
Hari ini adalah hari terakhir para kru dan pimpinan Perusahaan melihat lokasi Proyek yang ada di Milano. Sebuah daerah yang mulai berkembang padat dengan penduduk yang mempunyai ekonomi yang berada pada kalangan atas.
"Apa saran mu Dino sebagai arsitek yang handal dalam menangani pembangunan Hotel Brahmajaya?"
Hamdan bertanya pada asisten Dino dan juga para ahli yang sama-sama melihat kondisi terakhir pembangunan proyek yang hampir bisa dikatakan selesai, karena besok pagi mereka akan kembali ke Kota pusat.
"Saran saya Tuan, sebaiknya kita juga melakukan aktivitas sedikit ketat terhadap kinerja para pekerja bangunan. Untuk mencapai hasil maksimal kita bisa menambah beberapa orang mandor lagi. Jika saya teliti ulang, bangunan hotel ini seharusnya telah selesai 3 bulan yang lalu." Ujar Dino menegaskan.
"Dan bagaimana dengan staf ahli yang lain?"
Hamdan kemudian bertanya pada staf ahli yang sama-sama berada di sana.
"Menurut pendapat saya juga demikian Tuan, harus ada pengawasan yang sangat ketat dalma pembangunan ini, kemaren saya melihat lokasi pada belakang bangunan banyaknya sisa semen yang menumpuk tidak diambil ulang dan satu lagi Tuan tembok bangunan pembatas telah mulai retak, padahal belum satu bulan tembok itu selesai. Kemungkinan pekerja bekerja hanya ingin cepat selesai tanpa memperhatikan hasil yang akan didapat."
"Baiklah, aku mendengarkan saran dari kalian semua. Sekarang kita akan beristirahat untuk hari ini, kalian bebas untuk mengelilingi kota Milano."
"Baik Tuan," Mereka terlihat sangat lega.
"Besok kita akan kembali pada kantor pusat jam sembilan pagi, untuk itu pergilah jika ingin membeli sesuatu untuk keluarga kalian." Hamdan menatap mereka untuk sejenak dan Indah yang juga berdiri di sana.
"Kalau begitu, kami permisi Tuan." ucap beberapa karyawan dan asisten yang berada di sana termasuk Indah dan Bu Sandra yang membalikan punggung mereka dan akan meninggalkan Hamdan.
"Bu Sandra,"
"Ya, Tuan."
"Maaf jika aku memberikan mu tugas sedikit lagi sebelum anda pergi.!"
Sandra yang tadi terlihat ingin melangkahkan kaki bersama Indah dan asisten lain terpaksa menghentikan langkahnya. Dengan berhentinya langkah kepala ruangan itu otomatis sang asisten pun ikut menuruti juga langkah henti Sandra.
"Laporan yang anda berikan tempo hari Bu Sandra, tentang Mini Market yang bagun selesai di bangun rasanya kurang akurat. Sebaiknya anda cek kembali bersama Ramses."
"Baik Tuan, saya akan kesana sekarang." Sandra kemudian menarik tangan sang Asisten Indah untuk ikut bersamanya.
"Bu Sandra, saya menyuruh anda bersama Ramses. Bukan bersama Indah.!" Hamdan terlihat gusar Sandra membawa Indah pergi dari hadapannya.
"Ooh, maaf." Sandra kemudian melepaskan tangan Indah dan mohon pamit.
Sekarang hanya tinggal Indah berdua dengan pemimpin perusahaan yang tampan itu. Pria itu menatap lekat pada sosok perempuan yang berada dihadapannya saat ini.
Indah mengikuti langkah panjang pria itu dengan cepat. Ia sungguh agak sedikit mempercepat langkahnya kalau tidak mau tertinggal dengan lelaki yang tadi seakan tidak peduli padanya.
Hari telah menunjukan jam 11 siang, terlihat Indah mulai kelelahan mengikuti semua perintah atasannya itu. Ia mencatat semua hal yang kurang dan harus dilengkapi pada interior dalam ruangan.
Tetapi apa yang hendak dikata, ini adalah sebuah perkejaan. Apa pun yang harus dikatakan dan oleh sang Penguasa para asisten tidak bisa berbuat banyak, selain menurut.
"Indah," Hamdan melihat perempuan itu telah mulai terlihat lelah.
"Ya, Tuan."
"Aku memberikan waktumu untuk istirahat dan minum selama lima menit, setelah itu masih ada sedikit lagi pekerjaan di lantai atas setelah itu kau boleh bergabung lagi dengan kru yang lain."
"Baik Tuan," Indah kemudian sedikit menjauh dari tempat di mana Hamdan berdiri bersama para pekerja yang memasang wallpaper di ruang pertemuan Hotel.
Indah meraih tas ransel kecil, yang biasa ia bawa. Di dalam ransel itu terdapat minuman mineral dan beberapa bungkus roti.
Ia menikmati minumannya dan sepotong roti untuk mengobati haus dan sedikit lapar.
lima menit telah berlalu, benar saja Hamdan kemudian memanggilnya kembali.
"Ayo, Indah kita ke lantai atas. Kita akan melalui lif khusus di sini." Hamdan menunjuk jalan yang akan mereka lalui.
Hotel yang sangat megah, begitu banyak ruangan dan tentunya ratusan kamar. Dengan desain perpaduan nuansa eropa dan timur membuat siapa saja yang kelak singgah pada hotel itu tentu akan merasa sangat nyaman.
Indah dan penguasa Brahmajaya Graup itu lalu masuk pada jalur khusus. Mereka telah masuk pada lantai teratas hotel itu. Di lantai paling atas adalah di mana terdapat ruangan presiden suite.
Ruangan itu sengaja di selesaikan dengan cepat, karena menurut yang Hamdan dengar. Mendiang Teguh memberikan perintah agar menyelesaikan dengan segera. Karena sewaktu-waktu bisa saja ia ingin melihat kondisi hotel yang di bangun dan beristirahat barang sejenak di sana.
Hamdan membuka pintu kamar Presiden Suite dan menarik tangan Indah untuk memasukinya.
Perasaan tidak enak mengalir pada pikiran perempuan cantik itu.
"Tuan, mengapa kita mesti ke dalam ruangan ini?" Indah berusaha untuk bertanya ketika Hamdan telah menekan tombol remote pintu. Dan tentu saja dengan otomatis pintu pun terkunci.
*Bersambung*