
Sekarang tinggal Alex yang sedang menunggu Alma yang masih belum juga terlihat sadar.
Rey kembali mendekati gadis kecilnya itu, gadis kecil yang sekarang telah dewasa. Ia tertidur dengan sangat pulas. Alex terus menatap lekat entah apa yang ada di pikiran pria itu saat ini.
"Walaupun dalam tidur kau terlihat sangat cantik, kau tidak pantas denganku gadis kecil. Yang pantas adalah Rey, biarlah kau tetap seperti gadis kecilku yang manis. Kau akan selalu berada dalam hatiku, walau nanti ku tak akan lagi berada di dekatmu."
Pria itu lalu membelai pipi mulus Alma dengan lembutnya mengecup kening itu lalu merapikan anak rambut gadis itu.
Perlahan Alma mulai mengerakkan tangan dan membuka matanya. Ah, ia benar-benar merasa sangat asing saat ini, gadis itu kembali mencoba mengingat apa yang barusan saja terjadi.
Sekarang ia mengingat sesuatu, tadi ia baru saja pergi ke pantai bersama Rey. Ia memang melanggar pantangannya sewaktu kecil. Ia tidak di perbolehkan oleh Sang Uncle untuk bermain ke sana tepatnya saat berusia 10 tahun. Tetapi ia begitu rindu akan suasana itu dak memaksa Rey untuk mengantarkannya ke sana.
Up.. sekarang lihatlah di depannya saat ini, ia sang Uncle berdiri dekat pembaringan dan menatap Ia dengan sangat lekat.
"Uncle.." lirihnya dengan sendu.
Alex kemudian sejenak memalingkan muka.
Hening menerpa keduanya, sebenarnya Alex ingin memeluk erat gadis kecilnya tetapi ia harus menunjukan sikap saat ini, Alma bukan lagi gadis kecil yang harus di manja seperti dulu, gadis sebentar lagi akan menikah dan punya tanggung jawab terhadap dirinya sendiri juga suaminya.
Alma kemudian berusaha untuk duduk dari posisinya berbaring. Dan itu juga tidak luput dari pandangan Tuan tampan itu.
Alex kemudian dengan cepat membantu Alma dari posisinya.
"Uncle maafkan aku." Alma kembali bersuara di sela-sela Alex membantunya.
"Sudahlah, jangan berlebihan." Terdengar suara Alex kembali datar.
"Bagaimana dengan keadaan mu saat ini?"
Ya, Uncle benar-benar marah saat ini, lihat saja ia terlihat dingin dan datar dari nada suaranya.
"Aku merasa sangat baikan dan ingin pulang." Jelas Alma dengan suara yang di tekuk dan posisi kepala yang menunduk.
"Syukurlah kalau begitu, sebentar lagi Rey datang dan ia tadi pulang dan menganti pakaiannya yang basah."
"Tapi tidak kah, Uncle tetap di sini walaupun Rey datang?"
Alma sangat berharap jika Alex tidak pergi, walaupun Rey nanti juga akan segera datang dan menemani gadis itu.
"Uncle ada urusan, jadilah diri yang lebih baik, karena kamu bukan lagi gadis kecil, kamu akan bertanggung jawab atas dirimu sendiri dan keluargamu."
"Ya, aku paham. Tapi..Uncle tetap di sini ya, aku mohon." Ucap gadis itu dengan memelas.
Alex yang melihat Alma yang memelas, tidak bisa untuk menunjukkan rasa egonya lagi. Ia ingin cepat keluar jika saja nanti Rey akan datang. Tetapi tidak untuk saat ini.
"Baiklah, Uncle akan menemanimu."
Wajah berbinar terbesit pada wajah cantik yang sekarang sedang tersenyum pada Alex.
"Ya, aku sangat lapar Uncle, maukah Uncle memesan kan ayam bakar kesukaanku?"
"Baiklah, aku akan memesankan menu kesukaanmu."
Alex mengambil sesuatu tang ada di dalam saku celananya. Ia menghubungi seseorang.
Sambil menunggu pesanan datang, kelihatan Alma memang benar-benar telah sehat saat ini, ia dengan sangat riang bercengkrama pada Alex.
Tidak lama, pesanan menu kesukaan Alma pun datang. Dengan sangat tidak sabaran ia sangat ingin cepat melahap ayam bakar kesukaannya itu. Karena sedari tadi perut berbunyi tiada henti.
"Makanlah, ini ayam bakar kesukaanmu untuk saja Restoran itu belum tutup saat ini." Alex memberikan Nampan yang berisi Nasi putih beserta sayur ditambah dengan ayam bakar yang masih terasa sangat panas.
"Uncle, tolong bantu aku, bagaimana aku bisa makan. Jarum infus ini sangat menganguku!" keluh Alma sambil melirik selang infus yang masih saja terpasang pada tangan kananya.
"Oh, baiklah. Uncle sampai lupa."
Mau tidak mau dan suka atau tidak, terpaksa Alex menyuapi Alma yang sangat lapar saat ini.
"Uncle, sudah makan belum?" Di sela makan dan mulut berisi Alma sampai masih bisa bertanya pada orang yang dengan tekun menyuapi dirinya saat ini.
"Dengan melihatmu makan dengan sangat lahap seperti ini, rasanya telah membuat perutku kenyang." Kekeh Alex.
"Uncle, bisa aja, jadi besok-besok suapi aku terus ya Uncle, biar Uncle tidak lapar dan selalu kenyang dan dan itu adalah penghematan biaya." Alma kembali mulai sedikit usil.
"Memang kamu gadis kecil kemarin sore, di pasangkan baju, di sisir rambut dan di pasangkan lagi sepatu?"
Sejenak Alma terdiam tetapi tetap mengunyah ayam bakarnya dengan suapan terakhir tanpa sisa.
"Ya, aku gadis kemarin sore Uncle, dan aku ingin terus selalu bersamamu!" Ucap Alma lirih.
Tetapi ucapan itu, tentu saja terdengar oleh Alex dan ia merasa sangat terkejut dengan pernyataan gadis itu.
Alex seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Alma. Ia dengan lembut membersihkan sisa makanan dan nasi yang menempel di sudut bibir gadis itu dengan sangat lembut.
Hembusan nafas dengan jarak yang sangat dekat membuat mereka seakan saling tatap. Ada getaran yang sangat aneh melanda keduanya.
Tetapi kemudian dengan santai Alex mulai kembali berkelakar dan menjahili Alma.
"Kurasa sedari tadi kau tidak sakit sakit gadis kecil, lihatlah saja makan mu banyak habis tanpa sisa. Apa ada orang sakit dengan makan sebanyak itu.?"
"Awas saja jika nanti aku sehat dan pulang, tunggu saja pembalasan ku..!" Sungut Alma dengan wajah kesal dengan mengerucut.
Di balik kaca jendela rumah sakit, rupanya sedari tadi Rey telah datang. Ia tidak berniat masuk. Baginya masuk saat Alma sedang di suapi Alex sama saja seperti menganggu.
Apa yang ada dipikiran Rey saat ini seperti tidak terbaca, ia hanya menunggu setelah Alma selesai makan.
Apakah memang Cinta itu buta? tidak memandang status, usia kaya atau miskin yang jelas sangat merasa damai berada di dekat orang-orang yang kita cintai.