
Terimakasih Kak May ucapkan pada semua para pembaca yang telah like, vote dan tekan tanda love yang masih sedikit. Tanpa kalian Kay May tidak ada energi untuk menulis 😁
Inilah rasanya yang sangat menyenangkan, Tumbuh menjadi gadis dewasa. Berjumpa dengan banyak teman, tertawa bahkan terkadang juga ada merasa kesal.
Mata kuliah dari dosen Rey telah selesai, dosen tampan itu baru saja memberikan tugas membuat makalah dan memerintahkan untuk mepersentasekan minggu depan secara berkelompok di depan ruangan.
Alma menyusuri jalan keluar kampus, hari ini ia pulang sendiri. Dinda sohibnya tidak lagi nebeng seperti biasa. Ia berniat mampir ke Mall untuk mencari reverterasi bahan untuk makalah kelompok yang akan disiapkan untuk minggu depan.
Hari telah menunjukan jam 5 petang, rasa letih mulai yang bersemayam di tubuhnya. Ia menyandarkan tubuh pada kursi kafe yang berada pada lantai dasar Mall. Ia memesan minuman dingin agar sedikit menghilangkan rasa penat yang tadi bersemayam.
Tetapi baru saja dua teguk minuman yang ia rasa, ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya. Ia menoleh pada kursi yang berada pada belakang ia duduk dan mendapati Alex sedang bercanda dengan mesra dengan seorang gadis belia yang sedikit tua darinya.
Senyum mesra dan kikikan kegelian dari perempuan itu jelas terdengar dari telinga Alma.
Entah mengapa, ia merasa sangat risih. Ia ingin marah dan kesal entah pada siapa. Ia memutuskan untuk segera membayar minuman dan segera pulang.
Uncle Alex benar-benar terlalu. Dia setiap hari selalu bergonta-ganti perempuan. Sungguh Uncle Hot yang tidak pernah untuk berhenti dengan perempuan walau hanya satu malam, desis Alma merasa sangat kesal.
Upps.. mengapa aku mesti merasa kesal, itu hak Uncle. Aku tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadinya ujar Alma kembali dalam hati. Namun rasa kesal dan menyesak dalam dadanya tidak bisa di sembunyikan.
Gadis cantik itu telah sampai pada rumah besarnya. Bi Ana menyambutnya dengan senyum.
"Sudah pulang Non," sapa Bi Ana dengan lembut.
Sejenak Alma melupakan rasa sedihnya. Ia tidak mau bersikap dan menaruh muka tidak menyenangkan untuk orang telah dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Sekarang Bi Ana telah tua umurnya telah mendekati 70 tahun. Ia ingin membahagiakan masa-masa tua untuk orang yang telah berjasa padanya selama ini. Ia tersenyum dan memeluk wanita tua itu, Alma terlihat bersikap bukan majikan pada Asistennya melainkan seorang cucu pada seorang nenek.
"Iya Bi, baru pulang. Bibi sudah makan?" tanya Alma dengan sangat perhatian.
"Sudah Non," jawab Bi Ana dengan tersenyum.
"Aku membawa sate kesukaan bibi. Ayo kita makan bersama."
Waktu perjalanan pulang Alma singgah untuk membeli sate madura kesukaan Bi Ana. Alma tidak tanggung membeli 10 porsi. Karena bukan hanya dia saja yang di rumah melainkan juga beberapa asisten dan juga penjaga rumah.
Mereka semua para asisten dan juga penjaga sangat menyayangi nona kecil yang telah tumbuh dewasa itu karena sikapnya yang santun dan baik hati. Alma tidak menganggap orang yang bekerja di rumahnya adalah pembantu, melainkan saudara yang telah mengabdi puluhan tahun lamanya.
Bi Ana dan Alma makan sate madura dengan sangat lahab hingga Alma tersenyum dengan memegang perutnya. Ia merasa sangat kenyang.
Ketika ia tersenyum mengelus perutnya yang kekenyangan. Di saat itulah bel berbunyi.
Bi Ana dengan tergopoh-gopoh segera berdiri dan ingin membukakan pintu. Tetapi lengannya dipegang oleh Alma.
"Biar Alma saja Bi, Bibi habiskan saja satenya. Perintah gadis itu dan membuat Bi Ana menyurut langkah dan kembali menikmati sate maduranya.
Alma melangkah ke ruang depan. Meraih ganggang pintu dan melihat Alex dan bersama perempuan yang tadi berada pada Kafe yang berada di Mall.
"Alma sudah pulang sayang?" tanya Alex dengan lembut.
Sejenak Alma terpaku, menatap Alex yang terlihat lebih tampan dari biasanya. Ia masih mengenakan jas kerjanya dengan rambut yang masih di sisir rapi. Pandanganya beralih pada Lengan kokoh yang biasanya tempat bermanja-manja, tetapi sekarang lengan itu diapit erat oleh perempuan yang kini berada di dekatnya. Entah mengapa hatinya merasa sangat tidak nyaman sama sekali.
"Kamu pasti Alma, ponakan Alex. Alex telah banyak bicara tentangmu, aku Sintya." Ucap perempuan itu mengulurakan tanganya.
"Lepaskan tangan Aunty pada Uncle, jika ingin berkenalan denganku!" Ucap Alma dengan nada yang dingin.
Alex terkejut dengan perkataan Alma barusan dan ia tersadar, Alex dengan cepat melepaskan tangan Nara yang tadi bergelayut lengannya. Juga dengan perempuan itu yang tak kala terkejut dengan respon dari Alma.
"Eeh..iya.." Nara melepaskan tangannya dan kembali mengulurakan tangan pada Alma.
Alma sebenarnya merasa sangat malas untuk menyambut uluran tangan itu. Tetapi Alex menatap lekat pada kedua manik coklat milik pria itu.
"Nara."
"Alma."
Alma kemudian kembali masuk ke dalam rumah, ia berpapasan dengan Bi Ana yang melihatnya.
"Bibi aku mau ke atas dulu. Bibi istirahat saja, jangan mengerjakan pekerjaan berat suruh asiaten lain saja Bi dan jangan lupa untuk memakan obat tensi dosis rendah yang biasa bibi minum." Alma menaiki tangga rumah menuju lantai atas.
Tetapi Bi Ana sangat paham jika wajah nona mudanya itu sedang tidak enak hati. Ia melihat Alex membawa wanita muda dan bercanda ria di ruang depan ketawa cekikikan tanpa mempedulikan Alma yang tetap melihat sekilas dari lantai atas rumah.
Alma masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sangat keras.
Perempuan cantik itu pun lalu tertidur dengan jendela masih terbuka. Angin sepoi-sepoi masuk ke dalam jendela kamar walau hari telah beranjak malam.
Bi Ana berjalan tertatih karena ke kamar Alma karena nona mudanya itu di suruh untuk makan bersama Alex dan juga Nara.
Bi Ana mendapati Alma yang masih tertidur. Pintu jendela yang masih terbuka dengan gorden yang masih tertiup angin.
Bi Ana menutup jendela pintu kamar dan menutup gorden kamar yang tadi terbuka. Ia tidak sampai hati untuk membangunkan nona mudanya yang terlihat letih.
Asisten itu hanya tersenyum tipis di raut mukanya yang terlihat telah menua. Semoga kamu bahagia sedari kecil penuh penderitaan. Sebelum ajal menjemput ku, aku meminta padamu yang kuasa agar Alma mendapatkan jodohnya kelak. Orang yang menyayangi, melindungi dengan sepenuhnya hati. Baru aku akan tenang untuk menutup mata desis asisten tua itu dengan haru. Tidak terasa dua bulir bening jatuh menetes jatuh di daster panjang miliknya.
Asisten itu pun kembali turun ke lantai bawah, dimana Alex dan juga Nara menunggunya.
"Tuan, Non Alma tertidur pulas. Saya tidak enak untuk membangunkannya tuan." Bi Ana berkata dengan sopan.
"Alma telah tidur jam segini? Tumben, baiklah Bi Ana silahkan beristirahat."
Asisten itu lalu mengundurkan diri, pamit untuk kembali ke kamarnya.
Jam 11 malam Alma terbangun, perutnya terasa sangat lapar. Ia mengucek matanya dan melihat jam di pergelangan tangan sudah agak larut. wah, ia ketiduran karena kesal pada Uncle nya.
Alam mencuci muka ke kamar mandi kemudian menganti bajunya dengan baju tidur.
Ia bermaksud untuk turun ke lantai bawah mengisi perutnya yang terasa lapar. Tetapi suara tawa dan cekikikan berasal dari ruang tengah. Ia melihat Alex dan Nara bercumbu mesra. Rosleting baju Nara telah tersingkap jelas dan perbuatan itu sangat menodai mata polosnya.
Alma mendekati mereka yang sedang asyik bercumbu mesra. Tidak peduli tingkah mereka sangat menodai mata polosnya wanita belia itu.
"Uncle!!"
Bersambung