
Alma telah beberapa minggu masuk pada kampus dimana ia menuntut ilmu. Cuaca yang panas membuatnya berteduh di bawah pohon Akasia ada di sudut kampus. Jam istirahat siang baru saja dimulai. Mereka sibuk ke kantin dan juga Musola yang tidak jauh dari tempat Alma duduk.
Alma tidak pergi ke kantin, namun sambil mengerjakan tugas yang di kumpul esok hari. Sambil mengerjakan tugas ia menyuap makanan yang di bawa dari rumah. Ia lebih merasa nyaman dengan bekal yang selalu di bawanya di masak dengan sehat oleh Bi Ana.
"Wah, anak orang kaya. Irit sekali bawa bekal dari rumah, minta dong sedikit bekalnya." Seloroh Dinda dengan senyum khasnya.
Tiga serangkai Dinda, Tino dan juga Alma dipertemukan di kamus itu. Mereka bertambah semakin akrab.
"Ya. kalau mau minta ya bilang Din. Jangan nyendir halus dan bawa nama anak orang kaya." Ujar Alma sambil menyodorkan bekalnya pada Dinda.
"Ya kamu memang anak orang kaya, tetapi jarang ke kantin sayang itu masud sohib ku sayang," ujar Dinda menjelaskan.
"Lebih enak kita membawa makanan dari rumah apalagi yang kita buat sendiri, dijamin kesehatan dan juga pasti kebersihannya di samping itu juga irit pada kantong." Alma menjelaskan dengan tersenyum.
"Wah orang kaya saja hidupnya hemat apalagi seperti diriku yang tidak nyadar kaya ngak, makan tiap hari ke kantin kapan kayanya ya?" Ucap Dinda seakan pada diri sendiri.
"Tetapi ngak juga berpikir sampai di situ kali Din, yang jelas kita menjalani saja sesuai dengan alur yang sehat dan benar. Jangan boros, Tetapi juga tidak pelit sampai menahan sesuatu hingga harus kena maag. Saking mau hidup hemat tetapi terkesan pelit." Alma kembali tersenyum pada Dinda.
Tiba Tino datang dari balik Akasia tempat mereka berdua duduk dan langsung langsung bergabung dengan dua sohib mereka.
"Tu dengerin apa yang di bilang Alma, bentar ke kantin. Bentar ke Mall emang bokapmu punya deposit banyak yang harus kau hamburkan ngaca ya..!" Tino merampas makanan yang ada di tangan Dinda.
"Tino bawa sini makanan ku, aku mau makan nunggetnya Tin!" rengek Dinda sambil memelas.
"Ya, punyamu, ni punya Alma enak aja." Tino masukan dua nunggetnya sekaligus pada mulutnya. Kemudian ia pergi dengan senyum lebar pada wajahnya.
"Awas ya kamu, kalau nanti jumpa dasar rakus!"Umpat Dinda dengan kesal.
"Ya, sohibku yang cantik. Besok aku bawa yang banyak untukmu dan Tino ya." Bujuk Alma yang melihat Dinda yang memegang tempat bekal yang kosong. Alma sedih bercampur lucu melihat Dinda yang hanya memakan nugget yang hanya dapat separoh.
"Sudah jangan kayak anak kecil, bentar-bentar cemberut karena makanan atau mainan nya diambil orang. Tugas kuliah banyak say, apa kau sudah siap mengerjakan tugas dari Pak Sardi? Dosen itu kau tahu bukan sangat killer, bisa -bisa nilai mu pas semester mendapat nilai i bukan d ya, kau akan mengulang tahun depan!"
"Aduh, aku baru ingat sekarang! apa kau sudah selesai mengerjakan teman?"
"Wah nih pasti nyontek lagi alias coppy paste!" Alma tersenyum melihat Dinda yang kelabakan.
"Please ya, sekali ini saja," Dinda memohon dengan menangkupkan tangan tangannya di dada.
"Ini yang terahir, jika ada tugas lagi aku ngak bakalan ngasih contekan. Kalau aku ngasih juga contekan ke kamu bisa-bisa membuat pemalas yang jelas akan nyenyak tertidur tanpa berpikir!"
" Iya aku janji, besok-besok ngak bakalan lagi nona manis." Dinda mulai merapat ke tempat duduk Alma. Dan mengharap Alma segera memberikan tugas padanya.
" Ya nih, tugasnya. Aku kasih waktu lima menit ya, karena di dalam catatan itu aku juga mengerjakan tugas dari Bu Darmi."
Dinda dengan cepat menyalin semua tugas yang telah dibuat Alma. Tidak lama kemudian, ia telah selesai dan tersenyum penuh rasa teri
kasih.
"Terimakasih nona cantik, yang cantik bertambah cantik lagi, hmm..hmm dan tidak lagi jomblo hehe.." Dinda menekankan kata jomblo dan tertawa keras.
"Enak ya, sudah di kasih contekan malah dapat ledekan, kawan durhaka lu," Semprot Alma kesal.
"Bercanda teman, ah begitu aja marah. Ntar cantiknya hilang lho."
"Sebel deh lihat kamu, ayo jam masuk telah tiba. Bu darmi akan masuk sebentar lagi."
"Ya, aku ke toilet dulu ya, tempat duduk ku jangan kasih orang lain. Aku mau duduk terus dengan mu sayang," Dinda sambil menowel pipi sobat dekatnya itu.
"Tetapi aku tidak janji ya, jika lebih dari lima menit kamu belum masuk jangan salahkan aku, jika Tino nanti nyamperin tempat duduk kamu."
"Baik tuan Putri aku tidak akan lama." teriak Dinda dari kejauhan.
Mahasiswa tingkat semester pertama itu lalu masuk ke dalam ruangan, karena sebentar lagi perkuliahan akan di mulai.
Alma mengeluarkan buku dan semua perlengkapan yang akan digunakan. Tetapi berselang waktu 10 menit, Bu Darmi yang akan mengajar perkuliahan waktu itu tidak juga muncul melainkan sosok lelaki tampan memakai kacamata dengan beberapa buku yang ada di gengamnya.
"Wah, Bu Darmi mana ya Alma, dan malah ada dosen laki-laki muda yang ganteng lagi masuk, kalau tidak salah dia mengajar mahasiswa tingkat akhir, ya jika dia masuk tidak apa-apa juga mengantikan Bu Darmi lagian lebih enak di ajar oleh dosen ganteng." Coloteh Dinda dengan riang.
"Hei..isi otakmu jelek banget, isi tuh kuliah dulu. Nyangar nyergir kayak kuda kelaparan lo. Jangan berisik nanti pak dosen itu kesini dan menjitak kepala lo mau!" Alma berbisik di telinga Dinda yang terlihat masih tersenyum.
Dosen itu masuk dan memperkenalkan diri.
"Selamat siang Mahasiswa semester ganjil. Saya mengantikan Bu Darmi dalam mata kuliah ini. Karena Bu Darmi dalam kondisi sakit dan hamil muda. Saya tidak akan berlama lama untuk memperkenalkan diri, mungkin sebagian dari klain juga pasti sangat mengenal saya. Nama saya Rey Rehardian. Biasa dipanggil dengan sebutan Pak Rey. No Handphone saya xxx78903456 Mahasiswa sekalian bisa menghubungi saya jika ada keperluan. Saya rasa perkenalan saya cukup sampai di sini."
Dosen dengan panggilan Rey itu menyudahi perkenalannya dengan nada datar.
"Wah, banyak yang mau ditanyai lagi ya pak, ngak seru deh," Mahasiswi perempuan berseru dengan girang dan suasana menjadi hiruk pikuk.
"Saya kasi kesempatan untuk satu kali bertanya dan kemudian kita akan melanjutkan mata kuliah.
"Hore.." seru mahasiswa perempuan dengan kompak.
Mahasiswa itu berseru dengan antusias melihat dosen ganteng dan juga sangat tampan do depan mereka. Tetapi tidak dengan Alma. Gadis itu bersikap biasa dan hanya tersenyum tipis melihat tingkah teman-temanya.