
Aku sebenarnya sangat kecewa hari ini. Walupun Alma senyatanya tetap memperhatikan ku lewat sikapnya yang mengantarkan ku pulang sampai teras rumah.
Rasa kecewa itu sedikit terobati lewat lambaian tangannya ketika mobilku benar-benar meninggalkan rumah besar kediaman Alma Brawijaya.
Ia gadis yang sangat menarik, Ia gadis yang sopan. Gadis itu telah mengalami banyak masalah dari hidupnya sedari kecil dan aku sangat ingin membahagiakannya.
Aku mulai tertarik pada gadis itu ketika masih mengajar pada kampus Alma. Tetap sayang Tuan Alex yang mempunyai kekuasan membuat aku harus resign dari pekerjaan.
Terasa sangat berat harus melalui waktu tampa bisa lagi melihat orang yang kita cintai. Hingga waktu naas itu tiba dimana Alma hampir saja di culik dan Tuan Alex berusaha melindungi gadis itu. Karena kejadian naas itu Tuan Alex tertembak dan entah mengapa sebabnya ia menjadi lumpuh.
Di saat itu aku melihat gadis kecil yang selalu ku ingat tiap saat dan waktu. Terjadi pertarungan. Benar Alma selamat tetapi Alex mengalami luka yang sangat serius. Aku melihat orang yang dulu sangat membenci dan juga mengeluarkan ku dari kampus ya Tuan Alex dengan kekuasan Besar terbaring lemah dan tidak berdaya di pangkuan gadis yang ku cintai.
Aku tidak mungkin untuk menutup mata, aku juga tidak mungkin juga berpangku tangan untuk menjadi penonton. Walau bagaimanapun rasa sakit itu,
Sisi kemanusiaan ku tidak bisa menolak untuk tidak membantu Tuan Alex dan tentunya gadis yang ku cintai.
Aku memutuskan untuk membantunya dengan sekuat semampu ku. Aku mengerahkan mereka anak para bodyguard yang berada di sekelilingku untuk menguasai tempat itu. Sebentar saja tempat itu dikuasai. Dan tidak lama polisipun tiba di tempat kejadian.
Sampai detik ini, aku tidak akan lelah untuk membantu Tuan Alex dan Alma. Aku tidak butuh balas jasa dari mereka walaupun pada akhirnya nanti Tuan Alex akan sembuh. Aku hanya berharap Alma akan menjadi milikku. Semoga saja Tuhan mendengar semua doa dan pinta ku.
Mobil Sport yang dibawa oleh Rey tiba di kediamannya. Ia Tinggal di daerah sebelah Utara tidak jauh dari pusat Kota.
Rumah mewah itu bernuansa Eropa dengan pilar-pilar dan tiang-tiang bangunan besar yang menyanggah rumah itu. Berlapiskan cat putih tetapi bernuansa abu-abu terlihat rumah itu bersih dengan halaman yang tertata rapi.
Pria itu masuk kedalam rumah dengan langsung diikuti oleh beberapa asisten perempuan dan juga laki-laki.
"Tuan sudah pulang? apakah saya akan menyiapkan makan malam?"
Asisten perempuan Rey bertanya dengan sangat hormat.
"Ya Bi Ira. Tetapi jangan terlalu banyak dan jangan lupa juga jus buah seperti biasa."
"Baik Tuan."
Asisten itu kemudian dengan bergegas ke arah dapur.
Asisten lelaki yang berada di belakang Bi Ira juga menunduk hormat pada Rey.
"Apakah ada yang lain Tuan yang anda perlukan." Sapa asisten laki-laki yang bernama Josua pada Tuannya.
"Oh, tidak Josua jika nanti perlu sesuatu aku akan memanggil dirimu."
"Baik Tuan."
Asisten laki-laki sekaligus bodyguard di rumah mewah lalu mengundurkan diri kembali pada teras depan rumah bersama dengan asisten lain mengumpul dan minum kopi bersama malam itu.
Rey kemudian dengan langkah yang agak malas melangkah menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai atas rumah itu.
Rumah itu terasa sangat sepi apalagi setelah ayahnya meninggal dunia Tuan Miyaku.
Jadi wajar saja jika Rey sangat tampan. Ia adalah Blesteran dari Jawa dan juga dari Jepang. Tubuh Rey tidak terlalu tinggi akan tetapi otot-otot sangat kekar dengan dada yang terbungkus sangat bidang.
Dengan ketampanannya sungguh sangat mudah untuk mendapatkan semua wanita yang ia inginkan. Tetapi tidak dengan Rey. Ia pernah merasakan bagaimana rasa suka kepada lawan jenisnya tetapi perempuan itu di jodohkan dan akhirnya menikah.
Semenjak saat itu, pria itu tidak lagi ingin merasa dekat dengan seorang wanita. Bertemu dengan gadis yang mengetarkan hati dan pikirannya terlebih lagi Alma adalah tipe untuk lelaki seperti Rey. Lelaki itu memantapkan pilihannya walaupun dia tidak akan tahu Alma suka atau tidak padanya.
Rey berada pada Balkon kamarnya ia melihat ke langit malam itu yang sangat cerah. Bintang bertaburan menghiasi jagat raya. Kemudian pandangannya beralih pada asisten yang duduk sambil merokok tidak jauh dari pintu gerbang rumah.
Suara gelak tawa mereka terdengar hingga kebalkon kamar Rey.
"Begitu senang dan bahagia seperti mereka, tertawa lepas. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?"
Diam-diam dari atas balkon Rey mencoba mendengar semua yang mereka bicarakan. Akhirnya Tuan Muda Tajir itu lalu memegang perutnya menahan rasa geli melihat tingkah para asisten yang dapat berlaku kocak jika tidak di depan dirinya.
Ketika Rey sedang asik melihat mereka yang berada pada lantai bawah. Suara deringan gawai miliknya memerintahkan untuk segera diangkat.
Terlihat nama Mommy manggil. Dengan malas Rey mengangkat gawai miliknya.
"Ya, Mom."
"Sayang, kau sudah kembali, mengapa tidak mengabari Momy?"
"Ya, sekarang Momy juga sudah tahu aku sudah pulang ada apa Mom?"
"Jangan ketus begitu nak, Momy menyanyangi mu. Jangan pernah ungkit lagi masa lalu. Besok pagi Momy akan ke sana ada sesuatu yang harus Momy sampaikan pada mu."
"Apa yang perlu disampaikan Mom, sekarang saja. Besok aku bakalan sibuk?" Ucap Rey dengan dingin dan datar.
"Momy akan ke sana besok, mau sibuk atau tidak. Ini juga demi masa depan mu. Tunggu Momy ya."
Baru saja Rey ingin menjawab sambungan telpon sudah dihentikan sepihak.
Rey membanting gawainya itu ke tempat tidur. Pria itu menggerutu dengan sangat kesal.
Baru saja ia bahagia dan tertawa melihat tingkah asistennya di bawah sana moodnya langsung tidak baik menyabut panggilan dari sang ibu.
Bagaimana ia tidak begitu peduli pada sang ibu. Benar ia yang melahirkan nya ke atas dunia antara hidup dan mati.
Namun perempuan itu, meninggalkan dirinya di saat Rey berumur 5 Tahun. Di saat bocah kecil itu lagi butuh belaian kasih sayang seorang ibu. Ia pergi dengan laki-laki kaya. Tuan Miyaku bersujud di kaki sang Momy dan juga dirinya agar jangan pergi meninggalkan mereka.
Tetapi dengan sangat ego dan angkuh perempuan itu tetap meninggalkan mereka berdua. Tidak peduli Rey yang menjerit keras ingin ikut dengannya. Perempuan itu tidak peduli.
Tetapi sekarang di saat Rey lelah berhasil dan sukses. Di saat majalah bisnis dan siaran televisi menyiarkan berita kesuksesannya perempuan itu datang dan mengaku -mengaku bahwa ia sangat mencintai putranya itu.
Apa kata yang pantas untuk perempuan seperti Momy Rey pembaca..ayo like yang banyak dan vote nya juga terimakasih.