
Alma yang sedang di suapi oleh Alex merasa sangat begitu senang, jika saja kondisi sangat baik saat ini. Ia akan memeluk sang Uncle dengan sangat erat. Seperti biasanya ide jahil pasti akan selalu bersemayam pada diri gadis itu.
Ia menatap Alex dengan tatapan sangat lekat, wajah tampan sang Uncle itu berapa centi dari dirinya. Hembusan nafas kedua rasa begitu dekat dan kentara hingga Alma bisa merasakan aroma Farfum dan minyak rambut yang biasa dipakai pria itu.
Mengapa sampai detik ini Uncle tidak juga menikah? Mungkin ia merasa sangat sungkan setelah kejadian sebelumnya. Uncle Hot itu julukan untuk Uncelnya saat itu, berganti -ganti pasangan hingga Alma mengamuk. Semenjak saat itu dan hingga saat ini ia tidak lagi mendengar jika Alex mempunyai teman dekat wanita.
Pria itu sangat begitu bertanggung jawab atas dirinya, semua kebutuhannya sedari kecil, baju, tas, pita rambut bahkan talu sepatunya tidak luput dari pantauan dan perhatian Alex. Sampai saat ini, sebentar lagi ia akan menyelesaikan Skripsi dan tentu akan diwisuda semua itu tidak lepas dari ia yang sangat berjasa.
Tetapi saat ini, Alma dihadapan tentang lamaran dari Rey yang telah diterimanya. Minggu depan ia akan menikah. Rasanya seperti mimpi saja. Ia merasa belum cukup rasanya mengabdi pada orang yang membesarkannya itu, sekarang ia harus menikah apakah ini rasanya tidak terlalu cepat pikir Alma lagi.
"Hemm."
Alma yang lagi termenung melihat gerak-gerik sang Uncle yang sangat memperhatikannya itu, tersadar dari lamunan.
Alma kemudian mendongakkan kepalanya sedikit dan kembali menatap lekat pria itu.
"Apakah ada yang tidak lagi terasa nyaman, apakah sekarang sudah merasakan lebih enakan?"
Ya, aku sudah sehat Uncle. Itu semua karena kau berada di sini. Kau berada di dekatku. Aku ingin selalu di dekatmu. Aku merasa sangat nyaman, apalagi suapan yang sering engkau lakukan seperti aku mempunyai kembali kedua orang tua yang telah pergi.
Tetapi mengapa kau tidak punya perasaan sedikitpun padaku Uncle, apakah aku tidak layak untukmu? apa kekuranganku? bahkan sekarang ketika Rey melamarku kau kelihatan sangat bahagia. Uncle tidak adakah sedikitpun perasaan mu padaku? Aku hanya ingin selalu bersama mu, sekarang esok bahkan selamanya. Alma ingin berteriak dan ingin sekali mengutarakan isi hatinya saat ini. Tetapi ia hanya bisa berteriak dalam hati tanpa mampu untuk bersuara sedikitpun.
"Alma, ada apa denganmu?"
"Ya, Uncle."
"Mengapa kau diam saja, sayang?" Alex sambil mengelus puncak kepala Alma. Ia menyadari sesuatu saat itu juga pada gadis itu.
Sebagai pria dewasa yang telah matang, bukan tidak mungkin jika ia tidak mengetahui apa yang dipikirkan Alma saat ini.
Ia juga memiliki perasaan yang sama pada ponakan angkat yang dibesarkannya itu. Tetapi ia harus bagaimana lagi. Ia merasa sangat tidak layak untuk gadis sepolos dan secantik Alma.
Aku sangat tidak layak untukmu sayangku, kau tahu...aku menginjakan kaki pertama di rumah sebagai orang yang sangat jahat. Masa laluku sangat kelam, berbagi kenikmatan dengan wanita yang aku suka. Sedangkan dirimu, seperti kapas putih tanpa noda. Kau tidak layak menghabiskan masa depan dengan lelaki brengsek sepertiku.
Alex juga berteriak dalam hati sambil terus mengelus dan sambil sesekali mencium kening Alma.
Alek kemudian tersadar juga dari lamunannya saat itu. Ia menghentikan kegiatan tanganya mengelus puncak kepala Alma.
"Jadi benar sekarang telah baikan, baiklah tunggu di sini sebentar. Uncle akan memanggil dokter Aida."
Rey yang sedari tadi duduk tidak jauh dari jendela kamar Alma langsung bergerak menjauh. Apa yang harus ia lakukan pada saat ini, apakah harus pulang.
Tetapi Rey harusnya bertekad untuk pulang saja, entahlah. Ia juga merasa sangat galau dan juga bimbang pada keputusannya untuk melamar Alma.
Bisakah cinta itu akan hadir, bisakah cinta itu tumbuh bersemi jika Alma nantinya tidak bisa Move On dari sang Uncle. Rey juga akan sangat merasa bersalah jika harus memisahkan dua orang yang saling mencintai. Apakah ia harus egois, toh cinta selamanya tidak harus saling memiliki. Biarkan mereka bahagia. Karena jodoh dan takdir semua telah diatur oleh sang Maha Kuasa.
Dengan langkah lesu Rey menyusuri jalan koridor rumah sakit dan berniat untuk pulang.
Sementara itu Alma yang sedang menunggu Alex, bertanya-tanya dalam hati mengapa sampai saat ini, Rey tidak datang kembali menjenguknya. Apakah Rey baik-baik saja? sedikit ada kecemasan di raut wajahnya saat ini.
Tidak lama dokter Aida masuk dengan Alex kedalam ruang rawat Alma. Terlihat dokter Aida kembali memeriksa Untuk memastikan jika Pasien saat ini benar-benar bisa untuk diperbolehkan pulang.
"Kelihatannya Alma telah dalam kondisi sedikit membaik, ia bisa untuk dirawat jalan saja. Tuan Alex bisa mengambil obat di Apotek yang telah kami beri resep." dokter Aida tersenyum ramah.
"Jadi benar dokter, jika Ia boleh pulang?"
Alex kembali ingin bertanya sesuatu yang telah di jelaskan secara rinci.
"Ya, Tuan Alex nona Alma benar telah diperbolehkan pulang."
Dokter dan perawat kemudian membuka selang Infus yang menancap di lengan gadis itu.
Alma begitu merasa senang, ia telah terbebas dari selang yang membuatnya kesulitan bergerak dan saat ini ia benar-benar ingin ke toilet. Untung para perawat dan dokter telah keluar dari ruangan. Sekarang tinggal ia dan juga sang Uncle yang menatap lekat padanya.
Hai...para pembaca setiaku, maaf beribu maaf. aku sering telat up nya. Karena kondisi yang juga sibuk bekerja. Karena akhir-akhir ini musim sakit gaaes, pasien ku juga banyak..tetapi percayalah novel tetap akan Tamat, tunggu berapa bab selanjutnya ya untuk The End.
Ya, aku butuh like, komen dan juga votenya salam salam sangat banyak dari aku..I lope..I lope..kalian semua.