
Pria itu lalu mendekati Alma yang terlihat sangat takut. Sungguh trauma yang tidak berujung ia juga harus takut pada suami dari mama tirinya itu. Hamdan yang menyadari akan hal itu langsung menyapanya.
“Apa kabarmu Alma, apa ada yang terasa tidak nyaman?”
Gadis kecil berparas cantik itu hanya menundukan kepala, ia tidak mampu untuk menjawab perkataan Hamdan. Bi Ana yang melihat Alma yang sedari takut mendekati dan menyentuh lengan kanan Alma dengan lembut.
“Sayang, tuan bertanya padamu. Ayo, jawab tidak perlu takut. Dia tidak seperti yang kau bayangkan.” Asisten itu berkata dan membujuk bocah kecil yang terasa sangat ketakutan.
“Aku, baik-baik saja tuan.” Gadis kecil itu sebentar melihat pada Hamdan kemudian kembali menundukan mukanya.
“Syukurlah kalau begitu, apa kau sudah makan.”
“Aku sudah makan tuan, baru saja.” Alma kembali menatap Bi Ana dan kemudian beralih pada Hamdan yang terus menatapnya.
“Baguslah kalau begitu, jangan panggil aku tuan. Kau bisa memanggilku dengan sebutan uncle.” Hamdan masih tetap berdiri di samping ranjang rawat alma dan menatap lembut gadis
Gadis kecil berambut panjang itu lalu kembali menatap pada asistennya, Bi Ana kemudian memberi isyarat dengan menganggukan kepalanya.
“ya, baik e tuan, mm.. Uncle.” Yamdan yang melihat alma sangat kikuk tersenyum senang.
“Jangan pernah takut gadis kecil, kita sekarang akan berteman. Cepatlah sembuh dan pastinya nanti kita akan bermain sangat lama. Makan yang banyak dan jangan lupa juga minum vitamin dan obat yang diberi dokter.”
Hening di ruang rawat Alma, gadis itu belum sepenuhnya bisa untuk menerima Hamdan yang notabene adalah suami ibu tirinya itu. Dan itu juga sangat dimaklumi oleh pria tampan yang sekarang menjabat sebagai Ceo di Perusahaannya.
“Bi Ana apakah Ramses pagi tadi datang ke rumah sakit ini?”
“Ya, ia tadi pagi datang ke sini, lihat tuan itu yang dibawa olehnya.” Bi Ana menunjuk buah-buahan yang cukup banyak dan tidak lupa juga roti berbagai merk yang sangat lezat ada di pojok ruangan
.
“Baiklah kalau begitu, berarti Ramses mengikuti semua perintah yang kuberikan padanya!”
“Terimakasih banyak tuan.” Bi ana berkata dengan sangat terharu.
“Terimakasih untuk apa Bi?” Hamdan menoleh pada perempuan itu.
“Terima Kasih, untuk telah berbaik hati membawa Alma ke rumah sakit dan membayar semua keperluannya, dan terima kasih juga untuk mengutus Ramses yang pagi ini membawa semua buah dan makanan untuk Alma tuan.” Air mata asisten paruh baya itu tidak mampu menahan lagi dengan rasa terharu dengan sangat dalam.
Sejenak Hamdan terpana dengan kata-kata yang baru saja di samapi Bi Ana padanya. Kemudian lelaki tersenyum bijak, seakan sisi buruk yang ia punya tidak kelihatan sama sekali.
Bi Ana yang mendengar kata bijak dari mulut tuannya itu seakan begitu terkejut dan merenung, betapa tidak belum menjadi suami nyonya besarnya itu, setiap saat dan dapat setiap waktu mereka tanpa rasa malu mengerang kenikmatan tanpa rasa malu sedikitpun semetaradi rumah besar itu buka hanya bi Ana yang ada, beberapa asisten dan saptam juga ada di sana. Oleh karena itu Bi ana berpikir juga sanga negatif tentang kepribadian lelaki tampan yang berada di dekatnya saat ini.
“Sudahlah Bi Ana, jangan termenung terlalu lama. Jaga Alam baik-baik, jika ada sesuatu keperluan telepon saja. Gadis kecil, uncle berangkat cepat sembuh ya.”
Hamdan kemudian mendekati alam yang sedang mematung dan berdiam dari tadi mendengar penuturan orang asing yang baru saja masuk pada rumahnya. Ia membelai rambut gadis kecil itu dan kemudian berlalu.
Gadi kecil yang baru saja mendapat sentuhan lembut pada ujung kepalanyanya itu terdiam tanpa menolak sentuhan hangat seorang Hamdan.
“Terimakasih Uncle.” Gadis kecil itu memberanikan diri untuk melihat dan menatap punggung lelaki yang hendak meninggalkan ruangan. Lelaki itu membalikan badan dengan sebentar kepada Alam dan senyum tipis kembali terlukis di wajahnya.
Sementara Amira telah sampai pda rumah besar berwarna Maron dengan perasaan yang sangat senang, ia diperlakukan dengan sangat lembut oleh suami tampannya. Ia melangkah ke dalam ruangan terdapat beberapa asisten dengan hormat menyapa nyonya besar itu.
“Apakah nyonya butuh sesuatu,” sapa asisten bernama Mala.
“Rasanya belum saat ini, man Bi Ana. Ia adalah kepala pelayan di sini?”
“Bi Ana, di rumah sakit, karena non Alma sedang dirawat di sana Nyonya.”
“Hmm..Hmmm. Cengeng sekali bocah itu, mengapa mesti harus dirawat. Makan obat warung juga nanti bisa sembuh. Menghabiskan biaya saja."
“Maaf nona, tetapi ini adalah perintah dari tuan Hamdan, jadi kami tidak bisa membantahnya.” Ucap Mala menambahkan.
“Siapa yang berani menyuruhmu bicara, sana pergi aku malas melihat mukamu lama-lama disini.!”
Asisten bernama Mala itu lalu meninggalkan Amira yang lagi berdiri di ruang Tengah. Ia melangkah kembali ke dalam ruang dapur yang masih banyak pekerjaan yang akan diselesaikannya. Kalau orang kaya umumnya seperti ini bebas berbuat apa saja dengusnya dalam hati.
Hamdan telah tiba kembali pada perusahaan yang baru dimilikinya saat ini, berkutat pekerjaan telah menunggunya. Ia harus siap menghadapi semua kemungkinan yang ada. Mungkin saja tidak semua orang kan mendukung dan tidak semua orang juga yang tidak senang padanya. I
I
a harus sangat berhati-hati untuk ini semua.
Setengah jam baru saja ia melepaskan lelah dan meneliti semua pekerjaan. Twrdengar seseorang mengetuk pintu ruangan.
Tok
Tok
‘Masuk.”
Terlihat indah di depan pintu dengan membawa Map kemarin, hasil Rekap yang belum Tuntas.”
“Maaf tuan, Ini berkas yang kemarin telah direvisi ulang.” Ia berkata sambil menundukan muka dan menatap ujung sepatunya.
Entah mengapa darah Hamdan kembali berdesir melihat perempuan cantik itu kembali masuk pada ruangannya.
Apa yang harus dilakukan nya pada perempuan itu? Haruskah ia merengkuhnya kembali dan mengungkung perempuan itu agar memenuhi hasratnya. Sejenak pikiran kotor mulai kembali merayap diruang hati Hamdan ketika melihat betis jenjang Indah yang begitu padat dan berisi.
"Saya harap, bisa mendapatkan tanda tangan dengan segera Tuan, agar teman-teman yang ada di ruangan hari ini bisa menerima gaji." Perempuan itu sejenak melihat pria tampan yang berada di depannya saat ini. Pandangan keduanya bertemu, Hamdan berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekati Karyawan cantik itu.