I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Aku Tidak Mungkin Terpikat Padamu



...Haiii..pembaca setia yang ada di I Love Uncle Hot. Author minta maaf yang sebesar- besarnya pada pembaca yang menunggu up nya yang terlalu lama. Hal ini ini di karenakan Author yang beberapa bulan yang lalu keluar masuk rumah sakit dan sekarang Alhamdulilah akan berusaha meneruskan cerita ini hingga tamat....


*****


Mata indah Alma menatap Rey yang saat ini merengkuh bahunya lama mereka saling tatap.


Rasa canggung kemudian hadir diantara mereka. Rey seketika sadar ketika muka Alma yang begitu merah menahan rasa malu yang ada.


Rey melepaskan rangkulan dari tubuh cantik milik gadis itu dan menuntunnya masuk kedalam restoran.


Supir yang ada di dalam mobil tuannya itu hanya mengangguk kan kepala melihat kelakuan tuannya akan tetapi tidak lama kemudian sang supir pun tersenyum sendiri.


Mereka akhirnya makan dan nyaris tidak banyak bicara.


Rey tidak sedikitpun melepaskan pandangannya pada Alma yang terlihat sangat sedikit mengambil makanan yang tersedia.


"Apakah kau takut gemuk dan sedikit menjalankan diet nona manis?" Rey bertanya dengan penuh senyum.


"Ah, maaf Rey. Aku memang tidak makan dengan porsi yang banyak." Alma merasa sedikit bersalah dan menunduk mukanya.


"Tetapi saat ini kau harus makan yang banyak, karena kau tidak boleh sakit. Gadis cantik, hanya kau yang Tuan Alex punya saat ini."


"Ayo, kau butuh energi untuk lagi saat ini !"


Rey kembali mengambil sedikit nasi dan lauk dan sayur kedalam piring nasi Alma.


"Tapi Rey.."


Alma menatap Rey dan memohon untuk untuk tidak menuruti perintah lelaki tampan dan Tajir itu.


Tetapi Rey malah memberi isyarat pada gadis cantik itu agar segera menghabiskan makanananya.


Gadis cantik, sepertinya terlihat penurut saat ini. Mungkin saja ia juga sangat untuk menolak kebaikan yang diberikan Rey.


Siapa yang akan mengurus semaunya jika tidak ada Rey.


Siapa yang akan mengurus perusahaan, kuliahnya dan Alex yang sampai saat ini masih terbaring koma. Ah, aku juga harus tahu diri ucap Alma dalam hati, walau sebenarnya ia sangat engan untuk menghabiskan makanananya.


Rey tersenyum puas, melihat Alma yang terlihat sanga segar. Keringat membanjiri pelipis dan keningnya saat ini.


"Alma.."


Gadis itu menoleh dan melihat Rey yang lagi menatapnya.


Lelaki berparas gagah itu mengambil tissu dan berdiri pada tempat duduknya dan mendekati Alma.


Pria itu kemudian menghapus keringat yang membanjiri kening dan pelipis Alma.


saja hal yang dilakukan oleh Rey mendapatkan respon yang sangat positif dari orang- orang yang juga sedang makan di sana.


"Ah, beruntung ya dapat suami ganteng dan juga tampan."


"Ah, jika melihat ini semua jiwa muda ku seakan-akan kembali meronta."


"Ya, Tuhan aku ingin jodoh anak ku kelak mendapatkan pria tampan dan juga baik seperti laki-laki ini.


Suara pujian dari para ibu dan para gadis belia yang ada di sekitar mereka tidak membuat Alma merasa tersanjung saat ini. Ia menyadari semua kebaikan Rey padanya hanyalah sebuah rasa empati dan kasihan yang menurut Alma sangat sedikit berlebihan.


"Ah, terimakasih Rey, anda tidak perlu merasa sangat berlebihan seperti ini." ucap Alma dengan penuh rasa sungkan.


Rey hanya tersenyum tipis. Tidak lama ia juga menyudahi makan siangnya bersama Alma.


"Ayo jika selesai. Kita akan menghirup udara sebentar di sekitar restoran dan hotel ini." Pria itu melihat Alma yang telah siap dengan makanannya.


"Baiklah Rey. Tetapi kamu janji kita tidak lama. Kasihan Uncle sendirian di sana." Ucap Alma dengan halus.


"Tentu saja nona manis, aku tidak akan membawamu lama. Aku sangat paham jika kau sangat mencemaskan Uncle mu.!"


Alma kembali merasa sangat risih dengan kelakuan lembut Rey padanya.


Jari kekar yang tengah merengkuh pundak dan tangannya saat ini membuat Alma tidak bisa mendustai hati kecilnya ia juga merasa sangat nyaman dengan perlakuan Rey padanya.


Mereka keluar dari restoran itu dan berjalan-jalan di pinggir kolam renang. Kolam renang yang sangat besar menghadap pada bibir pantai. Suasana sangat sejuk dan terasa sangat nyaman.


"Apakah kau senang dengan suasana pantai saat ini nona cantik ?" Terdengar suara Rey bertanya pada Alma.


"Aku sangat menyukainya Rey." Alma tidak berbohong matanya terlihat berbinar Indah melihat suasana pantai yang ada di depannya.


Rey tetap memegang erat tangan gadis itu dan seolah sama sekali tidak ingin sedikitpun melepaskan jemari lembut milik gadis berlesung pipi yang sedang tersenyum.


"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu pada mu nona manis?" Rey kemudian melepaskan genggaman tangannya tetapi merengkuh pundak Alma agar bersandar pada bahu kekar milik pria itu.


Alma merasa sangat canggung dengan posisi mereka seperti itu. Ia ingin melepaskan diri tetapi Rey tetap merengkuhnya dengan lembut namun terkesan sangat kuat.


"Aku tidak akan macam-macam padamu nona cantik. Percayalah, aku hanya ingin kau duduk di sini dan bercerita padaku sambil melihat indahnya pantai. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dan senang jauhkan semua duka dan berbahagialah saat ini."


Alma terdiam melihat penuturan Rey. Pria itu tidak mungkin berbuat tidak senonoh padanya.


Alma kembali duduk dan tentu saja bersandar pada bahu kekar pria itu.


Dalam beberapa detik mereka terdiam


"Apakah kau pernah punya pacar nona manis?" Rey membuka suaranya.


Alma sejenak terdiam. Apa yang harus di jawabnya pada saat ini. Apakah Rey akan percaya jika gadis seusianya yang banyak bergonta ganti pasangan tetapi tidak dengan dirinya.


"Aku.."


"Ya, aku pasti telah menduganya. Kau pasti telah pernah merasakan punya pacar. Dan tentu saja itu adalah hal yang wajar."


Rey agaknya berspekulasi sendiri


Alma terdiam sesaat mendengar pernyataan Rey. Kemudian gadis itu tersenyum tipis.


"Kau salah Rey, Siapa yang mau dengan gadis seperti ku, aku tidak cantik dan juga tidak menarik dan tidak mereka sukai aku tipe cewek rumahan yang tidak pandai bergaul."


Alma terlihat menundukkan mukanya.


Rey sedikit terkejut dengan pernyataan gadis itu. Tetapi tidak lama ia kembali tersenyum.


Tangan kekarnya membelai rambut Alma yang tertiup angin. Ia merapikan rambut itu


dan menyelipkan di belakang telinga sang gadis.


lagi- lagi Alma merasa sangat damai. Ia kemudian mendongakan sedikit wajahnya keatas dan melihat rupa tampan yang tetap mendekap tubuhnya.


Ah, mengapa ia seperti dan Rey seperti sepasang kekasih?


"Rey mengapa hal itu kau tanyakan padaku?"


Alma balik bertanya.


"Apakah itu suatu kesalahan?"


Rey menundukkan mukanya. Hampir saja hidung dan bibir mereka beradu. Namun dengan cepat pria itu kemudian berdiri dan menepuk celana panjang dan celana Alma dari pasir dan debu.


"Ayo nona manis, sebaiknya kita kembali ke rumah sakit.!"


Belum habis rasa penasaran di hati Alma tentang Rey. Pria itu terlihat seperti dingin dan kaku.


Ia menuruti langkah panjang pria itu ke daerah parkiran karena sang sopir dengan siaga mengantar mereka kemanapun mereka pergi.