
Benar saja, hari ini Amira tidak jadi ke kantor ia menuruti keinginan dari Hamdan untuk bersenang-senang dan masalah perusahaan sementara waktu akan dilimpahkan padanya.
Amira seharian ke salon, menikmati rasa senang dan kenyamanan. Semalam tubuhnya telah terasa remuk sekarang saatnya untuk memanjakan diri! pikirnya lagi.
Sementara itu di rumah besar berwarna Maron. Bi Ana merasa sangat kwatir melihat Alma yang berlarian dengan tergesa bersama dengan ekspresi pucat mukanya.
Bi Ana melihat hal itu, dengan cepat membawa Nona mudanya ke sudut dapur.
"Minumlah dulu non Alma, lain kali jangan pernah masuk ke sana jika nyonya besar di rumah! non tahukan apa akibatnya nanti?" Bi Ana berkata pelan namun sangat jelas didengar oleh Alma.
"Ya, Bi tentu saja," jawab Alma dengan menunduk.
Gadis kecil itu lalu meminum air putih yang diberikan kepadanya dan tidak lama ia juga melangkah pergi menuju kamar miliknya yang ada di sudut dapur.
Bi Ana melihatnya dengan hati yang sangat sedih. Sedih mengapa hal ini terjadi pada nona kecilnya. Apakah ini adalah permainan takdir yang harus non Alma terima. Tuhan, tolong kembalikan kebahagian non Alma, desisnya dalam hati.
Sementara itu di Perusahaan Brhamajaya Group milik Teguh. Terlihat wakil Direktur itu sedang dalam keadaan sibuk. Ia menyusun strategi dan siasat agar dalam waktu dekat jabatan Direktur akan ia raih.
Ia berpikir dengan sangat cerdas, agar secepatnya menikahi Amira. Dengan begitu, Amira tidak perlu bekerja lagi di Perusahaan dan otomatis semua akan ia kendalikan. Bukan hanya perusahaan yang akan kendalikan, tetapi seluruh harta dimiliki janda itu akan beralih tangan sebentar lagi.
Malam telah beranjak turun dengan sangat cepat, sasana sejuk dan dingin mulai merasuki tulang.
Di kamar mewah milik Amira. Hamdan mulai kembali melancarkan aksi panas pada janda itu. Ia melayani Amira layak seperti ratu, hingga Amira benar-benar merasa sangat puas.
Adegan panas itu telah selesai, keringat telah membasahi tubuh polos mereka berdua.
"Sebaiknya kita dengan secepat mungkin untuk segera menikah. Apakah kau tidak mau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku Amira?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Hamdan, sambil menyelipkan rambut di sebalik telinga Amira.
Perempuan itu terkejut dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh laki-laki tampan yang sebulan ini menjadi fatner tidur ranjangnya. Ia terdiam dan berpikir sejenak.
Hening
Sampai Hamdan kembali bersuara. Dan memeluk tubuh polos itu dengan erat.
"Apakah kau ragu akan cintaku, dan juga takut aku akan menguasai hartamu? Amira jangan pernah berpikir untuk aku merebut semuanya darimu. Bagiku, bersama denganmu setiap saat sudah membuatku sangat bahagia.!"
Hamdan mengucapkan kata dengan sangat lembut dan penuh rayu, seakan ia begitu tulus. Kata-katanya sangat menghipnotis Amira terbuai dalam cinta yang bergelora di dadanya.
"Tentu aku sangat juga ingin bersamamu." Suara Amira terbata keluar dari dalam bibirnya.
"Jadi, kau mau menikah denganku Amira?" Hamdan memandang lekat manik coklat milik perempuan itu.
"Ya, tentu saja aku mau." Rona merah menjalar menutupi wajah perempuan yang masih berada dekat dengan Lelaki itu.
Hamdan kembali mencium dan *******, lidah dan bibirnya telah bergerilya di rongga mulut Amira bahkan membuat perempuan itu sulit untuk bernafas.
"Hmm... hentikan Hamdan."
Perempuan itu telah ke kesulitan untuk bernafas, dan berusaha melepaskan bibirnya.
"Ah, kau sungguh menjadi sangat candu bagiku sayang," desis Hamdan.
Perempuan itu kembali merasa sangat tersanjung. Ia kembali merangkulkan tangannya pada pundak lelaki tampan itu.
"Sayang, kau membuatku tidak tahan melihat tubuh indah mu. Aku mohon berikan aku satu kali lagi, sebelum kita benar-benar tidur." Hamdan kembali meminta, karena adik kecilnya kembali berdiri dengan tegak.
"Aku begitu lelah Hamdan," desah Amira.
"Sebentar saja, aku yakin tidak akan lama." rayu lelaki tampan itu.
Hari memang menunjukan jam 2 pagi, tentu saja Amira sangat keberatan. Di bobol dan digoyang tanpa henti. Tenaganya seakan terkuras habis. Ia tidak berdaya dalam kungkungan lelaki kekar yang berada di atas tubuhnya. Sampai ia merasa tidak sanggup untuk membuka matanya hingga pada akhirnya ia terpejam dan tidak merasakan apa-apa lagi. Walau matanya telah terpejam dan tertutup rapat Hamdan terus menggempurnya habis-habisan, ia memimpin permainan sendiri dan pada ujung permainan itu ia menanamkan bibit yang banyak pada rahim Amira.
Lelaki itu menyeringai puas, menatap lawannya yang tergolek lemah.
Ia mendorong tubuh Amira dan kemudian mencabut senjatanya dengan kasar.
"Baru seperti itu saja kau sudah tak sanggup, bagai jika menjadi istriku, ku pastikan kau tak akan bisa melayaniku dengan maksimal. Jangan salahkan aku jika nanti, ranjang panas ini akan di tempati berganti-ganti wanita." Hamdan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri
Alasan untuk membuat Amira lemas dan tidak berdaya itu juga alasan lelaki itu, agar esok harinya ia kembali bisa ke Perusahaan tanpa hambatan sama sekali. Amira akan tertidur sepanjang hari. Tampa bisa lagi menjalankan aktivitas perusahaan dengan baik.
Setelah membersihkan diri, ia keluar dari dalam kamar. Ia bermaksud untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Pandangan mengitari seluruh ruangan, entah mengapa mata tidak merasa lelah. Walau hari telah mulai beranjak pagi.
Ia mengecek dan melihat semua pintu dan jendela yang masih tertutup rapat. Karena kesibukannya setiap hari membuatnya tidak sempat melihat keadaan dan kondisi rumah besar itu.
Seakan seperti pencuri yang masuk dan keluar dalam setiap ruangan, mengecek semua barang. Sampai pada akhirnya ia mendapati kamar kecil yang berada pada sudut dapur ruangan. Ya, kamar itu milik nona muda kecil yang telah dicampakkan oleh Amira.
Perlahan Hamdan mulai memegang handle pintu dengan membukanya perlahan. Pintu kemudian terbuka, terlihat sosok gadis kecil yang tertidur pulas di tempat tidur berukuran kecil. Wajah polos tertidur tanpa menyadari ada sosok yang memperhatikan gadis kecik itu.
Hamdan kembali mengingat ucapan Amira tempo hari yang mengatakan, ada anak pembantu yang berbuat onar dan ia memarahinya. Apakah gadis kecil ini, adalah anak pembantu yang Amira sebutkan. Ia mengamati seksama sosok itu dan menyamakan dengan fhoto keluarga yang ia lihat di ruangan tengah, ah anak kecil ini bukan anak pembantu melainkan anak dari mendiang suami Amira.
Sungguh Amira juga sangat keterlaluan, tapi apa peduliku. Desis Hamdan dalam hati.
Gadis kecil itu menggeser kakinya ke atas mungkin saja ia merasa gatal karena ada nyamuk yang mengigit kulitnya, hingga selimut tipis jatuh mengenai kaki Hamdan.
Hamdan memungut selimut itu, dan berniat untuk menyelimuti tubuh bocah tersebut. Tetapi entah mengapa niat bejat kembali bersarang, sebelum menyelimuti tubuh bocah itu. Ia meraba paha gadis yang masih kecil dengan senyuman samar.