
“Sayang sebenarnya aku berat mengatakan hal ini padamu. Tetapi mau tidak mau aku harus mengatakannya padamu. Ini juga demi kepentingan perusahaan, kau juga tidak mau jika kan yang Perusahaan kita mengalami kemunduran.”
“Tentu saja aku tidak mau.
“Maka dari itu yang, usahakan kondisi kesehatanmu membaik dan dapat pergi ke kantor dengan demikian kepercayaan asisten dan bawahan yang ada di perusahaan tentang posisiku ke depan nanti
akan sangat dimaklumi oleh mereka.”
“Ya, mudahan saja kondisiku membaik besok pagi dan kau tenang saja suamiku.” Amira tersenyum melihat kerutan yang ada di suaminya saat ini.
Aku menunggunya hari esok dengan sangat tidak sabar Amira, tampuk pimpinan akan berada di tanganku dengan segera. Semua keputusan dan pengambilan alih kekuasan akan sangat berlaku esok hari. Hmm..hm aku bena-benar ingin menarik jarum jam dengan secepat mungkin pikir Hamdan dalam hati.
“Kalau begitu, aku akan berangkat lagi ke kantor sayang, kau istirahatlah dengan tenang di rumah. Aku sangat menkwatirkan mu sayangku.” Hamdan tampak mengelus perut Amir yang masih sangat rata dan membelai pucuk kepala perempuan itu.
Perempuan manja itu tersenyum. Hamdan mempersiapkan diri untuk kembali ke kantor. Hatinya terasa senang, semangat 45 terasa dalam pria berwajah tampan itu.
Mobil putih Sport milik pria itu telah sampai di halaman kantor. Kembali membuat mood nya kembali tidak enak, di depannya sekarang. Karyawan perusahaannya yang bernama Indah telah sampai dengan berboncengan motor dengan seorang lelaki.
Yang lebih membuatnya kesal Indah merangkul pinggang lelaki itu dengan mesra. Apakah perempuan itu telah bersuami, atau yang mengantarkan nya itu adalah suami atau pacarnya?
Pria itu dengan segera memarkirkan mobilnya sementara Indah telah hilang di pintu masuk kantor. Perasaan yang tadi bahagia kini berubah menjadi mood yang tidak baik, ah mengapa aku mesti ambil pusing. Mau istri atau pacar orang sekaligus yang jelas wanita itu akan ku buat tidur di ranjang panas ku kelak aku tidak peduli desisnya dalam hati. Ia telah sampai di ruangan wakil direktur dan sedikit menghempaskan pantatnya dengan kasar di kursi kebesarannya.
Sementara itu di ruangan Indah. Mereka telah selesai istirahat makan dan salat bagi mereka yang beragama muslim.
“Indah.”
“Ya,bu.”
Indah menghadap kepala ruangan.
Ia melewati beberapa karyawan yang juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
“Indah, ini ada berkas rekab penjualan dan pemasukan produk kita selama 2 bulan terahir. Segera berikan pada Pak Hamdan dan minta tanda angan sebagai bukti dari hasil produk yang terjual dan dan pemasukan.”
“Ya,Bu.”
“Tunggu penandatangan itu selesai, karena itu rekap untuk pengambilan gaji kalian pada bulan ini. Setelah ditandatangani serahkan pada ruangan keuangan. Kau paham Indah!”
“Paham, Bu pergilah.”
Indah bergegas keluar dari ruangan Bu Sandra, sambil membawa beberapa Map berwana coklat.
“Senyum sedikit ya sayang, untuk Pak Hamdan. Biar tanda tangannya segera didapat dan kita semua akan segera gajian.” Ledek teman sejawat Indah yang tidak jauh posisinya dari sudut ruangan dengan bibir agak mengerucut.
“Awas ya kakak setelah ini.” Cibir Indah lagi.
Indah telah sampai pada ruangan wakil Direktur. Ia menarik nafas dalam.
Ada rasa segan, takut juga bersarang pada hati kecil Indah. Sosok itu terlihat dingin dan juga sangat acuh. Tetapi ia merasa lelaki itu tadi pagi begitu memperhatikannya. Ah, apakah itu perasaannya saja.Yang jelas saat ini ia harus mendapatkan tanda tangan dengan segera. Agar, karyawan yang berada pada ruangannya akan mendapatkan gaji hari ini.
Tok
Tok
“Permisi pak, ini berkas hasil dari rekap penjualan dan pemasukan 2 bulan terahir yang harus bapak tandatangani.”
Hamdan melirik perempuan itu, perempuan yang membuat dadanya kembali bergetar.Melihat karyawan cantik yang berkulit putih bersih di tambah dengan baju kemeja yang dipakainya. Sangat pas pada bagian dada. Sehingga gundukan padat itu terlihat sangat jelas tergambar. Ia segera membuang pikiran kotor dengan cepat. Sikap dingin dan acuh segera ia tampilkan.
“Baiklah, kau boleh pergi.” Ia tidak melihat Indah sama sekali.
“Hmm, tapi pak, bolehkah kami meminta untuk tanda tangannya sekarang pak. Karena itu dalah syarat untuk pengajuan gajian kami hari ini.” Indah tertunduk dengan sangat takut.
Hamdan melirik perempuan itu dengan sangat gemas. Ia sengaja menyuruh Indah pergi dengan segera. Agar, bisa menetralkan pikirannya dengan jernih. Ah, perempuan itu masih tetap berdiri di sana seolah menantang nafsunya.
"Silahkan duduk."
Indah kemudian duduk tepat di depan meja wakil Direktur itu. Ia tidak bisa menatap lama pada lelaki berwajah tampan di depannya. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Sementara itu Hamdan meninggalkan berkas yang lain dan melihat berkas dan rekap yang diberikan Indah padanya.
"Siapa yang mengetik rekap penjualan seperti ini, tidak jelas mana jumlah barang per bulan yang masuk dan terjual semuanya tidak rapi dan tidak jelas. Begitu juga dengan iatem barang semua terlihat keliru!"
Indah hanya terdiam. Bukan dia yang mengerjakan file itu tetapi pastilah ia yang bertanggung jawab saat ini. Karena file itu adalah file ruangannya.
"Pergilah, dan panggil Bu Sandra ke ruangan.!"
Keringat dingin membanjiri tubuh Indah. Betapa pria itu menatap dingin dan sangat acuh padanya.
"Permisi Tuan."
Indah pergi dengan helaan nafas panjang pada Hamdan. Tetapi mau bagaimana lagi, rekap yang diberikan bawahannya terasa Jo kacau dan amburadul.
Indah telah sampai di ruangan. Semua mata karyawan menuju padanya.
"Indah, bagaimana telah dapat tandatangan dari pak Hamdan, ya kita gajian bearti hari ini." Seru beberapa karyawan yang menyambut kedatangan Indah.
Indah hanya melewati mereka yang lagi sibuk dengan perasaan sangat gusar menuju ruangan Bu Sandra.
"Bu Sandra."
"Ya Indah, bagaimana sudah dapat tandatangan tuan Hamdan.?"
"Bu Sandra dipanggil oleh Tuan Hamdan untuk menghadap ke ruangannya bu sekarang juga.!"
"Ada apa Indah."