakah memang biasa seperti ini."
"Ya, Tuan." ucapnya dengan gemetar.
"Mengapa tidak meminum obat anti mabuk, jika tahu kondisimy tidak baik diperjalana?"
"Saya, sudah meminumnya Tuan, tetapi tidak ada efeknya saat ini lagi."
"Bu Sandra, ambil minyak kayu putih dan air hangat suam-suam kuku. Beri dia minum dan oleskan minyak kayu putih di lehernya."
"Ya, tuan." Sandra lalu kembali ke dalam mobil dan kembali membawa minyak kayu putih dan segelas air.
Baru saja Sandra ingin memberi Indah Minyak kayu Putih dan air, perempuan itu kembali memuntahkan isi perutnya.
"Hueek..hueek."
Sandra yang tidak bisa menangi orang muntah dengan aroma yang menyengat menjauhkan dirinya dari karyawannya itu. Ia menjauh karena ia sendiri juga pusing akan aroma muntah karyawannya itu.
Hamdan segera mengambil air putih dan minyak kayu Putih di tangan Sandra, dan mendekati perempuan itu. Ia menepuk-nepuk pundak perempuan itu dengan lembut.
"Cepat minum air putih ini Indah agar perutmu segera merasa nyaman. Dan segera oleskan minyak kayu putih ini di leher mu, atau kau mau aku sendiri yang akan mengolesnya untukmu,?" Bisik Hamdan di telinga Indah.
Karyawan dan rombongan hanya bisa berdiri dari kejauhan mereka juga sangat tidak mau berurusan dengan namanya muntah.
Sejenak Indah mulai baikan, badannya lemah dan pucat.
"Bagaimana kau bisa diterima pada Brahmajaya Graup. Sedang fisik mu saja tidak kuat hanya untuk berpergian sebentar saja," sinis Hamdan pada Indah yang mulai berdiri.
Hamdan kemudian berdiri dan mulai melangkah ke arah mobil yang mereka ditumpangi, dan begitu juga dengan Indah menuju mobil di mana Sandra telah berdiri di sana.
"Bu Sandra." Panggil Hamdan
"Ya, Tuan." Sandra mengurungkan langkahnya ke mobil mereka.
"Perjalanan kita masih jauh, aku harap kita tidak terganggu karena kondisi karyawan mu yang lemah, oleh karena itu Indah biar pindah di mobil depan dan bawa barang-barangnya ke sana." Hamdan memberi perintah pada Sandra dan beberapa asisten.
"Dan kamu Indah, ayo masuk ke mobil depan.!"
"Mobil tuan, jadi maksudnya bersama Tuan begitulah?" Ucap Indah dengan lemah.
"Tentu saja bersamaku, kau tahu perjalanan masih sangat lama. Jika kau selalu muntah, maka akan merepotkan kinerja kita. Kemungkinan besok pagi akan sampai jika harus selalu berhenti.!" Hamdan menjawab dengan nada yang mulai terdengar gusar.
"Ya, Tuan."
"Cepatlah jalanmu kalau begitu, jadi orang jangan terllau lemah Indah, bahkan setelah ini kau akan mendapatkan pekerjaan yang sangat berat," desis Hamdan dengan nada nakal.
Indah hanya sedikit melajukan langkahnya, ia ibarat menelan buah Simalakama saat ini. Tetapi apa boleh buat, harus dijalani. Berdampingan dengan pria yang sangat mesum dan hampir saja membobol pertahannya saat itu membuatnya sangat jengah, rasa malu tentu saja hadir jika teringat akan hal itu.
Indah telah masuk ke dalam mobil Ceo, ia duduk di samping Hamdan yang duduk dengan sangat terang.
"Kalau saja aku tahu, Ceo begitu perhatian pada bawahan yang lagi muntah dengan senang hati aku juga akan berpura-pura muntah, agar bisa duduk dengannya semobil." ujar salah satu karyawan pada mobil lain.
Di dalam mobil, Hamdan melirik Indah yang masih terlihat sangat pucat.
Sejenak ia melirik Indah yang membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Rambutnya yang di ikat kertas dan sedikit berantakan malah menambah seksi perempuan 22 tahun itu.
"Ramses, ia Tuan." Asisten dan juga sekaligus supir kantor mereka itu sedang melajukan mobilnya kembali pada jalan raya.
"Apa ada stok obat dramamine?"
"Ada tun di dalam kotak P3K kita."
Hamdan kemudian memeriksa, kotak obat yang tidak jauh dari tempat duduknya. Ia mendapati dramamine yang tidak begitu banyak.
"Minumlah dulu obat ini Indah, kamu tidak akan mual lagi, mungkin hanya sedikit mengantuk."
Indah terlihat sedikit takut, melihat obat yang diberikan Hamdan padanya. Jangan itu obat perangsang, pasti pria mesum di sampingnya ini ingin berniat buruk pikirnya lagi.
"Tidak, Tuan saya merasa sangat enakan saat ini," ujarnya dengan rasa takut yang tidak bisa disembunyikan.
"Dasar orang kampung yang udik! ini obat paten yang digunakan untuk anti mabuk dalam perjalanan yang sangat ampuh."
Ramses yang mendengar itu ikut menimpali dengan tersenyum.
"Benar tu Indah, itu adalah obat anti mabuk perjalanan yang paling bagus, sebaiknya segera diminum!"
l
Hmm.. tumben nih, Tuan Hamdan berbaik hati. Apakah ada maksud dibalik ini semua. Ah..perempuan itu benar-benar cantik, moga saja tuan Hamdan tidak menaruh hati padanya desis asisten setengah baya itu dengan melirik pada kaca Spion mobil itu.
"Cepatlah diminum, kau ingin mengotori muntah mu kembali di mobil mewah ini, dan merepotkan semua orang!"
Dengan berat hati Indah meraih obat di tangan pria itu dan minumannya. Benar saja sekarang mual dan dan ingin muntah tidak dirasakan lagi oleh karyawan cantik itu itu. Tapi efeknya ia merasa sangat ngantuk, dan tanpa sadar kepalanya telah menyentuh bahu kekar Hamdan yang duduk sambil mainkan handphonnya
Sungguh perempuan yang sangat merepotkan, mendapatkan karyawan yang seperti ini di bawa ke luar Kota bukan menambah untung, malah akan menambah rugi, tetapi lihatlah Indah aku tidak akan rugi, ia merebahkan kepala Indah yang bersandar di bahunya.
.