
Angin berhembus sangat kencang, awan gelap telah mulai bersahabat dengan hujan. Hujan turun perlahan membasahi kawasan Milano.
Dering Handphone yang di stel menjadi hening, membuat siapa saja yang memanggil pria yang ambruk di sebelah Indah.
Di tepi ranjang yang berukuran besar, terlihat perempuan cantik itu menangis. Benarkah ia menangis? atau menikmati ? mungkin saja menyesal tetapi jika dilihat dalam permainan panas yang dilakukan Hamdan, perempuan itu sungguh sangat menikmati.
Perempuan mana yang tidak mau di sentuh oleh perawakan gagah dari Hamdan lelaki keturunan Irlandia itu.
Sementara dirumahnya, Indah tidak sama sekali dipedulikan. lima tahun menikah tanpa bisa suaminya melakukan kewajiban sebagai seorang suami. Dan yang terparah Suaminya juga seorang pengangguran. Ia akan bersikap manis pada Indah jika Mendekati tanggal gajian perempuan itu.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu jika ini adalah hal pertama bagi mu?" Ujar Hamdan penuh dengan sesalan.
Pria itu lalu berdiri dan berjalan ke arah amar mandi. Terdengar suara gemericik air tanda pria itu membersihkan diri.
Perempuan itu lalu berdiri dengan kaki yang gemetar dan area bawah yang masih terasa sangat sakit.
Tidak lama Hamdan telah keluar dengan baju yang telah terpasang.
"Bersihkan dirimu dan cepat turun ke bawah, aku tidak mau yang lain merasa curiga pada kita!" Hamdan melihat Indah yang masih saja terlihat menangis dan mematung di dekat jendela kamar hotel itu.
Seenaknya lelaki itu menyuruh dan memerintah setelag puas, bermain dengan harga diriku yang tidak ada sedikitpun di hadapannya. Mengapa lelaki itu memintaku untuk melayaninya? bukankah istrinya ada di rumah ? malah sedang hamil muda. Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh Pemimpin yang tidak punya akhlak itu desis Indah sambil meringis pelan, melangkah pada kamar mandi.
Selagi di kamar mandi, Hamdan mengecek handphonenya. Terlihat banyak sekali panggilan yang tidak terjawab masuk pada handphone tuan Penguasa itu.
Ratusan kali panggilan dari Amira dan ia mengabaikan panggilan itu. Dan deretan panggilan yang membuatnya sedikit cemas, panggilan dari Bi Ana sang Asisten kepercayaan nya yang mengurus Alma.
Ada apa Bu Ana menelponnya? ada urusan yang sangat penting, bukankah Ia telah menempatkan beberapa badyguard dan beberapa asisten jika Amira kembali mengamuk. Dengan cepat Hamdan kembali menghubungi sang Asisten separuh baya itu.
"Ada apa Bi Ana?"
"Tuan,"
"Ya, ada apa Bi, jangan membuatku cemas di sini?"
"Tuan, cepatlah pulang dan jaga diri Tuan. Saya tidak bisa mengatakan hal itu di sini, nyonya Tuan merencanakan sesuatu yang tidak baik. Jaga diri Tuan-tuan baik-baik.."
Ia melihat Indah yang keluar dari kamar mandi dan telah memakai kembali pakaian lengkap.
"Kita akan pulang hari ini juga bersiaplah. Aku mohon maafkan aku."
"Ya, tidak ada yang perlu di sesali, semuanya telah terlanjur terjadi. Mungkin saja ini telah nasib buruk yang harus diterima Tuan." Indah kembali menundukkan mukanya.
"Aku bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi padamu, turunlah ke bawah dan katakan pada Bu Sandra dan kru yang lain kita kan pulang saat ini juga."
"Baiklah." Perempuan cantik itu pergi dan hilang di balik pintu.
Ada rasa sesal yang ada dada, mengapa ia begitu berani mengambil resiko. Indah adalah istri orang. Niatnya tadi hanya untuk bermain-main sebentar, tetapi di luar kendali hasratnya begitu tidak terkendali. Yang membuat ia merasa menyesal ternyata perempuan itu masih perawan. Sudah pasti sang suami tidak pernah tidur dengan suaminya itu, pikir Hamdan dalam hati.
Hamdan telah sampai pada lantai bawah bangunan hotel, semua kru dan juga asisten yang beberapa hari yang lalu ikut pergi bersama dengannya telah berkumpul kembali di depan lobi hotel.
"Sengaja saya mengumpulkan kalian semua. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan dengan segera, karena kemungkinan yang tidak diinginkan akan ditekan sangat tipis terjadi." ujar Hamdan dengan jelas.
"Sebenarnya ada apa Tuan?'" Sang asisten Ramses bertanya
"Ada sesuatu yang sangat sulit untuk di jelaskan Ramses. Sebaiknya kita berangkat sekarang.!"
"Baik, Tuan."
"Sebelum berangkat, cek kendaraan kalian terlebih dahulu. Minyak dan rem yang jelas masih digunakan dengan baik dan ban serap!"
Suasana menjadi sedikit tegang, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi para karyawan dan asisten kembali pada kendaraan yang mereka bawa dan mulai mengecek dengan sangat teliti.
Sementara itu dikediaman Amira tampak mobil hitam pekat, mendekati perkaranggan rumah besar itu.
Terjadi perkelahian dan baku tembak antara penjaga dan orang-orang suruhan Amira.
Alma dan Bi Ana yang telah bersiap dari semula dalam kamar tetap terlihat gemetar. Asisten separuh baya itu terlihat cemas dan juga panik. Ia harus menyelamatkan nona mudanya pikirnya dalam hati.