
Api terus berkobar dengan sangat cepat. Bangunan Night Clup yang berdiri dengan beberapa lantai sekarang tinggal puing- puing yang sebentar lagi mungkin akan runtuh. Pemadam kebakaran dapat menijinakan api setelah dua jam berlalu.Orang di gedung sangat berharap jika api tidak merambat pad bangunan yang berdekatan dengan gedung yang terbakar.
Mungkin doa dari penduduk sekitar yang sering berharap jika Night Clup tidak berdiri diantara mereka. Karena sering mengusik kenyamanan dan ketenangan masyarakat sekitar.
"Jadi Alma sekarang berada di rumah sakit?"
Tanya Dinda pad Tino.
"Ya, dia pergi bersama dosen Rey. Dosen Rey yang membawa Alma dan juga Alex ke rumah sakit."
"Aku mau kita sekarang ke rumah sakit Tin."
"Ya, aku juga bermaksud ke sana sekarang."
Dinda dan Tino akhirnya pergi menuju ke rumah sakit di mana Alex dan Alma berada.
Pasti Alma sangat kwartir, dan pasti juga ia sekarang merasa sangat bersedih dan bingung. Aku memang tidak bisa diandalkan desis Dinda dalam hati.
Mereka telah sampai pada Loby rumah sakit dan bertanya pada perawat yang lagi berjaga.
Perawat dengan ramah menunjukan jalan menuju di mana Alex berada.
Di depan raungan Alex yang sekarang di pindahkan ke ruang ICU. Terlihat Alma dan Rey dengan muka yang lemas duduk menunggu kabar dari tim medis yang bertindak menjalankan operasi untuk Alex.
Lampu di ruangan itu tampak menyala bewarna merah. Itu pertanda operasi sedang berjalan.
"Alma.." Dinda menyapa temannya itu yang terlihat terus menatap ruangan tempat operasi Alex yang belum juga terbuka sampai saat ini.
Alma menoleh dan melihat temannya itu seakan penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah.
"Maafkan aku Alma, maafkan temanmu yang begitu bodoh. Jika saja aku tidak ngotot membawamu pada acara itu. Kejadian mungkin tidak akan seperti ini." Ucap Dinda dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah yang tidak bisa di ungkapkan.
Alma hanya diam. Mulutnya seakan terkunci dengan rapat. Ia tidak mempedulikan yang lain saat ini yang penting adalah kesadaran Uncle nya.
Ia ingin menjawab semua kata-kata Dinda tetapi mengapa lidahnya seakan tidak mampu untuk digerakkan.
"Sudahlah Dinda, kau tidak perlu merasa bersalah. Saat ini kondisi Alma kurang membaik, kita harus memberikannya semnagat dan dukungan. Setiap manusia yang sehat, pasti juga mengalami apa itu sakit. Jadi musibah ini bukan terjadi karena dirimu. Melainkan kau hanya perantaranya saja. Tidak pun Tuan Alex ke Clup saat itu. Ia juga akan mengalami sakit dengan jalan yang lain. Takdir dan perjalanan kita telah di tetapkan dan ditentukan Dinda." Dosen Rey berkata dengan nada bijak.
Dinda menatap pria tampan yang pernah juga menjadi dosennya itu. Ia tidak menyangka jika pria dingin seperti Rey adalah sosok yang bijak dan juga baik hati.
"Yang dikatakan Pak Rey itu sangat benar Dinda." Tino menimpali dan berkata agar suasana tidak lagi hening.
Dinda mendekati Alma yang sedang dalam kondisi diam. Ia memeluk sobatnya itu dengan sangat lama.
"Kau harus kuat, yakinlah dengan pikiran mu jika Alex akan selamat dan akan baik-baik saja."
Dinda berbisik pada telinga sahabatnya itu."
Alma mendengar dengan sangat jelas, tetapi ia sungguh tidak bisa mengeluarkan suara. Gadis itu hanya bisa mengangguk dan mengeluarkan air mata.
"Sebaiknya sekarang kita pulang Din, agar kau juga dapat beristirahat. Hari telah mendekati shubuh. Biar Alma di sini bersama dengan Pak Rey." Ujar Tino pada Dinda.
"Ya, sebaiknya seperti itu. Kau bisa ke sini besok pagi lagi. Temani Alma karena ia pasti sangat butuh teman untuk berbagi." Rey menambahkan ucapan Tino yang dirasanya butuh sedikit penambahan.
"Baiklah Pak Rey aku titip Alma di sini bersama mu." Ucap Dinda yang mulai berdiri dari duduknya.
"Sama-sama Tino, hati-hati di jalan." Dosen Rey mengingatkan.
Sekarang hanya Alma dan juga Rey yang menunggu keajaiban Tuhan akan kesembuhan Alex.
Rey menatap Alma yang mulai terasa mengantuk, ia terlihat sangat letih. Apalagi sekarang telah menunjukan pukul 4 dini hari.
Benar saja, gadis itu tertidur dan bersandar pada tangan kursi yang ada di depan ruang ICU.
Rey tidak sampai hati melihat Alma yang tertidur di ruang tunggu itu. Ia keluar sebentar mengambil bantal kecil yang berada pada dalam mobil miliknya. Tidak lama pria itu mendekati Alma dengan dengan hati-hati memindahkan posisi kepala gadis itu pada bantal kecil yang dibawanya.
"Tidurlah dengan tenang, tenangkan hati dan pikiran mu karena aku disini yang akan menjaga mu dan juga Tuan Alex gumam Rey dengan tersenyum tipis.
Alma masih tertidur, ketika lampu operasi berubah menjadi hijau kembali yang berati operasi telah selesai.
"Keluarga pasien?"
"Ya, saya dokter." Ujar Rey dengan cepat. Ia berdiri dan mendekati dokter.
"Alhamdulilah operasi berjalan dengan lancar, sekarang kita menunggu untuk beberapa saat agar Tuan Alex bisa dipindahkan ke ruang rawat." ujar dokter yang menangani Alex.
"Baiklah kalau begitu dokter, terimakasih banyak tidak terhingga saya ucapkan."
"Sudah menjadi tanggung jawab saya Tuan Rey." Ucap dokter itu sambil memegang bahu Rey dan berlalu dari hadapan pria itu.
Rey kemudian melihat Alma yang masih tertidur pulas. Ia tidak mau membangunkan gadis masih menikmati tidurnya itu.
Biar dia istirahat barang sejenak, telah banyak yang di lalui dan dirasakan oleh gadis itu. Aku berusaha untuk selalu mencintainya walau suatu saat nantinya aku pasti akan kecewa desis Rey dalam hati.
"Keluarga pasien." Ujar salah seorang perawat yang barusan keluar dari ruangan Alex.
"Ya." Ucap Rey dengan cepat.
"Kita akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap. Anda boleh memilih kamar yang mana untuk Tuan Alex." ujar perawat menjelaskan.
"Tentu ruangan yang paling bagus dan VIP."
"Baiklah Tuan, anda boleh membayar separuh dari biaya operasi dan biaya kamar Tuan."
"Dimana ruangan Kasir suster?"
"Di sana Tuan, di ujung sebelah barat dan didekat tangga menuju lantai atas." Sahut suster itu dengan sopan.
"Terimakasih suster."
Pria itu kemudian melangkah pergi dan berjalan dengan sangat cepat. Sebenarnya tubuhnya juga butuh istirahat saat ini. Karena setelah donor darah memang diwajibkan untuk istirahat sebentar dan mengisi tubuh dengan asupan energi dan vitamin agar tubuh kembali vit seperti semula.
Ia hampir saja ambruk berjalan menuju kearah kasir. Jika tidak di topang dengan lengan perawat laki-laki yang baru saja lewat di sana tentu saja ia akan terjatuh.
"Anda baik saja Tuan?" Ucap perawat bertanya dengan heran pada Rey.
"Ya, aku baik-baik saja." jawab Rey dengan datar.