
Hai,, teman dimana pun berada. Sebelum baca
Kak May..mohon dukungannya ya. Tekan tanda love yang masih sangat sedikit, komentar dan like. Ini adalah energi untuk kay May terimakasih. 😁
Tidak terasa Alma yang berumur Tujuh Tahun sekarang telah menginjak usia 17 Tahun, dan tahun ini ia akan lulus dan masuk Kuliah di Jurusan Manajemen Bisnis.
Waktu berlalu begitu cepat, baru saja kemarin rasanya bocah itu selalu tidur di Kamar Hamdan, ia selalu merasa cemas jika Alma tidak berada pada sisinya. Pulang kantor selalu dengan cepat dan jika ia ada rapat yang di rasa lama akan menyuruh sang asisten untuk menjemput Alma ke sekolah.
Semenjak kejadian beberapa Tahun yang lalu, meninggalnya Amira karena keguguran dan usaha orang bertopeng untuk menculik Alma membuat Hamdan yang sekarang di panggil dengan sebutan Uncle Lex harus lebih hati-hati atau pantas di sebut dengan rasa cemas Alex yang berlebihan.
Seperti hari ini, ini adalah hari kelulusan ponakan angkatnya itu. Alex berjanji jika Alma lulus dengan hasil yang memuaskan, Alex akan menghadiahkan sesuatu pada Alma. Setelah acara kelulusan Alex harus pamit pada ponakannya itu karena ada urusan mendadak di kantor yang harus ia kerjakan.
“Sayang, uncle tinggal dulu ya nanti setelah ini sopir akan menjemputmu dan datanglah ke kantor karena hadiahmu telah menunggu disana,” Ucap Alex dengan lembut dan berbisik pada telinga keponakan, karena bunyi musik dari acara kelulusan dan wisuda itu masih berbunyi sangat keras.
“Uncle aku tidak bisa mendengar mu ,” ujar gadis yang telh tumbuh dengan sangat cantik itu, menggenggam lengan kekar sang pria tampan yang ingin beranjak pergi.
“Aduh,” dalam hati Alex lagi, ia memberhentikan langkahnya.
“Uncle pergi dulu, nanti nanti ada supir yang akan menjemputmu. Datanglah ke kantor!” Alex terpaksa mengeraskan suaranya dan mendekati telinga gadis yang akan menginjak dewasa itu.
Hanya tinggal beberapa senti saja, bisa dikatakan bibir dan telinga Alex bisa saja beradu. Rambut panjang Alma yang diikat kuda dan bau parfum gadis cantik yang sangat lembut itu membuatnya merasa nyaman, ah rasa yang tidak boleh ada harus segera disingkirkan ujar pria itu dalam hati.
Boleh saja, ia bergonta ganti dengan wanita setiap malamnya, tetapi tidak untuk menyentuh bocah yang sedari kecil yang diurusnya dengan penuh kasih sayang. Entah mengapa rasa sayang pada bocah itu telah melekat dari pria keturunan Irlandia itu.
“Baik Uncle,” Alma menyahut dengan tidak kala kerasnya pada sang Pria tampan yang mengenakan pakaian lengkap kerjanya saat itu.
Alex kemudian pergi meninggalkan alma dengan senyum tipisnya melangkah ke arah mobil mewah yang sedang terparkir di halaman SMU Negeri Miyaki.
Dentuman dan suara musik telah mulai berhenti teman-teman SMU Alma menghampiri gadis itu. Dan ikut menyalaminya dan memberi ucapan selamat.
“Alma, selamat ya. Atas Prestasi yang kamu capai. Kamu gadis beruntung, otak cerdas dan punyo cowok yang sangat tampan.” Dinda mengulurkan tangannya dan sambil tersenyum simpul.
“Terimakasih, kamu juga beruntung. Jangan pernah mengatakan kita tidak beruntung, karena masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.” Jawab Alma dan menyambut tangan Dinda dengan erat.
Ketiga sekawan itu lalu tersenyum, mereka yang sangat dekat dari kelas satu SMU dan selalu ditempatkan pada ruangan yang selalu sama membuat mereka sangat tersa dekat seperti saudara.
"Alma yang tadi bersamamu lelaki tampan itu apa cowokmu? wah, jadi diam-diam kamu sudah pacar ya?" Tanya Dinda dengan sangat kepo.
Alma hanya diam sejenak, sengaja ia selama ini menutupi siapa lelaki yang selalu melindungi dan merawatnya. Karena Alma sama sekali tidak ingin ada komentar negatif antara dia dan Uncle tampannya itu. Karena ia dan Uncle Alex sama sekali tidak ada hubungan pertalian darah dan gadis cerdas sepertinya tidak harus selalu mengatakan hal yang pribadi walau dengan teman karib sekalipun.
"Dinda kamu salah jika menilai lelaki tadi adalah pacarku. Dia adalah Uncle ku. Dari dulu Uncle yang mengurus semua Perusahaan papa hingga kini."
"Wah, kalau begitu ada kesempatan untuk bisa jadi Aunty mu," kelakar Dinda dengan muka yang sangat ceria.
Alma hanya tersenyum datar, termasuk juga teman lelaki yang ada diantara mereka Tino.
"Kecil-kecil sudah kegatalan, sudah sibuk lihat lelaki. Belajar yang benar, baru mata mu bisa terbuka sedikit. Itu pun jika IPK bagus kalau ngak tutup tu mata." Ledek Tino dengan gemas.
"Ya, kamu Tino. Urusan kayak gitu aja jadi masalah. Itu tandanya normal, punya rasa dan perisa ha..ha..nah kamu dari dulu perasaan jomblo melulu. Tidak ada yang naksir atau kamu memang ngak suka perempuan?"
"Up..up..kalau ngomong mulutnya di rem sedikit ya Din. Bedakan mana lelaki normal dan mana yang sibuk memikirkan masa depan? kamu mau pembuktian jika aku normal?" Tino terlihat marah dan mencengkram tangan Dinda.
Muka Dinda langsung semerah Tomat. Menahan rasa malu dan jengkel pada Tino.
Tetapi jika di lihat-lihat Tino juga tidak Jelek, Ia adalah Tim pemain basket yang handal dari utusan sekolah. Dia berbadan Tegap, dengan tubuh atletis dan berkulit sawo matang.
"Sudah, sama teman jangan saling mengejek. Nanti judulnya benci jadi cinta. Atau teman tetapi menikah, bisa pesta tujuh hari tujuh malam kita," Alma sekarang yang lagi mulai mempermainkan mereka yang lagi bersitegang.
"Ah, ngak la ya," Ujar Dinda langsung menghempaskan tangan Tino dengan kasar.
"Siapa juga mau sama kamu Din, jalan kayak bebek pulang perang. Pandai pula lihat Uncle Alma yang ganteng! ngaca Din.! Ngaca!"
Tino pergi sambil berlalu sambil menjulurkan lidahnya pada Dinda.
Alma yang melihat itu tertawa terpingkal-pingkal dan air mata nya keluar saking kerasnya tawa itu.
"Wah, kamu juga jahat ya Alma, ikut ngetawain aku. Wah kalian berdua tampaknya sama saja," ucap Dinda dengan jengkel.
"Wah, jangan marah dulu teman, ini sangat lucu. Kamu tidak melihat apa pas Tino menjulurkan lidahnya, kemudian pas ia juga menepuk pantatnya dan dan mengarahkan pada kita, celana panjang abu-abu yang ia pakai ikut sobek dan kau lihat sekarang ia berlari menuju WC umum sekolah." Alma kembali memegang perutnya menahan tawa.
"Ah, aku baru menyadarinya sekarang," ujar Dinda dengan memegang perutnya menahan tawa.
Mereka berdua tidak bisa menahan tawa, walau dari kejauhan para siswa dan siswi lain juga memperhatikan sahabat itu.
"Alma, aku tidak bisa menghentikan tawa ini. Aku rasanya mau pipis dan tidak bisa membendung nya untuk tidak keluar. Aku pergi dulu." Ujar Dinda dengan muka yang memerah menahan sesak buang air kecilnya.
"Pergilah, aku tidak menyediakan ember atau wadah jika kau mau pipis di sini teman!" Alma kembali tertawa keras.
Mungkin inilah di mana Alma mendapat kebahagian, ia tersenyum. Ia bahagia dan jika pulang ke rumah ada sang Asisten yang setia menyambutnya dengan senyum.
Panggilan telpon terlihat pada Handphone Yang dalam gengamnya tertera nama Uncle Lex.